Share This Article
Untuk yang ke-17 kalinya Republik Demokratik Kongo (RDK) menghadapi wabah ebola per Mei 2026 yang menyerang Provinsi Ituri bagian timur laut. Wabah disebabkan oleh virus ebola jenis Bundibugyo. Selain RDK, Uganda juga turut menghadapi wabah. Virus ini terbilang langka dan memiliki risiko kematian yang terbilang tinggi.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pun menyatakan wabah ebola di RDK sebagai darurat kesehatan masyarakat yang mendapat perhatian dunia internasional per 15 Mei 2026. Namun demikian wabah masih dianggap belum memenuhi kriteria pandemi global layaknya COVID-19 beberapa tahun lalu.
Punya risiko kematian yang sangat tinggi, artikel ini akan membahas lengkap penyakit ebola dan mengapa kamu harus mewaspadainya. Lanjutkan membaca.

BACA JUGA: Disease X: Penyakit yang Diprediksi Jadi Pandemi usai COVID-19
Mengenal Virus Penyebab Penyakit Ebola
Penyakit ebola pertama kali ditemukan pada 1976 di Republik Demokratik Kongo dan juga banyak ditemukan di wilayah Afrika sub-Sahara. Saat itu ada dua wabah yang terjadi secara simultan, satu wabah disebabkan oleh virus Sudan di Nzara, Sudan Selatan, dan wabah lainnya terjadi di Desa Yambuku dekat Sungai Ebola di RDK, dari situlah nama vrus Ebola disematkan.
Penyakit ebola disebabkan oleh virus orthoebola yang diduga kuat dibawa oleh kekelawar buah dari famili Pteropodidae yang merupakan inang alami Orthoebolavirus. Namun virus ini juga bisa menginfeksi simpanse, gorila, monyet, antelop hutan, atau landak.
Hingga kini setidaknya ada enam jenis virus ebola yang terindentifikasi, tiga diantaranya merupakan jenis virus yang menyebabkan wabah meluas, yakni:
- Tipe virus Ebola
- Tipe virus Sudan
- Tipe virus Bundibugyo
Infeksi akibat virus ebola bisa menyebabkan penyakit serius dan tidak jarang berakibat fatal yakni kematian dengan tingkat risiko mencapai 80-90 persen.
Cara Penularan Virus Ebola
Kekelawar buah atau binatang lainnya seperti yang dituliskan di atas menjangkiti manusia melalui paparan darah, kotoran, organ, atau cairan tubuh ketika binatang-binatang tersebut ditemukan manusia dalam kondisi sakit atau mati di hutan hujan tropis.
Penularan antarmanusia juga sama yakni lewat darah, feses, muntah, dan sperma orang yang terinfeksi. Virus masuk ke dalam tubuh melalui kulit yang terkelupas atau selaput lendir. Seseorang tidak bisa tertular virus hanya karena berada dekat pasien ebola karena virus ini tidak menyebar lewat udara. Penularan hanya bisa terjadi melalui kontak langsung dengan cairan tubuh individu yang terinfeksi dan seseorang hanya bisa menulari setelah menunjukkan gejala penyakit.
Petugas kesehatan sering terinfeksi saat merawat pasien ebola. Upacara pemakaman yang melibatkan kontak langsung dengan jenazah pasien terinfeksi juga dapat berkontribusi pada penularan penyakit Ebola.
Gejala Penyakit Ebola
Setelah menginfeksi manusia, gejala penyakit ebola dapat muncul dua hingga 21 hari setelah kontak dengan virus. Namun rata-rata, penderita menunjukkan gejala delapan hingga 10 hari setelah terpapar.
Awal kemunculan gejala dikenal sebagai gejala “kering” yang mencakup:
-Demam
-Nyeri otot dan persendian
-Sakit kepala hebat
-Kelelahan dan lemah
-Sakit tenggorokan.
Setelah empat atau lima hari sakit, gejala lalu berkembang jadi gejala basah, yakni:
-Hilang napsu makan
-Diare
-Sakit perut, muntah dan mual
-Perdarahan yang tidak bisa dijelaskan.
Gejala lainnya juga bisa muncul seperti nyeri dada, napas pendek, kebingungan, mata merah, ruam kulit, cegukan, dan kejang.
Penyakit ebola sering disalahartikan dengan malaria, influenza, demam tipoid, meningokokus, dan pneumonia.
Pengobatan Penyakit Ebola
Untuk penyakit Ebola dengan tipe Zaire ebolavirus, WHO merekomendasikan pengobatan dengan mAb114 (ansuvimabTM) atau REGN-EB3 (InmazebTM) yang keduanya merupakan antibodi monoklonal.
Sementara untuk penyakit ebola yang disebabkan oleh jenis virus Sudan dan Bundibugyo belum ada terapi yang disetujui, namun produk kandidat saat ini sedang dalam pengembangan dan protokol CORE untuk uji klinis.
Selain konsumsi obat di atas, perawatan suportif juga diperlukan untuk mendukung penyembuhan yang mencakup:
-Konsumsi cairan dan elektrolit (ion-ion tubuh) yang cukup
-Obat untuk menstabilkan tekanan darah, mengurangi muntah dan diare, serta mengatasi demam dan nyeri
-Pengobatan untuk infeksi lain, jika terjadi.
Vaksinasi untuk Pencegahan Ebola
Ada dua vaksin yang disetujui yakni:
-Ervebo (Merck & Co.)
-Zabdeno dan Mvabea (Janssen Pharmaceutica).
Vaksinasi direkomendasikan untuk orang usia 18 tahun ke atas yang berisiko terpapar virus Ebola.
Pencegahan Penularan Virus Ebola
Jika memungkinkan hindari berpergian ke negara-negara dengan risiko tinggi virus ebola. Namun jika memang terpaksa karena urusan pekerjaan atau pendidikan dan penelitian, sebaiknya:
-Hindari kontak dengan cairan tubuh, termasuk darah, urin, feses, air liur, keringat, muntah, ASI, cairan ketuban, air mani, dan cairan vagina dari orang yang terinfeksi. Jika pasien sudah sembuh harus dibuktikan dengan pengujian laboratoriun yang menunjukkan bahwa virus tidak lagi ada dalam cairan tubuh.
-Hindari kontak dengan pakaian, tempat tidur, jarum suntik, peralatan medis, atau barang-barang lain yang telah terkontaminasi dengan pasien atau binatang terinfeksi, maupun jenazah pasien dan bangkai binatang terinfeksi ebola.
Kementrian Kesehatan RI Siaga dan Minta Masyarakat Perkuat PHBS
Meski belum ditemukan kasusnya di Indonesia, namun pemerintah melakukan pemantauan ketat untuk mencegah masuknya virus ke Tanah Air, yakni dengan melakukan penguatan kewaspadaan lintas sektor.
“Kami memastikan seluruh pintu masuk negara, baik pelabuhan maupun bandara, meningkatkan pengawasan terhadap pelaku perjalanan, terutama yang berasal dari negara terdampak,” ujar Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes, Aji Muhawarman.
Upaya meliputi penyiagaan petugas kesehatan di lapangan, penguatan skrining pelaku perjalanan, serta penyiapan prosedur rujukan ke rumah sakit berstandar internasional jika ditemukan penumpang dengan gejala mirip Ebola.
Masyarakat juga dimbau memperkuat perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), yakni rajin cuci tangan menggunakan air dan sabun, pakai masker jika sakit, serta menerapkan etika batuk dan bersin. “Hindari juga kontak langsung dengan orang atau hewan yang sakit,” lanjut Aji.
Khusus kepada warga negara yang baru kembali dari perjalanan ke negara terdampak seperti RD Kongo dan Uganda, Kemenkes minta mereka segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan jika mengalami gejala demam atau perdarahan dalam kurun waktu 21 hari setelah kepulangan.
BACA JUGA: Jangan Ditunda, Ini Cara Menjalankan Pola Hidup Sehat di Masa Pandemi
Setelah membaca artikel di atas, yuk jangan panik terkait wabah virus ebola yang kini ditetapkan sebagai darurat kesehatan masyarakat internasional oleh WHO karena hingga kini belum ditemukan kasusnya di Tanah Air. Tapi jangan lengah juga ya, hal terbaik yang bisa dilakukan saat ini menjaga kesehatan tubuh agar tidak mudah terserang virus, yakni dengan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat
Jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter terpercaya melalui aplikasi Good Doctor Indonesia karena dokter berpengalaman kami siap melayani 24/7 di link ini.
Referensi:
1.cdc.gov, Ebola Disease Basics. Diakses 29 Mei 2026.
https://www.cdc.gov/ebola/about/index.html
2.who.int, Ebola disease. Diakses 29 Mei 2026.
https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/ebola-disease
3.cdc.gov, Signs and Symptoms of Ebola Disease. Diakses 29 Mei 2026.
https://www.cdc.gov/ebola/signs-symptoms/index.html
4. kms.kemkes.go.id, Virus Ebola. Diakses 29 Mei 2026.
https://kms.kemkes.go.id/contents/1721897356774-PD16VIRUSEBOLA.pdf
5.who.int, Bundibugyo virus disease outbreak Democratic Republic of the Congo. Diakses 29 Mei 2026.
https://www.afro.who.int/health-topics/ebola-disease/outbreak-drc-26
6. kemkes.go.id, WHO Tetapkan Ebola Sebagai PHEIC, Kemenkes Tingkatkan Pengawasan dan Imbau Masyarakat Tetap Waspada . Diakses 30 Mei 2026.
https://www.kemkes.go.id/id/who-tetapkan-ebola-sebagai-pheic-kemenkes-tingkatkan-pengawasan-dan-imbau-masyarakat-tetap-waspada7. who.int, Overview. Diakses 30 Mei 2026. https://www.who.int/emergencies/situations/ebola-outbreak—drc-2026

