Info Sehat

Cara Menambah Tinggi Badan untuk Segala Usia, Begini Langkah-langkahnya!

August 23, 2020 | Muhammad Hanif S. | dr. Raja Friska Yulanda
no-image

Memiliki tubuh ideal adalah impian bagi kebanyakan orang. Bukan hanya berat badan, tapi juga tingginya. Belakangan ini, tak sedikit orang yang melakukan berbagai cara menambah tinggi badan untuk memperbaiki postur.

Bagaimana cara menambah tinggi badan yang efektif untuk anak-anak, remaja, dan orang dewasa? Yuk, simak ulasan lengkapnya berikut ini.

Baca Juga: Ini 10 Cara Menambah Tinggi Badan Anak yang Perlu Diketahui Bunda

Cara menambah tinggi badan pada anak-anak

Usia 0 hingga 12 bulan merupakan masa pertumbuhan terbaik pada anak-anak. Mengutip Kids Health, pertumbuhan tinggi badan bisa mencapai 25 sentimeter pada satu tahun pertama kehidupan.

Setelah periode tersebut, pertumbuhan akan menjadi lebih lambat. Tinggi badan mungkin akan bertambah enam sentimeter setiap tahunnya hingga memasuki usia remaja. Jangan khawatir, ada beberapa cara menambah tinggi badan untuk buah hati tercinta, di antaranya:

1. Istirahat yang cukup

Tidur merupakan salah satu cara menambah tinggi badan yang paling mudah dilakukan. Queensland Health menjelaskan, saat sedang tertidur, kelenjar pituitari di otak akan melepaskan hormon pertumbuhan.

Agar proses tersebut berjalan dengan lancar, pastikan buah hati tercinta mendapatkan tidur yang berkualitas. Berbeda dengan orang dewasa, anak-anak memerlukan durasi tidur lebih lama, yaitu 10 hingga 12 jam.

Baca juga: Ingin Menaikkan Berat Badan Anak? Coba Konsumsi 5 Jenis Makanan Ini

2. Makanan bergizi

Cara menambah tinggi badan pada anak berikutnya adalah memerhatikan asupan makanan. Berikan makan-makanan yang kaya akan protein, seperti ikan dan daging tanpa lemak.

Menurut sebuah studi yang terbit pada The Journal of Nutrition, anak-anak yang mendapat asupan protein mencukupi mempunyai pertumbuhan lebih baik ketimbang yang tidak memperolehnya.

3. Olahraga teratur

Sempatkan waktu untuk mengajak anak melakukan olahraga ringan, seperti jalan kaki atau bersepeda. Olahraga teratur bisa membantu mengoptimalkan masa pertumbuhan anak dan mencegahnya mengalami obesitas. Dorong terus si kecil untuk selalu bergerak aktif.

Cara menambah tinggi badan pada remaja

Masa remaja adalah peralihan dari anak-anak menuju dewasa. Pada perempuan, pubertas dimulai antara usia 8 hingga 13 tahun. Sedangkan pada laki-laki, 10 hingga 13 tahun.

Kids Health mendefinisikan remaja sebagai ‘masa perubahan dramatis’. Artinya, perkembangan pada beberapa bagian tubuh akan terjadi, salah satunya adalah tinggi badan. Tinggi badan juga bisa dipengaruhi oleh beberapa hal, seperti:

1. Olahraga yang tepat

Cara menambah tinggi badan dengan yoga
Posisi cobra dalam yoga. Sumber foto: www.owmbuffalo.com

Salah satu cara menambah tinggi badan pada remaja yang paling efektif adalah dengan berolahraga. Bukan sembarangan, olahraga yang dilakukan berfokus pada latihan peregangan otot, misalnya basket dan renang. Dengan begitu tubuh bisa terlidah lebih bugar.

2. Jaga berat badan ideal

Seperti yang telah disebutkan, remaja adalah ‘masa perubahan dramatis’. Banyak perubahan-perubahan tubuh yang akan terjadi, termasuk kemungkinan obesitas. Jika ini terjadi, proses pertumbuhan dapat terganggu.

Sebuah publikasi di Perpustakaan Kedokteran Nasional Amerika Serikat memaparkan, pada dasarnya, tanpa melakukan apapun, tubuh pada usia remaja akan tumbuh secara alami hingga batas maksimalnya.

Hanya saja, obesitas dapat menghambat proses perkembangan tersebut. Jadi, tetap pertahankan berat badan ideal agar proses pertumbuhan tidak terganggu, ya.

Baca juga: Cara Menghitung Berat Badan Ideal yang Harus Kamu Ketahui

Cara menambah tinggi badan pada orang dewasa

Posisi duduk yang benar bisa perbaiki postur. Sumber foto: www.physioroom.com

Sebagian orang dewasa mungkin kurang puas dengan postur tubuhnya yang tidak terlalu tinggi. Sayangnya, menurut Medical News Today, setelah berusia 18 tahun, tubuh sudah berhenti mengalami masa pertumbuhan.

Pada saat akhir pubertas, perubahan hormonal menyebabkan ‘lempeng pertumbuhan’ mengeras, sehingga membuat tulang tak bisa lagi ‘memanjang’. Hampir tak ada teknik atau olahraga peregangan khusus yang benar-benar bisa membuat tubuh orang dewasa menjadi lebih tinggi.

Bagaimana dengan obat peninggi badan yang marak diperjualbelikan? Hingga saat ini, belum ada penelitian ilmiah yang bisa membuktikan efektivitas obat-obatan tersebut.

Hal yang bisa kamu lakukan adalah memperbaiki postur tetap tegap dan tidak bungkuk. Mempertahankan postur tubuh yang baik akan menjaga jarak antar tulang belakang, sehingga membuat seseorang akan terlihat lebih tinggi. Beberapa caranya adalah:

  • Posisikan bahu berada di belakang
  • Jaga agar kepala tetap sejajar dengan tubuh
  • Tempatkan kaki selebar bahu
  • Tarik perut ke arah tulang belakang
  • Terapkan postur duduk yang baik
  • Hindari menyilangkan kaki
  • Saat duduk, sesuaikan tinggi kursi hingga paha membentuk garis yang sejajar dengan lantai.

Nah, itulah cara menambah tinggi badan pada anak-anak, remaja, dan orang dewasa yang perlu kamu tahu. Yuk, mulai perhatikan kebiasaan sehari-hari agar postur tubuh tetap terjaga!

Jangan ragu untuk konsultasikan masalah kesehatanmu bersama dokter terpercaya melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Mitra dokter kami siap memberi solusi. Yuk, download aplikasi Good Doctor di sini!

Reference

  1. KidsHealth.org, diakses 15 Agustus 2020, Growth and Your 13- to 18-Year-Old.
  2. KidsHealth.org, diakses 15 Agustus 2020, Your Child’s Growth.
  3. Healthline, diakses 15 Agustus 2020, Is It Possible to Increase Your Height After 18?
  4. Medical News Today, diakses 15 Agustus 2020, Can Adults Grow Taller?
  5. Queensland Health, diakses 15 Agustus 2020, 7 amazing things that happen to your body while you sleep.
  6. National Center for Biotechnology Information (NCBI), diakses 15 Agustus 2020, Update on statural growth and pubertal development in obese children.
  7. The Journal of Nutrition, diakses 15 Agustus 2020, Increased Height Gain of Children Fed a High-Protein Diet during Convalescence from Shigellosis: A Six-Month Follow-Up Study.

    Berita Terkait
    register-docotr