Info Sehat

Hati-Hati! Stres Terus-menerus Bisa Memicu Kebutaan, Bagaimana Faktanya?

November 10, 2020 | Nik Nik Fadlah | dr. Raja Friska Yulanda
feature image

Stres adalah cara tubuh merespons segala bentuk tekanan atau ancaman. Stres memiliki dampak negatif yang dapat berimbas pada kesehatan tubuh maupun mental kita. Bahkan, stres juga dinilai bisa menyebabkan kebutaan, benarkah demikian?

Baca juga: 5 Cara Kerja Terapi Binaural Beats yang Konon Bisa Bantu Redakan Stres

Apakah stres bisa menyebabkan kebutaan?

Tekanan darah tinggi dan depresi adalah konsekuensi kesehatan dari tingkat stres yang tinggi. Akan tetapi, penelitian menunjukkan bahwa stres juga dapat menyebabkan kebutaan.

Penelitian tersebut dipimpin oleh Prof. Bernhard Sabel, yang merupakan direktur Institute of Medical Psychology di Magdeburg University, Jerman.

Dalam makalahnya, Prof. Sabel dan rekannya menjelaskan bahwa stres yang terjadi secara terus-menerus, yang meningkatkan kadar hormon kortisol, dapat berdampak negatif pada mata dan otak.

Oleh karenanya, stres juga bisa menjadi salah satu faktor utama yang menyebabkan kondisi seperti glaukoma dan neuropati optik, yang pada akhirnya dapat menyebabkan kehilangan penglihatan total.

Tak hanya kebutaan, stres juga dapat memperburuk kondisi mata

Setelah melakukan analisis pada ratusan studi dan uji klinis, lebih lanjut lagi, Prof. Sabel dan rekannya memberikan kesimpulan bahwa stres bukan hanya dapat menjadi konsekuensi dari kebutaan, namun juga dapat memperburuk kondisi mata.

“Ada bukti yang jelas mengenai psikosomatis pada kehilangan penglihatan, karena stres merupakan penyebab penting, bukan hanya konsekuensi, dari kehilangan progresif akibat penyakit seperti glaukoma, neuropati optik, retinopati diabetik, serta deregenerasi makula,” kata Prof Sabel.

Gejala stres

Stres dapat memengaruhi segala aspek dalam kehidupan, termasuk emosi, kemampuan untuk berpikir, perilaku, serta kesehatan fisik. Masing-masing orang menangani stres dengan cara yang berbeda, maka dari itu, gejala stres pada setiap orang tidak dapat disamakan.

Gejala stres dapat dilihat dari gejala emosional, fisik, kognitif, serta perilaku, Berikut adalah penjelasannya masing-masing seperti yang telah dilansir dari Webmd.

Gejala emosional:

  • Mudah tersinggung, frustasi, dan murung
  • Merasa kewalahan
  • Kesulitan untuk menenangkan pikiran
  • Memiliki perasaan buruk terhadap diri sendiri, merasa kesepian, tidak berharga, serta tertekan
  • Menghindari orang lain.

Gejala fisik:

  • Energi berkurang
  • Sakit kepala
  • Dapat menyebabkan diare, sembelit, atau bahkan mual
  • Otot terasa tegang atau bahkan nyeri
  • Detak jantung yang cepat
  • Insomnia
  • Gugup dan gemetar, telinga berdenging, tangan dan kaki terasa dingin atau berkeringat
  • Menggertakkan gigi.

Gejala kognitif:

  • Terus-menerus khawatir
  • Ketidakmampuan untuk fokus terhadap suatu hal
  • Bersikap pesimis atau hanya melihat sisi negatif
  • Pikiran kalut

Gejala perilaku:

  • Perubahaan dalam pola makan, misalnya saja napsu makan berkurang atau berlebih
  • Menunda atau menghindari tanggung jawab
  • Menunjukkan perilaku yang lebih gugup, seperti menggigit kuku, mondar-mandir, atau bahkan merasa gelisah.

Lalu, bagaimana cara mencegah dan mengatasi stres?

Berdasarkan studi yang dilakukan oleh Prof Sabel bersama dengan rekannya, strategi untuk mengurangi stres yakni seperti meditasi, pelatihan manajemen stres, dan psikoterapi atau konseling psikologis. Ini berfungsi untuk memulihkan penglihatan serta meningkatkan kesehatan mata.

Peneliti juga mengatakan bahwa teknik yang sudah disebutkan di atas harus direkomendasikan. Bukan hanya sebagai pelengkap untuk perawatan konvensional saja, tetapi juga harus digunakan sebagai pencegahan untuk mengurangi konsekuensi kebutaan.

Lebih lanjut lagi, Prof Sabel dan rekannya juga menyebutkan bahwa dokter harus berusaha semaksimal mungkin untuk menanamkan kepositifan dan optimisme kepada pasien sambil memberikan informasi yang menjadi hak pasien.

Peneliti juga mengakui bahwa masih diperlukan lebih banyak studi klinis untuk mengonfirmasi hasil dari temuan mereka.

Tak hanya itu, studi klinis lainnya juga diperlukan untuk memberikan penilaian terhadap kemanjuran berbagai strategi untuk mengurangi stres. Ini dalam upaya meningkatkan pemulihan penglihatan serta memperlambat hilangnya penghilatan.

Baca juga: Studi Buktikan Stres Bisa Picu Obesitas, Apa Kaitannya?

Cara lain untuk mengatasi serta mencegah stres

Untuk mengatasi dan mencegah stres kamu juga dapat melakukan cara-cara di bawah ini.

  • Mempertahankan sikap positif
  • Mempelajari dan mempraktikan teknik relaksasi, seperti meditasi atau yoga untuk mengelola stres
  • Olahraga secara teratur
  • Mengonsumsi makanan yang sehat
  • Belajar mengatur waktu agar lebih efektif
  • Meluangkan waktu untuk melakukan hobimu
  • Beristirahat dengan cukup
  • Meluangkan waktu dengan orang terdekat.

Stres yang berkepanjangan sangat tidak baik untuk kesehatan mental serta kesehatan tubuh kita. Maka dari itu, stres harus dikelola dengan baik.

Jika kamu atau orang terdekatmu merasa kewalahan dengan stres sehingga memengaruhi aktivitasmu, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter atau ahli kesehatan mental ya. Ini dilakukan guna untuk mencegah bahaya yang dapat ditimbulkan oleh stres.

Punya pertanyaan lain terkait masalah kesehatan lainnya? Silakan chat langsung dengan dokter kami untuk konsultasi. Mitra dokter kami siap memberi solusi. Yuk, download aplikasi Good Doctor di sini!

Reference

Mayo Clinic (2018). Diakses pada 09 November 2020. Persistent stress may lead to vision loss, study shows 

Sabel, Bernhard A, Jiaqi Wang, Lizbeth Cárdenas-Morales, Muneeb Faiq, dan Christine Heim. Mental stress as consequence and cause of vision loss: the dawn of psychosomatic ophthalmology for preventive and personalized medicine. Springer Link (diakses pada 09 November 2020)

Webmd (2019). Diakses pada 09 November 2020. Stress Symptoms 

Webmd (2020). Diakses pada 09 November 2020. Stress Management 

    register-docotr