Kesehatan Anak

Mengenal Faltering Growth: Kondisi Gagal Tumbuh yang Pengaruhi Perkembangan Anak

October 28, 2021 | Muhammad Hanif S. | dr. Raja Friska Yulanda
feature image

Sebagai orang tua, proses tumbuh kembang anak harus benar-benar diperhatikan. Sebab, jika abai, buah hati tercinta bisa mengalami kondisi gagal tumbuh atau faltering growth. Bagaimana cara mencegah dan mewaspadai kondisi tersebut? Yuk, simak ulasan lengkapnya berikut ini!

Apa itu faltering growth?

Faltering growth adalah kondisi kegagalan pertumbuhan yang menjadi cikal bakal terjadinya stunting. Laju pertumbuhan bayi sangat lambat, dipengaruhi oleh banyak faktor. Hal tersebut sering terjadi pada 15 bulan pertama kehidupan, dengan risiko tertinggi yaitu usia 3 hingga 12 bulan.

Sebuah publikasi menyebutkan, faltering growth adalah istilah yang sebelumnya disebut failure to thrive, yaitu kondisi yang memengaruhi tinggi dan berat badan bayi.

Penentuan apakah bayi mengalami faltering growth biasanya dilakukan melalui pengukuran tinggi dan berat badan, lalu dibandingkan dengan angka rata-rata nasional atau standar yang telah ditetapkan.

Menurut penelitian pada 2009 yang terbit di Journal of Pediatric, faltering growth lebih umum terjadi pada bayi laki-laki ketimbang bayi perempuan, dengan perbandingan 2:1. Meski begitu, belum bisa disimpulkan secara pasti apakah jenis kelamin bisa memengaruhi tingkat risikonya.

Penyebab dan faktor risiko

Ada banyak faktor yang bisa meningkatkan risiko seorang anak mengalami faltering growth. Bukan hanya dari faktor diri bayi itu sendiri, tapi juga bisa disebabkan oleh hal lain. Berikut beberapa hal yang diyakini berkontribusi tinggi sebagai penyebab faltering growth:

Kekurangan gizi

Faltering growth erat kaitannya dengan malnutrisi. Sebab, nutrisi sangat berperan penting dalam laju pertumbuhan di tahun pertama kehidupan bayi, seperti pertumbuhan berat badan, panjang badan, hingga lingkar kepala.

Di Indonesia, indikator tersebut dapat dilihat dalam Kartu Menuju Sehat (KMS) dalam Buku Kesehatan Ibu dan Anak.

Malnutrisi bisa disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu:

  • Keterbatasan fisik bayi untuk mengisap, menyusu, dan menelan. Keadaan tersebut menyulitkan si Kecil untuk makan dan minum, sehingga pemenuhan nutrisinya bisa ikut terganggu.
  • Pemberian nutrisi tak seimbang, misalnya air susu ibu (ASI) atau pengganti ASI (MPASI) yang tidak cukup.
  • Transisi pemberian ASI ke makanan padat yang tidak optimal, sering terjadi saat bayi berusia enam bulan.

Menurut data pemerintah, satu dari empat anak di Indonesia mengalami malnutrisi yang berujung pada gangguan pertumbuhan. Kondisi tersebut ada korelasinya dengan angka stunting di Indonesia.

Kondisi ibu

Kesehatan Moms juga turut andil dalam proses tumbuh kembang bayi, lho. Ibu dengan indeks massa tubuh rendah bisa berpengaruh pada produksi ASI yang diberikan ke si Kecil.

Begitu pula jika Moms mengalami defisiensi vitamin (terutama vitamin A, B1, B6, dan B12), nutrisi pada ASI juga akan terdampak. Akibatnya, bayi tidak mendapatkan zat gizi yang dibutuhkan hingga membuatnya mengalami faltering growth.

Riwayat penyakit bayi

Adanya penyakit pada bayi bisa membuat penyerapan kalori menjadi tidak optimal. Perlu Moms tahu, lima persen kasus faltering growth terjadi pada bayi yang telah mengidap gangguan saluran pencernaan (gastrointestinal), masalah neurologis, dan penyakit jantung kongenital (bawaan lahir).

Penyakit-penyakit tersebut menyebabkan tubuh tidak mampu menggunakan kalori dengan seimbang. Akibatnya, proses tumbuh kembang bayi menjadi terganggu. Jika tak segera mendapat perawatan yang tepat, si Kecil berisiko tinggi mengalami faltering growth.

Tak hanya itu, bayi yang dilahirkan secara prematur dan memiliki berat badan rendah juga berpotensi mengalami gagal tumbuh.

Ciri-ciri dan gejala yang harus diwaspadai

Cara paling mudah untuk mendeteksi apakah si Kecil mengalami faltering growth adalah dengan memerhatikan pertumbuhan badannya. Bukan hanya sesaat setelah lahir, Moms juga sebaiknya terus memantaunya dalam jangka panjang.

Sebab, pada beberapa kasus, bayi tumbuh optimal di bulan-bulan pertama pascakelahiran. Tapi, tren pertumbuhan tersebut bisa saja jadi melambat atau bahkan mandek di bulan-bulan berikutnya.

Selain memerhatikan tanda fisik, Moms juga perlu peka terhadap perilaku dan kemampuan anak. Sebab, faltering growth bisa berpengaruh pada sifat anak.

Misalnya, anak mengalami keterlambatan perkembangan seperti tidak bisa merangkak dan berguling, emosi yang kurang (tersenyum, tertawa, kontak mata), mudah lelah, dan gampang marah.

Gangguan perkembangan tersebut juga bisa ditandai dengan kurangnya minat anak pada makanan atau makan hanya sedikit (picky eater). Picky eater sebenarnya bisa terjadi pula pada anak yang sehat. Namun, jika dibiarkan, kondisi itu bisa menjadi penyebab faltering growth.

Apa yang perlu dilakukan?

Faltering growth adalah kondisi yang tidak bisa disepelekan. Jika dibiarkan, keadaan tersebut bisa bertahan selamanya. Sebuah publikasi yang diterbitkan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia menyebutkan, kasus faltering growth yang telah berubah menjadi stunting berpotensi membuat anak mengalami gagal tumbuh hingga usia dewasa.

Pemantauan berkala

Moms bisa melakukan pemantauan lewat growth tracker atau KMS secara berkala, terutama untuk mengetahui perkembangan berat badan, tinggi badan, dan lingkar kepala bayi. Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), frekuensi pengukuran yang disarankan adalah:

  • Setiap bulan sampai usia satu tahun
  • Setiap tiga bulan sampai usia tiga tahun
  • Setiap enam bulan sampai usia enam tahun
  • Satu tahun sekali pada tahun-tahun berikutnya.

Intervensi nutrisi

Jika tren berat badan bayi cenderung stagnan atau bahkan turun dalam rentang waktu pengukuran, Moms perlu melakukan intervensi pemberian nutrisi untuk mendukung proses tumbuh kembang bayi. Setelah berusia enam bulan, pertimbangkan memberi si Kecil makanan padat dengan zat gizi seperti:

  • Makanan tinggi kalori: Alpukat, pisang, kentang, telur
  • Protein: Telur, kacang-kacangan, ikan, daging cacah
  • Zat besi: Sayuran berdaun hijau (brokoli, bayam, kale), telur, tuna, tahu
  • Omega 3: Ikan laut dan kacang-kacangan
  • Omega 6: Tahu, telur, alpukat
  • DHA: Salmon, telur, susu formula.

Dukung tumbuh kembang anak dengan SGM Eksplor Gain Optigrow

Tak perlu bingung mencari sumber nutrisi yang tepat untuk mengoptimalkan tumbuh kembang si Kecil, karena SGM Eksplor Gain Optigrow bisa menjadi solusinya. SGM Eksplor Gain Optigrow mengandung nutrisi yang dibutuhkan anak untuk tumbuh optimal, seperti tinggi kalori dan protein.

Bukan cuma itu, SGM Eksplor Gain Optigrow juga memiliki kandungan untuk mendukung perkembangan kognitif buah hati tercinta, seperti IronC, DHA, omega 3 dan omega 6. Tak perlu ragu tentang khasiatnya, karena SGM Eksplor Gain Optigrow telah didukung oleh banyak studi klinis.

Selain kaya gizi, SGM Eksplor Gain Optigrow hadir dengan rasa yang enak, disukai 9 dari 10 anak (berdasarkan sensory test pada 129 anak). Tunggu apalagi, optimalkan tumbuh kembang anak dan cegah faltering growth bersama SGM Eksplor Gain Optigrow sekarang juga!

Reference
  1. Universitas Diponegoro, diakses 23 September 2021, PRAKTIK PEMBERIAN MP-ASI SEBAGAI FAKTOR RISIKO GROWTH FALTERING PADA ANAK.
  2. Universitas Indonesia, diakses 23 September 2021, GROWTH FALTERING PADA BAYI DI KABUPATEN INDRAMAYU JAWA BARAT.
  3. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), diakses 23 September 2021, Pentingnya Memantau Pertumbuhan dan Perkembangan Anak (Bagian 1).
  4. National Center for Biotechnology Information (NCBI), diakses 23 September 2021, Sex-based prevalence of growth faltering in an urban pediatric population.
  5. National Center for Biotechnology Information (NCBI), diakses 23 September 2021, Faltering Growth – recognition and management.
  6. Hopkins Medicine, diakses 23 September 2021, Failure to Thrive.
  7. Detik, diakses 23 September 2021, Menko PMK Buka Data 2019: 1 dari 4 Anak Indonesia Kurang Gizi.
  8. Healthline, diakses 23 September 2021, What Is Failure to Thrive?
  9. Healthline, diakses 23 September 2021, 10 Iron-Rich Foods Your Toddler Needs.
  10. Healthline, diakses 23 September 2021, 12 Foods That Are Very High in Omega-3.
  11. Healthline, diakses 23 September 2021, 10 Foods High in Omega-6, and What You Should Know.
  12. KidsHealth, diakses 23 September 2021, Failure to Thrive.
  13. Firstcry Parenting, diakses 23 September 2021, Protein for Babies & Toddlers – Importance and Requirements.
  14. Firstcry Parenting, diakses 23 September 2021, DHA for Babies and Kids,
  15. University of Wisconsin, diakses 23 September 2021, High Calorie Diet for Infants and Toddlers.
  16. Department of Health of New Zealand, diakses 23 September 2021, Food and Nutrition Guidelines for Healthy Infants and Toddlers (Aged 0–2) A background paper.
    register-docotr