Kesehatan Mental

Hati-hati! Stres Kerja Bisa Tingkatkan Risiko Stroke Lho!

February 16, 2021 | Nik Nik Fadlah | dr. Debby Deriyanthi
feature image

Stres memiliki dampak buruk bagi kesehatan serta dapat meningkatkan risiko kondisi medis tertentu. Salah satu kondisi medis yang muncul akibat stres berkepanjangan adalah stroke.

Baca juga: 7 Cara Menghilangkan Overthinking agar Terhindar dari Stres

Bagaimana stres kerja bisa sebabkan stroke?

Stres merupakan reaksi tubuh. Ketika kita merasa terancam, reaksi kimia terjadi di dalam tubuh yang memungkinkan kita untuk bertindak. Reaksi ini dikenal sebagai respons fight-or-flight atau respons stres.

Kondisi ini akan berpengaruh pada peningkatan detak jantung, pernapasan terasa lebih cepat, otot tegang, hingga peningkatan tekanan darah yang memicu masalah medis tertentu.

Irene Katzan, MD, seorang ahli saraf mengatakan bahwa jika stres dikombinasikan dengan faktor lain, ini dapat memicu kondisi medis tertentu.

Berdasarkan laman Heart & Stroke, stres dapat menyebabkan jantung bekerja lebih keras, meningkatkan tekanan darah, dan meningkatkan kadar gula serta lemak di dalam darah.

Faktor-faktor tersebut dapat meningkatkan risiko pembentukan gumpalan darah berpindah ke jantung atau otak, sehingga dapat menyebabkan serangan jantung atau stroke.

Terkadang, stres juga dapat menyebabkan peradangan serta kondisi tertentu yang memengaruhi pembuluh darah. Ini juga dapat menyebabkan stroke atau bahkan serangan jantung.

Penelitian terkait mengenai stres kerja dan risiko stroke

Terdapat beberapa penelitian yang menunjukkan bahwa stres kerja memiliki peningkatan risiko terkait dengan stroke.

Pada sebuah studi yang dimuat dalam jurnal Neurology, peneliti di China mengumpulkan data dari enam studi yang melibatkan 138.782 partisipan. Peneliti melakukan evaluasi mengenai hubungan antara stres kerja dan risiko stroke di kemudian hari.

Hasil menunjukkan bahwa stroke yang disebabkan oleh stres memang mungkin terjadi. Di sisi lain, penelitian juga menemukan bahwa pekerjaan dengan tuntutan atau tekanan yang terlalu tinggi dapat meningkatkan risiko stroke sebesar 22 persen.

Baca juga: Hati-Hati! Stres Terus-menerus Bisa Memicu Kebutaan, Bagaimana Faktanya?

Adakah studi lainnya?

Pada studi lain tahun 2010 mengidentifikasi sepuluh faktor risiko stroke terkait dengan 90 persen risiko jenis stroke tertentu.

Studi menemukan bahwa stres terkait dengan pekerjaan dapat memicu faktor tertentu, termasuk depresi, hipertensi, pola makan serta gaya hidup yang tidak sehat.

Sementara itu, studi lain menemukan bahwa tingkat stres yang tinggi serta gejala depresi dikaitkan dengan peningkatan risiko transient ischemic attack (TIA) pada orang dewasa dan lansia.

Gejala stres yang perlu diwaspadai

Stres dapat memengaruhi banyak aspek, bukan hanya kesehatan tubuh, melainkan juga kesehatan mental. Melansir laman Webmd, tanda atau gejala stres dapat dibedakan menjadi gejala emosional, fisik, kognitif, serta perilaku.

Berikut ini adalah penjelasan dari gejala-gejala tersebut:

Gejala emosional

  • Gelisah dan murung
  • Merasa kewalahan
  • Merasa kesulitan untuk menenangkan pikiran
  • Rendah diri, kesepian, dan merasa tertekan
  • Merasa ingin menghindari orang lain

Gejala fisik

  • Sakit kepala
  • Nyeri dan otot terasa tegang
  • Detak jantung lebih cepat
  • Insomnia
  • Gugup dan gemetar, tangan dan kaki terasa dingin atau berkeringat

Gejala kognitif

  • Kekhawatiran yang berlangsung terus menerus
  • Sering lupa
  • Kesulitan untuk fokus
  • Bersikap pesimis atau melihat sesuatu hanya dari sisi negatif saja

Gejala perilaku

  • Perubahan pada pola makan, seperti tidak nafsu makan atau konsumsi makanan secara berlebih
  • Menunda atau menghindari tanggung jawab
  • Menunjukkan perilaku gugup, seperti menggigit kuku, gelisah, atau berjalan bolak balik

Bagaimana cara mencegah dan mengatasi stres?

Stres memiliki efek yang buruk pada kesehatan. Stres pekerjaan memang sulit untuk dihindari, akan tetapi ada beberapa cara yang bisa kamu lakukan untuk mencegah atau mengurangi tekanan pada pekerjaan, seperti:

1. Meluangkan sedikit waktu untuk diri sendiri

Meluangkan waktu untuk diri sendiri selama beberapa menit di hari yang penuh dengan pekerjaan dapat membantu untuk mencegah burnout atau reaksi terhadap stres yang berhubungan dengan pekerjaan.

Ketika kamu meluangkan sedikit waktu untuk diri sendiri, kamu dapat mendengarkan musik atau podcast favorit. Ini dapat membantu untuk meningkatkan suasana hatimu. Penting juga untuk berisitirahat sejenak dari memikirkan pekerjaan pada waktu istirahat.

2. Jauhkan pikiran negatif

Ketika kamu mengalami kekhawatiran terkait dengan pekerjaan, ini dapat membuat pikiran membaca situasi hanya dari sudut pandang negatif saja. Alih-alih membuat penilaian tersendiri, sebaiknya cobalah untuk menjauhkan diri dari pikiran negatif.

3. Melakukan teknik relaksasi

Meditasi, latihan pernapasan, serta yoga dapat membantu memasok oksigen yang dibutuhkan serta meningkatkan kemampuan fisik. Di sisi lain, hal tersebut juga dapat membantu untuk menenangkan kecemasan.

4. Hindari melakukan banyak hal secara bersamaan

Sebaiknya, fokuslah pada satu tugas dalam satu waktu. Hindarilah multitasking atau mengerjakan beberapa pekerjaan sekaligus pada waktu yang bersamaan. Sebab, mulititasking dapat meyebabkan peningkatan terhadap stres.

5. Jangan terlalu mengejar kesempurnaan

Menjadi seorang perfeksionis memang memiliki beberapa manfaat. Namun, sebaiknya janganlah terlalu mengejar kesempurnaan. Sebab, ini dapat menyebabkan kelelahan atau menimbulkan tingkat stres yang tinggi.

Sebaliknya, cobalah untuk berfokus pada upaya yang dilakukan dalam melakukan pekerjaan dan tidak menyalahkan diri sendiri jika kamu membuat kesalahan.

Konsultasikan masalah kesehatan Anda dan keluarga melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Mitra dokter kami siap memberi solusi. Yuk, download aplikasi Good Doctor di sini!

Reference

Cleveland Clinic (2021). Diakses pada 15 Februari 2021. Can Stress Cause a Stroke? 

Healthline (2019). Diakses pada 15 Februari 2021. How to Keep Work Stress from Taking Over Your Life 

Heart & Stroke. Diakses pada 15 Februari 2021. Stress basics 

Webmd (2019). Diakses pada 15 Februari 2021. Stress Symptoms 

Huang, Yuli, Shuxian Xu (2015). Association between job strain and risk of incident stroke. Neurology (diakses pada 15 Februari 2021)

O’Donnell, Martin J, Denis Xavier (2010). Risk factors for ischaemic and intracerebral haemorrhagic stroke in 22 countries (the INTERSTROKE study): a case-control study. NIH (diakses pada 15 Februari 2021)

Everson-Rose, Susan A, Nicholas S. Roetker (2014). Chronic Stress, Depressive Symptoms, Anger, Hostility and Risk of Stroke and Transient Ischemic Attack in the MESA Study. NCBI (diakses pada 15 Februari 2021)

    register-docotr