Covid-19

Studi Terbaru: Antibodi Monoklonal Bisa Kurangi Risiko Kematian Akibat COVID-19

June 23, 2021 | Muhammad Hanif S. | dr. Raja Friska Yulanda
feature image

Para peneliti terus melakukan uji coba terhadap sejumlah obat agar bisa dipakai dalam penanganan pasien COVID-19. Pertengahan 2020, terapi antibodi monoklonal mulai digunakan. Baru-baru ini, terapi itu disebut bisa meminimalkan risiko kematian akibat COVID-19.

Lantas, apa sebenarnya antibodi monoklonal itu? Bagaimana mekanismenya dalam melawan virus corona? Yuk, simak ulasan lengkapnya berikut ini!

Antibodi monoklonal dan cara kerjanya

Antibodi monoklonal adalah antibodi yang diciptakan di laboratorium, memiliki struktur dan fungsi seperti antibodi yang ada di dalam tubuh manusia. Secara alami, antibodi merupakan protein yang diproduksi oleh sistem kekebalan, berfungsi memberi perlindungan terhadap infeksi.

Antibodi monoklonal bekerja dengan cara mengikat antigen, yaitu molekul kecil yang mampu memacu sistem imun menghasilkan antibodi alami di dalam tubuh. Antigen terbentuk saat ada molekul dari luar seperti virus atau bakteri.

Nah, antibodi monoklonal adalah salinan identik dari antibodi alami yang bekerja dengan cara menargetkan satu antigen khusus. Dalam perawatan pasien COVID-19, antibodi monoklonal dibuat secara spesifik agar cocok dengan antigen yang telah terbentuk akibat masuknya virus corona.

Terapi ini sudah disetujui oleh FDA

Penggunaan antibodi monoklonal sebenarnya bukan sesuatu yang baru. Terapi ini sudah dipakai dalam menangani banyak orang saat terjadi wabah Ebola di Afrika. Tak hanya itu, antibodi monoklonal juga biasa dipakai dalam perawatan infeksi serius, misalnya HIV.

Food and Drug Administration (FDA) sendiri telah mengeluarkan izin darurat penggunaan antibodi monoklonal untuk penanganan COVID-19.

Bisa bantu minimalkan risiko kematian

Salah satu antibodi monoklonal yang saat ini digunakan dalam penanganan pasien COVID-19 adalah sotrovimab. Antibodi monoklonal tersebut diklaim bisa meminimalkan risiko kematian akibat COVID-19.

Menurut sebuah penelitian, seperti dikutip dari laman resmi FDA, penggunaan sotrovimab berhasil menekan angka kematian pada pengidap COVID-19 berusia dewasa. Uji coba melibatkan sekitar 583 orang, 291 di antaranya mendapatkan terapi antibodi monoklonal.

Hasilnya, rawat inap atau kematian terjadi pada 21 (7%) pasien yang menerima plasebo dibandingkan dengan 3 (1%) pasien yang diobati dengan sotrovimab.

Bisa lawan sejumlah varian baru

Munculnya varian baru virus corona membuat banyak kalangan khawatir terhadap efektivitas obat yang digunakan dalam penanganan COVID-19. Sampai Juni 2021, World Health Organization (WHO) telah mengidentifikasi 11 varian baru yang sudah diberi nama sesuai abjad Yunani.

Penelitian oleh sejumlah pakar di beberapa universitas di Amerika Serikat yang terbit baru-baru ini menyebutkan, terapi antibodi monoklonal cukup efektif dalam melawan beberapa varian baru dari SARS-CoV-2, di antaranya:

  • Alfa (B.1.1.7), strain yang pertama kali ditemukan di Inggris pada September 2020
  • Beta (B.1.351), strain yang pertama kali muncul di Afrika Selatan pada akhir 2020
  • Gamma (B.1.1.28), strain yang pertama kali ditemukan di Brazil pada November 2020
  • Delta (B.1617.1), strain yang muncul pertama kali di India pada Oktober 2020

Baca juga: 10 Nama Baru untuk Varian Virus Corona Pemicu COVID-19, Cek di Sini!

Syarat untuk perawatan antibodi monoklonal

Terapi antibodi monoklonal hanya boleh dilakukan oleh tenaga kesehatan profesional. Jadi, hanya bisa dilakukan di rumah sakit. Antibodi akan dimasukkan melalui infus dan efeknya diamati secara berkala.

Untuk saat ini, penggunaannya hanya boleh untuk pasien COVID-19 yang punya penyakit bawaan cukup parah, baik bergejala ringan atau sedang. Menurut FDA, pasien yang menjalani terapi antibodi monoklonal setidaknya harus memenuhi satu dari kriteria berikut:

  • Memiliki indeks massa tubuh (IMT) sama dengan atau lebih besar dari 35
  • Mengidap penyakit ginjal kronis, diabetes, atau kondisi imunosupresif
  • Berusia lebih dari 65 tahun
  • Berusia di atas 55 tahun dan mengidap penyakit kardiovaskular, hipertensi, penyakit paru obstruktif kronik (PPOK), atau penyakit pernapasan kronis lainnya
  • Berusia 12-17 tahun dan punya BMI sama dengan atau lebih besar dari persentil ke-85 berdasarkan usia dan jenis kelamin, serta mengidap penyakit sel sabit, penyakit jantung, gangguan saraf, asma, atau penyakit kronis lain yang membutuhkan pengobatan harian

Nah, itulah ulasan tentang terapi antibodi monoklonal yang diklaim bisa membantu meminimalkan risiko kematian akibat COVID-19. Untuk membantu memutus penularan, selalu terapkan protokol kesehatan di mana pun kamu berada, ya!

Konsultasi lengkap seputar COVID-19 di Klinik Lawan COVID-19 dengan mitra dokter kami. Yuk, klik link ini untuk download aplikasi Good Doctor!

Reference

  1. Food and Drug Administration (FDA), diakses 22 Juni 2021, Coronavirus (COVID-19) Update: FDA Authorizes Additional Monoclonal Antibody for Treatment of COVID-19.
  2. Medial News Today, diakses 22 Juni 2021, Monoclonal antibodies for COVID-19: What do we know so far?.
  3. Nature, diakses 22 Juni 2021, In vivo monoclonal antibody efficacy against SARS-CoV-2 variant strains.
  4. World Health Organization (WHO), diakses 22 Juni 2021, Tracking SARS-CoV-2 variants.
  5. Good Rx, diakses 22 Juni 2021, The Latest Research on COVID-19 Treatments and Medications in the Pipeline.

    register-docotr