Kesehatan Anak

Faltering Growth Jangan Diabaikan, Waspadai Dampak yang Bisa Ditimbulkan!

October 28, 2021 | Muhammad Hanif S. | dr. Raja Friska Yulanda
feature image

Faltering growth adalah kondisi yang patut diwaspadai oleh setiap orang tua, karena bisa menghambat perkembangan anak untuk tumbuh optimal. Selain itu, kondisi tersebut juga bisa berdampak pada banyak aspek lain dalam kehidupan si Kecil, baik jangka pendek maupun panjang. Apa saja? Yuk, simak ulasan lengkapnya berikut!

Faltering growth, atau juga disebut dengan failure to thrive, adalah kondisi gagal tumbuh pada anak yang ditandai dengan melambatnya peningkatan berat dan tinggi badan. Menurut sebuah publikasi, kasus faltering growth kerap terjadi pada 15 bulan pertama kehidupan, dengan risiko tertinggi usia 3 sampai 12 bulan.

Efek yang bisa ditimbulkan

Faltering growth bukan masalah sepele. Menurut penelitian, jika berubah menjadi stunting, kondisi gagal tumbuh pada anak bisa bertahan hingga beranjak dewasa. Bukan hanya fisik, faltering growth dapat berpengaruh pada aspek lainnya dalam diri si Kecil, baik bersifat jangka pendek maupun panjang.

Dampak jangka pendek

Seperti yang telah disebutkan, faltering growth tidak hanya bisa berdampak pada fisik saja, tapi aspek lain. Salah satunya adalah kemampuan otak. Penelitian oleh sejumlah ilmuwan dari University of Maryland Baltimore County menyebutkan, ada risiko kerusakan pada bagian otak yang berfungsi dalam hal kecerdasan akibat kondisi faltering growth.

Hal yang sama juga diungkap oleh studi lain, kondisi gagal tumbuh dapat meningkatkan risiko gangguan perkembangan kecerdasan hingga berpotensi mengurangi kemampuan belajar anak di sekolah.

Dampak jangka panjang

Dampak jangka panjang adalah efek yang bisa bertahan cukup lama, bahkan ketika anak sudah beranjak dewasa. Tentu saja, hal tersebut dapat memengaruhi kualitas hidupnya, terutama dalam beraktivitas di lingkungan sekitar. Berikut adalah beberapa dampak jangka panjang yang bisa muncul:

Gangguan kognitif berkepanjangan

Bukan hanya jangka pendek, melambatnya perkembangan otak pada anak dengan faltering growth dapat bertahan dalam waktu yang panjang. Saat masih balita, anak dengan kondisi gagal tumbuh mungkin menunjukkan gejala seperti sulit bicara atau jarang beraktivitas layaknya anak seusianya.

Di usia empat hingga enam tahun, anak dengan kondisi gagal tumbuh berpotensi mengalami penurunan IQ hingga 4,2 poin, jika dibandingkan anak lain dengan asupan nutrisi seimbang. Gangguan kognitif yang terjadi berkepanjangan juga bisa ditandai dengan:  

  • Tidak mampu untuk mengingat sesuatu
  • Rasa ingin tahu yang kurang
  • Sulit memahami aturan sosial atau konsekuensi dari sebuah perilaku
  • Tidak mampu untuk berpikir secara logis
  • Perilaku yang terus kekanak-kanakan hingga usia prasekolah dan sekolah
  • Kurangnya keterampilan yang adaptif.

Perkembangan fisik di bawah standar

Perkembangan fisik yang melambat adalah cara paling mudah untuk mengetahui apakah anak mengalami faltering growth atau tidak.Mulai dari memantau berat dan tinggi badan hingga ukuran lingkar kepalanya. Sayangnya, jika dibiarkan, kondisi tersebut bisa berubah menjadi stunting, berpotensi bertahan hingga tumbuh dewasa.

Perkembangan fisik yang terganggu akan berdampak pada kemampuan motoriknya. Anak akan menjadi lebih sulit untuk bergerak atau melakukan sesuatu. Anak juga berisiko mengalami obesitas dalam jangka panjang.

Saat memasuki usia remaja, kondisi faltering growth dapat memperlambat proses pubertas. Beranjak dewasa, perkembangan fisik yang berhenti dikaitkan dengan banyak gangguan kesehatan, seperti kanker, penyakit paru-paru, sirosis, penyakit kardiovaskular, stroke, dan penyakit kronis lainnya.

Penyakit anemia

Seperti yang telah disebutkan, kondisi gagal tumbuh erat kaitannya dengan gangguan kesehatan, salah satunya adalah anemia. Anemia merupakan kondisi saat tubuh kekurangan sel darah merah. Menurut studi yang terbit di Iranian Journal of Pediatric Hematology Oncology, pola makan buruk atau malnutrisi adalah faktor pemicu anemia, yang juga diketahui sebagai penyebab utama faltering growth.

Anemia yang tidak terkendali bisa memperburuk perlambatan pertumbuhan. Anemia dapat menyebabkan kondisi seperti mudah lelah dan lemah, kulit pucat, detak jantung tak beraturan, sesak napas, pusing, sakit dada, serta tangan dan kaki dingin.

Apa yang harus dilakukan?

Malnutrisi adalah faktor tertinggi pemicu kondisi faltering growth. Untuk mencegah dan mengatasinya, Moms perlu memberikan anak asupan gizi yang seimbang. Pemenuhan kalori sebaiknya dilakukan sejak dini, mengingat fungsinya yang sangat penting dalam penambahan berat dan tinggi badan.

Sebenarnya, kalori bisa ditemukan pada hampir semua makanan. Tapi, ada baiknya berikan anak makanan yang mengandung kalori tinggi, seperti alpukat, kacang-kacangan, biji-bijian, dan telur.

Selain kalori, protein juga dibutuhkan untuk mendukung tumbuh kembangnya. Protein adalah makronutrien yang berfungsi dalam pengangkutan berbagai molekul ke seluruh tubuh hingga mengoptimalkan kinerja banyak organ. Zat gizi ini bisa ditemukan pada ikan, daging, ayam, telur, tahu, dan susu.

Cegah faltering growth dengan SGM Eksplor Gain Optigrow

Penting untuk memastikan si Kecil mendapat nutrisi yang tepat agar proses tumbuh kembangnya berlangsung optimal. Tak perlu panik dan cemas, karena SGM Eksplor Gain Optigrow adalah jawabannya. SGM Eksplor Gain Optigrow mengandung protein dan tinggi kalori untuk mendukung anak tumbuh optimal.

Tak hanya itu, SGM Eksplor Gain Optigrow juga dilengkapi IronC, DHA, omega 3 dan omega 6, sangat baik untuk perkembangan kognitif buah hati tercinta. Tak perlu ragu tentang khasiatnya, karena SGM Eksplor Gain Optigrow telah didukung oleh banyak penelitian.

Selain kaya gizi, SGM Eksplor Gain Optigrow hadir dengan rasa yang enak, disukai 9 dari 10 anak (berdasarkan sensory test pada 129 anak). Yuk, cegah faltering growth pada anak dan optimalkan proses tumbuh kembangnya bersama SGM Eksplor Gain Optigrow!

Reference

  1. Hopkins Medicine, diakses 23 September 2021, Failure to Thrive.
  2. Healthline, diakses 23 September 2021, Failure to Thrive.
  3. Medline Plus, diakses 23 September 2021, Failure to thrive.
  4. Medscape, diakses 23 September 2021, Failure to Thrive in Elderly Adults.
  5. Universitas Diponegoro, diakses 23 September 2021, PRAKTIK PEMBERIAN MP-ASI SEBAGAI FAKTOR RISIKO GROWTH FALTERING PADA ANAK.
  6. Universitas Indonesia, diakses 23 September 2021, GROWTH FALTERING PADA BAYI DI KABUPATEN INDRAMAYU JAWA BARAT.
  7. National Center for Biotechnology Information (NCBI), diakses 23 September 2021, Sex-based prevalence of growth faltering in an urban pediatric population.
  8. National Center for Biotechnology Information (NCBI), diakses 23 September 2021, Faltering Growth – recognition and management.
  9. National Center for Biotechnology Information (NCBI), diakses 23 September 2021, The cumulative effect of neglect and failure to thrive on cognitive functioning.
  10. National Center for Biotechnology Information (NCBI), diakses 23 September 2021, The developmental sequelae of nonorganic failure to thrive.
  11. National Center for Biotechnology Information (NCBI), diakses 23 September 2021, Hematological Indices in Children with Non-organic Failure to Thrive: a Case-Control Study.
  12. Department of Health of New Zealand, diakses 23 September 2021, Food and Nutrition Guidelines for Healthy Infants and Toddlers (Aged 0–2) A background paper.
  13. The Warren Center, diakses 23 September 2021, What are Cognitive Developmental Delays?
  14. Verywell Family, diakses 23 September 2021, Protein-Rich Foods for Kids.
  15. Verywell Family, diakses 23 September 2021, High-Calorie Foods for Underweight Children.
  16. Mayo Clinic, diakses 23 September 2021, Anemia.

    register-docotr