Kesehatan Mental

Benarkah Gerhana Bulan Bisa Pengaruhi Mood dan Kesehatan Mental?

May 29, 2021 | Dewi Nurfitriyana | dr. Debby Deriyanthi
feature image

Tepat di tanggal 26 Mei 2021 kemarin, fenomena astronomi Gerhana Bulan Total (GBT) terjadi sebagai sebuah momen yang sangat istimewa.

Bukan hanya karena peristiwa ini muncul setiap 195 tahun sekali, tapi karena momen tersebut juga beriringan dengan terjadinya Perige, atau ketika bulan berada di jarak terdekatnya dengan Bumi.

Terkait dengan hal ini, beberapa ahli astrologi percaya bahwa peristiwa GBT atau Super Blood Moon dapat memengaruhi kesehatan mental seseorang. Apa benar demikian?

Baca juga: Sering Tertukar, Kenali Perbedaan Halusinasi, Ilusi, dan Delusi

Kepercayaan bahwa bulan mempengaruhi kesehatan

Kepercayaan bahwa bulan berpengaruh pada penyakit dan kesehatan manusia sudah berlangsung sejak dulu. Dilansir dari Royal Museums Greenwich, pada abad ke-16, melacak posisi Bulan telah menjadi “bagian penting” dalam dunia pengobatan.

Pada saat itu para dokter akan menentukan bagaimana bulan memengaruhi kondisi tubuh pasien mereka. Bulan Purnama dianggap meningkatkan kemungkinan demam, dan para apoteker pun lalu menciptakan pengobatan herbal yang dianggap dipengaruhi oleh Bulan.

Selama ribuan tahun, kepercayaan tentang hubungan antara Bulan Purnama dan perilaku ekstrem terkait penyakit mental juga berkembang luas.

Sejarawan John J. Johnston, menjelaskan bagaimana Aristoteles percaya bahwa kandungan air yang tinggi di otak membuatnya rentan terhadap fase Bulan. Ini memunculkan teori bahwa Bulan Purnama berkaitan dengan perilaku kekerasan, kejang, sampai penyakit mental.

Studi tentang pengaruh bulan pada kesehatan mental

Seiring dengan berjalannya waktu, pengaruh bulan terhadap kesehatan mental kemudian diteliti oleh para ahli. Misalnya seperti yang diterbitkan dalam jurnal kesehatan di NCBI.

Penelitian ini bertujuan untuk mencari hubungan antara bulan purnama (full moon), bulan baru (new moon), dan bulan lainnya (other moon) terhadap frekuensi gangguan kejiwaan tertentu.

Studi tersebut memperoleh hasil diagnosis yang cukup menarik. Diketahui bahwa pada hari terjadinya bulan purnama, terdapat tren yang signifikan untuk sejumlah besar pasien baru psikosis non-afektif (gangguan jiwa yang tidak berkaitan dengan perasaan).

Tetapi pola tersebut tidak ditemukan untuk gangguan jiwa mania atau depresi. Kelebihan psikosis non-afektif juga lebih terlihat pada hari-hari terjadinya gerhana bulan. Hal ini diamini oleh Nick Davis, Dosen Senior Psikologi di Manchester Metropolitan University.

Dilansir dari CNN Indonesia, Davis mengatakan bahwa meski ada pertentangan, tapi ada kemungkinan orang yang pernah mendengar bahwa gerhana bulan dapat memengaruhi suasana hati, akan merasa terpengaruh, karena mereka telah menciptakan ekspektasi psikologis.

Baca juga: 3 Hal tentang Halo Effect dan Dampaknya bagi Kehidupan

Kemungkinan efek placebo dari gerhana bulan terhadap suasana hati

Efek placebo adalah dampak dari segala sesuatu yang tampak seperti perawatan medis “nyata” – tetapi sebenarnya bukan. Ini bisa berupa pil, suntikan, atau jenis pengobatan “palsu” lainnya.

Kaitannya dengan perubahan suasana hati akibat gerhana bulan, para ilmuwan menyatakan bahwa penyebab suasana hati seseorang akan terpengaruh oleh gerhana bulan, adalah karena ia yakin akan hal tersebut dan kemudian menyebabkan efek plasebo psikologis.

Hal serupa umum terjadi, misalnya ketika kamu memikirkan serangan kutu dan tiba-tiba kamu merasa gatal. Padahal kutu tersebut tidak ada sama sekali.

Pengaruh siklus bulan terhadap tidur

Tak hanya dikaitkan dengan perubahan suasana hati, kaitan antara siklus bulan juga banyak diteliti terhadap kualitas tidur seseorang.

Sebuah studi pada tahun 2013 yang dilakukan dengan 33 sukarelawan menemukan bahwa rata-rata mereka membutuhkan waktu lima menit lebih lama untuk tertidur selama Bulan Purnama. Relawan dalam percobaan juga menghabiskan 30 persen lebih sedikit waktu untuk tidur nyenyak.

Meskipun mudah untuk berasumsi bahwa peningkatan cahaya bulan dari Bulan Purnama mungkin menjadi penyebab gangguan tidur, penelitian ini diadakan di laboratorium tidur, di mana jumlah cahaya diatur secara ketat setiap malam.

Namun, setelah publikasi penelitian, dua percobaan lebih lanjut gagal mereplikasi hasil, sehingga diperlukan penelitian lebih lanjut untuk menguji validitas klaim tersebut.

Konsultasikan masalah kesehatan fisik maupun mental kamu dan keluarga melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Mitra dokter kami siap memberi solusi. Yuk, download aplikasi Good Doctor di sini!

Reference

Lapan diakses pada 28 Mei 2021

NCBI diakses pada 28 Mei 2021

RMG.co.uk diakses pada 28 Mei 2021

Web MD diakses pada 28 Mei 2021

CNN diakses pada 28 Mei 2021

    register-docotr