Kesehatan Mental

Depresi dan ingin Bunuh Diri Rentan Dialami Penyintas Stroke, Bagaimana Faktanya?

April 19, 2021 | Nik Nik Fadlah | dr. Debby Deriyanthi
feature image

Bukan hanya pemulihan fisik saja yang penting diperhatikan bagi para penyintas stroke, melainkan juga kesehatan mental.

Sebuah studi melaporkan bahwa penyintas stroke rentan mengalami depresi dan melakukan percobaan bunuh diri. Bukan tanpa alasan, hal tersebut disebabkan oleh faktor tertentu.

Baca juga: Mengenal Psikoterapi Suportif, Berbicara sebagai Terapi untuk Mengutarakan Keresahan Hati

Mengenal stroke

Stoke adalah kondisi yang terjadi ketika suplai darah ke bagian otak terganggu atau berkurang, ini dapat menyebabkan jaringan otak tidak mendapatkan oksigen dan nutrisi yang cukup.

Stroke adalah keadaan darurat medis, perawatan yang tepat dan dilakukan dengan segera sangat penting.

Sebab, perawatan dini dapat mengurangi kerusakan otak dan komplikasi akibat stroke lainnya. ada dua penyebab utama dari stroke, yakni penyumbatan pada arteri (stroke iskemik) atau pecahnya pembuluh darah (stroke hemoragik).

Kondisi ini bisa menimbulkan beberapa gejala, di antaranya adalah:

  • Kesulitan berbicara
  • Kelumpuhan atau mati rasa pada wajah, lengan, atau bahkan kaki
  • Gangguan penglihatan
  • Sakit kepala
  • Gangguan keseimbangan atau koordinasi.

Baca juga: Mengenal Gejala Stroke Batang Otak

Studi yang dilakukan

Berdasarkan sebuah ulasan yang diterbitkan dalam jurnal American Heart Association (AHA), penyintas stroke rentan mencoba bunuh diri atau meninggal karena bunuh diri, dibandingkan mereka yang tidak pernah mengalami stroke.  

Mengenai ulasan yang diterbitkan tersebut, peneliti memeriksa data dari 23 studi yang diterbitkan sebelumnya dengan total lebih dari 2 juta penyintas stroke.

Peneliti menemukan bahwa sekitar 5.563 orang dalam penelitian tersebut melakukan percobaan bunuh diri atau meninggal akibat bunuh diri.

Jika dibandingkan dengan orang-orang yang tidak pernah mengalami stroke, penyintas stroke 2 kali lipat lebih rentan melakukan percobaan bunuh diri.

Apa penyebabnya?

Penulis utama dalam studi tersebut, yakni Manav Vyas, MBBS, menjelaskan bahwa penyintas stroke memiliki konsekuensi kesehatan fisik, kognitif, dan mental yang dapat membuat mereka rentan melakukan percobaan bunuh diri.

Beberapa bulan pertama setelah penyembuhan stroke merupakan fase paling krusial untuk memantau kesehatan mental penyintas stroke. Studi menemukan bahwa beberapa tahun setelah berlalunya stroke, risiko bunuh diri menurun hingga 3 persen.

Akan tetapi, studi tidak melakukan pembahasan lebih lanjut mengenai apa yang menyebabkan risiko bunuh diri meningkat setelah stroke atau penurunan risiko seiring berjalannya waktu.

Kemungkinannya adalah terdapat beberapa faktor berperan, termasuk tingkat keparahan atau riwayat kondisi mental sebelumnya.

Penyintas stroke juga rentan mengalami depresi

Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam International Journal of Stroke menemukan bahwa sekitar 1 dari 3 penyintas stroke mengalami depresi. Bahkan, setelah 5 tahun penyembuhan stroke, lebih dari 1 dari 5 penyintas stroke mengalami depresi.

Studi lain yang diterbitkan di Journal of Neurology, Neurosurgery, and Psychiatry menemukan bahwa depresi adalah salah satu faktor pemicu terbesar dari percobaan bunuh diri pada penyintas stroke.

Dalam penelitian ini, ditemukan bahwa hampir 1 dari 8 penyintas stroke berpikir bunuh diri.

Jika dibandingkan dengan penyintas stroke yang tidak pernah mengalami depresi, seseorang dengan riwayat depresi memiliki risiko hampir 7 kali lipat lebih tinggi. Stroke berulang, keterbatasan fisik atau kognitif yang lebih parah juga memiliki risiko lebih tinggi untuk berpikiran bunuh diri.

Terkait dengan hal ini, Vyas mengataskan, “Banyak penderita stroke mungkin tidak dapat mengkomunikasikan perasaan mereka karena kekurangan bahasa setelah stroke. Sehingga penting untuk mengevaluasi suasana hati mereka dan menyaring depresi dan pikiran untuk bunuh diri.”

Gejala depresi pascastroke

Penting diketahui bahwa stroke dapat memicu perubahan kimiawi di otak yang menghalangi kemampuan merasakan emosi positif dan memperkuat perasaan negatif. Pada penyintas stroke, terdapat beberapa gejala lain yang patut diperhatikan, di antaranya adalah:

  • Perasaan sedih atau khawatir yang terus menerus terjadi
  • Merasa putus asa atau tidak berdaya
  • Penurunan minat pada hobi atau aktivitas sebelumnya yang disukai
  • Kelelahan
  • Kesulitan dalam berkonsentrasi
  • Insomnia
  • Perubahan pada nafsu makan dan berat badan.

Bagaimana cara menanganinya?

Tekait dengan laporan tersebut, memerhatikan kesehatan mental pada penyintas stroke penting dilakukan.

Ada beberapa terapi yang dapat membantu membangun kembali keterampilan yang bisa dilakukan oleh penyintas stroke. Seperti terapi wicara untuk meningkatkan keterampilan komunikasi, terapi fisik yang ditujukan untuk membangun kembali koordinasi dan gerakan.

Tak hanya itu, terapi okupasi juga dapat membantu membangun kembali kemampuan dalam melakukan aktivitas sehari-hari. Apabila depresi tidak segera ditangani, ini dapat menyulitkan proses rehabilitasi bagi penyintas stroke.

Maka dari itu, pengobatan depresi juga penting untuk dilakukan. Selain itu, peran serta dukungan dari keluarga juga sangat dibutuhkan.

Konsultasikan masalah kesehatan kamu dan keluarga melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Mitra dokter kami siap memberi solusi. Yuk, download aplikasi Good Doctor di sini!

Reference

Ahajournals.org (2021). Diakses pada 16 April 2021. Association Between Stroke and Subsequent Risk of Suicide 

BMJ Journals. Diakses pada 16 April 2021. Rates and correlates of suicidal ideation among stroke survivors: a meta-analysis 

Everyday Health (2021). Diakses pada 16 April 2021. Stroke Survivors Have a Higher Risk of Suicide 

International Journal of Stroke (2014). Diakses pada 16 April 2021. Part I: Frequency of Depression after Stroke: An Updated Systematic Review and Meta-Analysis of Observational Studies 

Mayo Clinic (2021). Diakses pada 16 April 2021. Stroke 

    register-docotr