Kesehatan Mental

Krisis Eksistensial dalam Hidup: Penyebab, Gejala, dan Cara Mengatasinya

July 14, 2021 | Ajeng Dwiri Banyu | dr. Debby Deriyanthi
feature image

Krisis eksistensial dapat terjadi ketika seseorang sering mempertanyakan keberadaannya dalam hidup. Kebanyakan orang dengan kondisi ini bahkan bisa mengalami kecemasan, depresi, dan stres di beberapa titik dalam kehidupannya.

Jika dibiarkan, hal tersebut bisa berdampak buruk bagi kesehatan mental. Nah, untuk mencegah kesehatan mental yang memburuk, yuk simak penjelasan lebih lengkap mengenai krisis eksistensial berikut.

Baca juga: Shaking Therapy untuk Meredakan Stres dan Trauma, Bagaimana Melakukannya?

Apa penyebab krisis eksistensial?

Tantangan dan tekanan sehari-hari mungkin tidak memicu krisis eksistensial. Namun, dilansir Healthline, jenis krisis ini cenderung mengikuti keputusasaan yang mendalam atau peristiwa penting seperti trauma besar.

Selain itu, terdapat beberapa penyebab lain dari krisis eksistensial yang biasa dialami.

Penyebab krisis eksistensial dapat berupa bersalah tentang suatu hal, kehilangan orang yang dicintai dalam kematian, merasa tidak terpenuhi secara sosial, ketidakpuasan terhadap diri sendiri, dan riwayat emosi yang sering tertahan.

Gejala umum krisis eksistensial

Krisis eksistensial mengacu pada perasaan tidak nyaman tentang makna, pilihan, dan kebebasan dalam hidup. Karena itu, selama krisis eksistensial seseorang mungkin mengalami berbagai gejala, termasuk kegelisahan, depresi, merasa kewalahan, serta isolasi dari teman dan orang yang dicintai.

Tak hanya itu, beberapa orang dengan krisis eksistensial juga akan mengalami kurangnya motivasi dan energi, kesendirian, hingga kekhawatiran obsesif. Perlu diketahui, krisis eksistensial dapat dialami oleh orang dengan latar belakang yang beragam.

Namun, orang dengan kondisi kesehatan mental tertentu mungkin lebih rentan mengalami krisis eksistensial. Beberapa kondisi mental yang bisa memicu krisis eksistensial, antara lain kecemasan, borderline personality disorder atau BPD, serta obsessive-compulsive disorder atau OCD.

Bagaimana cara mengatasi krisis eksistensial?

Mengalami krisis eksistensial tidak secara otomatis berarti bahwa seseorang memiliki masalah kesehatan mental. Namun, terdapat berbagai cara untuk membantu mengarahkan diri menjadi lebih baik, antara lain sebagai berikut:

Membuat catatan tentang rasa syukur

Membuat jurnal tentang hal-hal yang bisa kamu syukuri bisa menambah makna dalam hidup. Menuliskan hal-hal yang kamu sukai dan bermakna akan membantu memahami hal-hal yang ingin diubah.

Melihat kembali jurnal ini di kemudian hari dapat membantu mengingatkan tentang hal-hal yang telah dinikmati sebelumnya, sehingga meningkatkan rasa syukur. Tak hanya itu, pengalaman dan interaktif positif yang dimiliki secara kolektif juga akan memberikan makna hidup.

Jangan menyerah pada pesimisme

Ketika seseorang menemukan dirinya dalam kekacauan eksistensial, mudah untuk membiarkan pikiran negatif mengambil alih. Untuk itu, agar krisis eksistensial dapat dihadapi maka cobalah untuk mengembangkan hal-hal positif dalam pikiran.

Hal ini diketahui dapat membantu mengendalikan dialog batin yang dimiliki seseorang atau setidaknya membuat self-talk menjadi lebih netral. Jangan pernah menyerah pada pesimisme dan cobalah meluangkan waktu untuk mengeksplorasi diri.

Arahkan kembali energi positif

Perubahan dalam hidup yang cukup besar akan membuat beberapa orang kehilangan energi positifnya. Karena itu, penting bagi orang yang memiliki krisis eksistensial untuk mengarahkan kembali  energi dalam tubuh.

Fokuskan energi pada hubungan atau hobi yang disukai karena dapat membantu mencapai keseimbangan hidup lebih baik. Keseimbangan di antara semua aspek dapat membuat hidup terus berjalan ketika satu bagian terputus.

Terhubung dengan orang terdekat

Krisis eksistensial dapat terjadi ketika kamu merasa terputus dari orang-orang dalam hidup. Karena itu, penting untuk kembali membangun koneksi dengan orang lain agar krisis eksistensial dapat dihadapi.

Hubungi teman atau keluarga dan orang lain yang memiliki pengalaman serupa. Namun, jika perasaan mengenai krisis eksistensial bertahan lebih lama atau tidak kunjung hilang dan menyebabkan depresi, maka segera bicarakan dengan ahli profesional, ya.

Baca juga: Kerap Alami Stres? Coba Redakan dengan 7 Makanan Ini

Pastikan untuk mengecek kesehatan kamu dan keluarga secara rutin melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Jaga kesehatan kamu dan keluarga dengan konsultasi rutin bersama mitra dokter kami. Download aplikasi Good Doctor sekarang, klik link ini, ya!

Reference
  1. Healthline (2018), diakses 13 Juli 2021. What Is an Existential Crisis, and How Do I Break Through It?
  2. Medical News Today (2019), diakses 13 Juli 2021. Facing an existential crisis: What to know
  3. Very Well Mind (2021), diakses 13 Juli 2021 What Is an Existential Crisis?
  4. Cleveland Clinic (2020), diakses 13 Juli 2021. 6 Ways to Overcome an Existential Crisis
    register-docotr