Diet dan Nutrisi

Minum Air Putih Sehat, Tapi kalau Terlalu Banyak Ini Bahayanya

September 17, 2021 | Dewi Nurfitriyana | dr. Raja Friska Yulanda
feature image

Seluruh sel tubuh membutuhkan air untuk bisa berfungsi dengan baik. Tapi jika kamu minum terlalu banyak, yang terjadi justru bisa sebaliknya.

Disebut dengan istilah overhidrasi, kondisi ini sangat sulit terjadi secara tidak sengaja. Artinya saat seseorang mengalaminya, kemungkinan besar ia berada dalam kondisi sadar.

Overhidrasi bisa berdampak buruk bagi kesehatan. Simak ulasan di bawah, untuk tahu apa saja gejala, penyebab, dan cara mengatasi kondisi tersebut.

Baca juga: Moms, Berikut Jenis Ikan yang Mengandung Merkuri Lho! Yuk Cegah Efek Buruknya

Takaran normal agar tidak kekurangan cairan

Setiap hari kamu kehilangan air melalui napas, keringat, urin, dan buang air besar. Padahal agar tubuh berfungsi dengan baik, kamu harus mengisi kembali persediaan airnya dengan mengonsumsi minuman dan makanan yang mengandung air.

Dilansir dari Kementerian Kesehatan, kebutuhan cairan tiap orang berbeda-beda. Pada orang dewasa, konsumsi air putih yang disarankan yaitu sekitar delapan gelas berukuran 230 ml per hari atau total 2 liter.

Selain dari minuman, makanan juga dapat memberikan asupan cairan pada tubuh yaitu sekitar 20 persen. Cairan dari makanan terutama diperoleh dari buah dan sayur, misalnya bayam dan semangka yang mengandung 90 persen air.

Berapa takaran minum air putih yang terlalu banyak?

Overhidrasi dan keracunan air terjadi ketika seseorang minum lebih banyak air daripada yang bisa dikeluarkan ginjalnya melalui urine. Namun, jumlah air bukan satu-satunya faktor, melainkan waktu juga berperan.

Dilansir dari Medical News Today, keracunan air dan hiponatremia (gangguan kadar natrium dalam darah) berkepanjangan diketahui pernah terjadi pada tahanan berusia 22 tahun yang sehat yang minum 6 liter air dalam 3 jam.

Menurut laporan lainnya, seorang gadis berusia 9 tahun mengalami keracunan air setelah mengonsumsi 3,6 liter air dalam 1-2 jam.

Intinya, ginjal dapat mengeluarkan 20–28 liter air per hari, tetapi ini tidak dapat mengeluarkan lebih dari 0,8 hingga 1,0 liter per jam. Minum lebih dari ini bisa berbahaya.

Apa yang terjadi jika kamu minum air terlalu banyak?

Pada dasarnya natrium adalah elektrolit yang paling terpengaruh oleh overhidrasi. Fungsi dari natrium sendiri adalah untuk membantu menjaga keseimbangan cairan masuk dan keluar sel.

Ketika kadarnya turun karena jumlah air terlalu tinggi di dalam tubuh, cairan akan masuk ke dalam sel dan membuatnya membengkak. Hal inilah yang membuat kamu berisiko mengalami kejang, koma, atau bahkan tidak sadarakan diri.

Minum terlalu banyak air juga bisa membuat kamu mengalami gangguan fungsi otak. Hal ini bisa terjadi karena air yang terlalu banyak di dalam sel-sel otak bisa menyebabkannya membengkak dan menimbulkan tekanan.

Dalam kondisi tersebut, kamu mungkin akan mengalami kebingungan, kantuk, dan sakit kepala. Jika dibiarkan, tekanan akan semakin meningkat dan menyebabkan berbagai masalah kesehatan yang lebih berat. Misalnya hipertensi, dan detak jantung rendah.

Tanda-tanda overhidrasi

Beberapa indikator di bawah bisa menjadi acuan awal untuk mengetahui apa kamu mengalami overhidrasi atau tidak.

1. Warna urine

Salah satu cara terbaik untuk menentukan apakah kamu minum terlalu banyak air adalah dengan memantau warna urine. Dilansir dari RSJ Soerojo, berikut adalah gambar diagram untuk mengilustrasikan warna air seni yang normal dan tidak.

Diagram warna urine. Sumber foto: rsjsoerojo.co.id diakses pada tahun 2021

Jika urine tidak berwarna, kemungkinan orang tersebut terlalu banyak minum. Kamu mungkin harus mengurangi jumlah air yang dikonsumsi. Sementara urine yang berwarna sepucat jerami menandakan jumlah air yang dikonsumsi sudah cukup dan kamu terhidrasi dengan baik.

2. Terlalu sering ke kamar mandi

Tanda lainnya dari overhidrasi adalah jika kamu buang air kecil lebih sering dari biasanya. Dilansir dari Web MD, rata-rata seseorang harus buang air kecil sebanyak enam sampai delapan kali sehari. Lebih dari itu, bisa jadi kamu minum air terlalu banyak.

3. Mual atau muntah

Ketika kamu memiliki terlalu banyak air di dalam tubuh, ginjal tidak dapat mengeluarkan kelebihan cairan dengan baik. Akibatnya cairan mulai terkumpul di dalam tubuh, dan menyebabkan mual, muntah, sampai diare.

4. Sakit kepala berdenyut sepanjang hari

Kelebihan air dalam tubuh menyebabkan kadar garam tubuh turun dan sel membengkak. Pembengkakan ini bisa menyebabkan sel-sel tersebut tumbuh membesar.

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, pada sel yang berada di otak, pertumbuhan tersebut bisa menekan tengkorak dan menyebabkan sakit kepala berdenyut, kerusakan otak, hingga kesulitan bernapas.

5. Perubahan warna pada tangan, kaki, dan bibir

Saat kamu mengalami overhidrasi, kamu akan melihat beberapa pembengkakan atau perubahan warna pada kaki, tangan, dan bibir. Saat sel membengkak, kulit juga akan ikut membengkak.

6. Mudah lelah

Minum terlalu banyak air menyebabkan ginjal bekerja terlalu keras untuk membuang kelebihannya. Ini menciptakan reaksi hormon yang membuat kamu mudah merasa stres dan lelah.

Mengatasi overhidrasi

Dilansir dari Healthline, jenis perawatan yang diberikan karena overhidrasi tergantung pada seberapa parah gejala yang dialami dan apa yang menyebabkan kondisi tersebut.

Beberapa jenis perawatan yang mungkin diberikan bisa jadi termasuk:

  1. Mengurangi asupan cairan
  2. Mengambil diuretik untuk meningkatkan jumlah urine yang dihasilkan
  3. Mengobati kondisi yang menyebabkan overhidrasi
  4. Menghentikan obat apa pun yang menyebabkan masalah overhidrasi
  5. Mengganti natrium dalam kasus yang parah

Ketika kamu minum terlalu banyak, itu dapat menyebabkan kondisi yang fatal. Jadi jika kamu tidak tahu berapa banyak air yang harus diminum setiap hari, ikuti saran untuk minum delapan gelas sehari saja.

Baca juga: 5 Buah yang Mengandung Asam Folat dan Baik untuk Dikonsumsi Ibu Hamil

Jaga kesehatan kamu dan keluarga dengan konsultasi rutin bersama mitra dokter kami. Download aplikasi Good Doctor sekarang, klik link ini, ya!

Reference

Kementerian Kesehatan, diakses pada 19 September 2021

RSJ Soerojo, diakses pada 19 September 2021

Healthline diakses pada 16 September 2021

Web MD diakses pada 16 September 2021

Medical News Today diakses pada 16 September 2021

    register-docotr