Kesehatan Mental

Kenali Good Girl Syndrome, Ketika Bersikap Baik Menjadi Suatu Tuntutan

March 4, 2021 | Nik Nik Fadlah | dr. Debby Deriyanthi
feature image

Sejak masa kanak-kanak seorang wanita diajarkan untuk menjadi sosok yang baik hati dan peduli terhadap orang lain.

Sikap ini tidaklah salah, namun jika sikap tersebut menjadi suatu tuntutan yang mana menyebabkan seseorang mengabaikan perasaan dan kebutuhannya sendiri demi kebahagiaan orang lain, maka ini bisa menjadi tanda dari good girl syndrome.

Baca juga: Hati-hati! Stres Kerja Bisa Tingkatkan Risiko Stroke Lho!

Mengenal good girl syndrome

Ketika kecil, kita diajari untuk sopan, baik hati, serta peduli terhadap orang lain. Ini membuat kita sadar untuk memperlakukan orang lain sebagaimana kita ingin diperlakukan.

Sikap yang ditanamkan sejak kecil tersebut tidaklah salah. Namun, jika obsesi terus muncul untuk menghindari penilaian buruk dari orang lain sehingga seorang wanita terus-menerus bergantung pada kebahagiaan orang lain, ini dapat menjadi tanda dari good girl syndrome.

Singkatnya, good girl syndrome adalah sikap ketika seorang wanita terlalu memaksakan diri untuk menyenangkan orang lain dan berbaik hati. Bahkan, rela untuk tidak memikirkan perasaan atau haknya sendiri demi kebahagiaan orang lain.

Good girl syndrome cenderung menyebabkan seorang wanita berusaha keras untuk selalu menyenangkan orang lain, menghindari penolakan atau pengabaian, kritik, serta kesendirian.

Tuntutan sikap dari seorang wanita

Melansir dari laman Psychology Today, sebuah studi yang dilakukan oleh Stanford University melaporkan bahwa kata sifat yang paling diinginkan untuk menggambarkan seorang wanita adalah penyayang, hangat, ceria, dan setia.

Di sisi lain, ketika partisipan diminta untuk membuat daftar kata sifat yang diinginkan untuk pria, kata sifat yang diinginkan di antaranya adalah independen, tegas, serta dominan.

Secara singkat, sikap yang paling diinginkan dari seorang wanita adalah lemah lembut, sedangkan pada pria yakni mental yang kuat.

Penelitian menunjukkan bahwa bias gender ini dimulai sejak masa kanak-kanak. Bimbingan pada anak perempuan agar menjadi sosok yang baik yang diajari sejak kecil dapat terus berlanjut ketika ia menempuh pendidikan, di mana seorang wanita fokus pada keunggulan akademis.

Kemudian, sikap baik tersebut berkembang menjadi suatu sikap yang selalu ingin menyenangkan orang lain. Karena terus berusaha untuk menjadi sosok yang sempurna, ini dapat menyebabkan seseorang menghindari umpan balik yang negatif.

Baca juga: Mendung Bikin Hati Sendu? Bisa jadi Kamu Alami Seasonal Affective Disorder, Yuk Kenali

Ciri-ciri good girl syndrome

Dilansir dari laman Inc. terdapat beberapa ciri-ciri good girl syndrome yang perlu untuk diketahui, di antaranya adalah:

  • Berpikir secara berlebihan bahwa seberapa besar kamu dicintai bergantung pada sikap baik yang kamu berikan. Gagasan utama dari good girl syndrome adalah kamu harus selalu bersikap baik kepada semua orang agar dicintai dan diterima. Tak hanya itu, kamu juga selalu merasa harus melakukan cara tertentu agar dicintai
  • Sulit untuk mengatakan tidak pada orang lain dan mengungkapkan apa yang diinginkan
  • Ketakutan untuk mengecewakan orang lain. Kamu merasa bertanggung jawab atas perasaan orang lain
  • Selalu berpura-pura bahagia
  • Merasa bahwa kritik merupakan sebuah masalah yang besar

Cara melepaskan diri dari good girl syndrome

Menjadi seseorang yang baik memang tidaklah salah. Namun, jika keinginan untuk terus menyenangkan orang lain membuatmu mengorbankan perasaanmu, merugikan diri sendiri, atau mengabaikan kebutuhanmu sendiri ini tidaklah baik.

Berikut ini adalah beberapa cara melepaskan diri dari good girl syndrome.

1. Mencoba untuk mengatakan apa yang sebenarnya kamu inginkan

Sebaiknya jujurlah terhadap perasaanmu dan cobalah untuk mengatakan apa yang sebenarnya kamu inginkan. Namun, dengan tetap menjaga perasaan orang lain.

2. Berani untuk mengatakan “tidak”

Sebaiknya jangan terlalu untuk memaksakan diri untuk selalu menyenangkan orang lain jika memang itu melebihi batas kemampuanmu. Kamu juga harus memerhatikan diri sendiri, kesehatan, serta kesejahteraanmu.

Sebab, jika kamu tidak memerhatikan diri sendiri, ini dapat membuatmu pada akhirnya tidak mampu melakukan apa pun untuk orang lain. Peduli terhadap orang lain itu memang hal yang baik. Namun, jangan sampai kamu justru menekan perasaan atau kebutuhanmu sendiri.

3. Berani berbicara

Jika seseorang tidak menghormatimu, jangan tinggal diam. Sebab, jika kamu tidak berbicara, tidak akan ada yang mengerti mengenai perasaanmu. Jika kamu tidak menetapkan batasan, orang lain dapat bertindak semena-mena tanpa memikirkan perasaanmu.

4. Berdamai dengan diri sendiri

Mulailah untuk berdamai dengan diri sendiri. Tidak ada yang salah dengan menjalani hidup sesuai dengan nilai-nilai yang kamu pegang. Tidak salah untuk membuat pilihan hidup yang tepat bagi diri sendiri. Percayalah pada diri sendiri dan kemampuanmu.

Tetaplah sopan, hormat, dan peduli terhadap orang lain. Namun, jangan sampai kepedulianmu terhadap orang lain justru membuatmu mengabaikan diri sendiri, ya.

Punya pertanyaan lebih lanjut seputar kesehatan mental? Silakan chat mitra dokter kami melalui Aplikasi Good Doctor. Mitra dokter kami siap membantumu dengan akses layanan 24/7. Jangan ragu untuk berkonsultasi, ya!

Reference

Inc. (2014). Diakses pada 03 Maret 2021. Are You Suffering From ‘Nice Girl Syndrome’? 5 Symptoms 

Healthline (2019). Diakses pada 03 Maret 2021. How to Stop People-Pleasing (and Still Be Nice) 

Psychology Today (2018). Diakses pada 03 Maret 2021. 5 Ways to Escape ‘Good-Girl Syndrome’ 

PsychCentral (2020). Diakses pada 03 Maret 2021. The Need to Please: The Psychology of People-Pleasing 

    register-docotr