Info Sehat

Gunung Semeru Meletus, Waspadai 3 Dampak Buruk Abu Vulkanik bagi Kesehatan!

December 3, 2020 | Muhammad Hanif S. | dr. Pitoyo Marbun
no-image

Indonesia adalah salah satu negara yang masuk dalam ring of fire, yaitu wilayah yang memiliki banyak gunung berapi. Jelang akhir tahun, setidaknya ada dua gunung yang mengalami erupsi, yaitu Semeru di Jawa Timur dan Ile Lewotolo di Nusa Tenggara Timur.

Setiap letusan gunung selalu disertai abu vulkanik yang berasal dari dalam magma. Jika terhirup, debu tersebut dapat menimbulkan sejumlah dampak buruk bagi kesehatan. Apa saja? Yuk, simak ulasannya berikut ini!

Sekilas tentang abu vulkanik dan kandungannya

Abu vulkanik terbentuk selama letusan gunung berapi berlangsung. Ada banyak komponen dalam pembentukan abu tersebut, seperti batuan halus, mineral, dan zat menyerupai kaca yang kasar, keras, serta korosif.

Abu vulkanik mengandung jutaan partikel mikroskopik yang bisa tertiup hingga beberapa kilometer dari lokasi letusan, tergantung pada kecepatan angin dan jenis erupsi. Partikel tersebut bisa terhirup oleh manusia tanpa disadari, terutama bagi warga yang tinggal di sekitar gunung.

Mengutip dari The National Association of Geoscience Carleton College, dari banyak partikel yang terkandung, ada beberapa yang diidentifikasi sebagai senyawa berbahaya bagi manusia. Di antaranya adalah sulfat (sulfur dioksida), asam hidroklorik, dan asam flourida.

Bahaya abu vulkanik bagi kesehatan

Ada beberapa dampak buruk yang dapat terjadi ketika seseorang menghirup terlalu banyak partikel dari abu vulkanik. Mata, kulit, dan paru-paru adalah bagian tubuh yang sangat rentan mengalami efek serius jika terpapar oleh abu tersebut.

Berikut penjelasan lengkapnya:

1. Masalah pernapasan

Dalam banyak kasus, abu vulkanik bisa terbentuk sangat halus sehingga tak terasa ketika terhirup masuk. Dengan paparan yang tinggi, orang sehat pun akan mengalami ketidaknyamanan di dada hingga batuk.

Dikutip dari United State Geological Survey (USGS), partikel yang berukuran di bawah 10 mikron sudah bisa membuat seseorang mengalami iritasi di saluran pernapasan bagian atas seperti asma. Rongga udara menjadi menyempit, lalu kamu akan kesulitan bernapas.

Jika abu berhasil masuk lebih dalam, berbagai masalah paru-paru mungkin akan terjadi, seperti emfisema, silikosis, dan bronkitis akut. Gejala paling umum dari gangguan pernapasan akibat menghirup debu vulkanik di antaranya:

  • Keluar cairan lendir atau ingus dari hidung tanpa disadari
  • Tenggorokan sangat gatal
  • Batuk kering secara tiba-tiba
  • Dada terasa sesak
  • Pernapasan menjadi tidak nyaman

2. Masalah pada mata

Efek lain yang tak kalah membahayakan akibat paparan debu vulkanik adalah iritasi pada mata. Seperti yang telah disebutkan, partikel abu vulkanik sangat kasar dan keras, meski berukuran kecil. Hal tersebut bisa menyebabkan goresan di kornea, bagian depan mata.

Lama-kelamaan, keadaannya dapat berujung pada konjungtivitis (mata merah akibat peradangan). Jika kamu pengguna lensa kontak, ada baiknya tak memakainya saat terjadi erupsi gunung berapi. Sebab, hal itu dapat memperparah keadaan.

Gejala atau tanda yang biasanya terjadi adalah:

  • Terasa ada benda asing yang masuk (kelilipan)
  • Mata tiba-tiba terasa nyeri
  • Warna putih pada mata berubah kemerahan
  • Sensasi panas dan terbakar
  • Muncul garis-garis yang sangat tipis, disebabkan oleh goresan partikel vulkanik

3. Masalah kulit

Meski persentasenya tidak setinggi dua gangguan di atas, kamu tetap berpotensi mengalami masalah kulit akibat paparan debu vulkanik. Mengutip dari The International Volcanic Health Hazard Network, debu vulkanik memiliki sifat asam.

Hal tersebut dapat menyebabkan iritasi jika terkena kulit jenis tertentu. Belum lagi, abu yang dihasilkan dari dalam gunung itu juga bersifat korosif. Iritasi dapat ditandai dengan munculnya ruam kemerahan, bintik-bintik kecil, dan rasa gatal.

Efek tidak langsung dari abu vulkanik

Masih ada beberapa efek pada tubuh dari abu vulkanik yang terjadi secara tidak langsung, di antaranya adalah:

  • Air terkontaminasi: Pasokan air di tempat terbuka sangat mungkin terkontaminasi partikel dari hujan abu. Tentunya, ini bisa memberi dampak buruk pada tubuh jika diminum
  • Sanitasi tercemar: Hujan abu bisa memperparah sanitasi yang buruk. Risiko terkena penyakit di daerah terdampak menjadi lebih tinggi

Apa yang harus dilakukan?

Saat terjadi gunung meletus, tetaplah tenang. Panik justru membuatmu tak bisa berpikir jernih. Untuk meminimalkan risiko menghirup abu vulkanik, kamu dapat melakukan beberapa hal berikut:

  • Tetaplah diam di rumah, jika tempat tinggalmu berada di area atau radius yang masih aman
  • Pintu dan jendela usahakan tertutup rapat. Tempatkan handuk atau kain basah pada lubang, celah, dan jalur masuk udara
  • Jika menggunakan air conditioner atau AC, atur agar udara luar tidak bisa masuk ke dalam ruangan
  • Jika terpaksa keluar rumah untuk mengungsi, selalu gunakan masker. Masker khusus debu bisa kamu gunakan, meski harganya lebih mahal
  • Gunakan kacamata pelindung dan pakaian lengan panjang saat berada di luar
  • Basahi partikel debu dan abu untuk mencegahnya kembali menguap dan beterbangan
  • Hindari melakukan aktivitas berat atau mengerahkan tenaga ekstra, karena bisa membuatmu bernapas lebih dalam dan menghirup abu vulkanik

Nah, itulah ulasan tentang bahaya abu vulkanik gunung meletus bagi kesehatan yang perlu kamu tahu. Sebisa mungkin gunakan perlindungan ekstra agar partikel vulkanik tidak terhirup masuk ke dalam tubuh, ya!

Konsultasikan masalah kesehatan kamu dan keluarga melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Mitra dokter kami siap memberi solusi. Yuk, download aplikasi Good Doctor di sini!

Reference

  1. USGS, diakses 2 Desember 2020, Volcanic Ash Impacts & Mitigation.
  2. American Lung Association, diakses 2 Desember 2020, Volcanic Ash.
  3. Government of Canada, diakses 2 Desember 2020, Potential Health Effects Of Volcanic Ash.
  4. The International Volcanic Health Hazard Network, diakses 2 Desember 2020, Health impacts of volcanic ash.
  5. Carleton College, diakses 2 Desember 2020, Volcanic Ash: More Than Just A Science Project.

    Berita Terkait
    register-docotr