Covid-19

Studi: COVID-19 Bisa Menyebabkan Disfungsi Ereksi, Ini Alasannya!

July 14, 2021 | Nik Nik Fadlah | dr. Raja Friska Yulanda
feature image

COVID-19 diketahui dapat menimbulkan beberapa dampak. Bahkan, baru-baru ini sebuah penelitian menyebutkan bahwa COVID-19 dikhawatirkan juga dapat berdampak pada organ reproduksi, yang mana juga dapat menyebabkan disfungsi ereksi (DE).

Untuk mengetahui fakta selengkapnya mengenai COVID-19 dan disfungsi ereksi, simak penjelasannya di bawah ini.

Baca juga: Mengenal Pengobatan COVID-19, Ini yang Perlu Diperhatikan!

Studi mengenai COVID-19 dan disfungsi ereksi

Studi terbaru tersebut menyebutkan bahwa DE sebagai kemungkinan konsekuensi COVID-19 bagi para penyintas. Penting untuk diketahui bahwa virus penyebab COVID-19, yakni SARS-CoV-2 dapat menginfeksi tubuh dengan memasuki sel-sel sehat.

Secara khusus, protein virus masuk ke dalam sel melalui reseptor angiotensin converting enzyme 2 (ACE2). Reseptor tersebut terdapat pada sel-sel di sistem saluran pernapasan dan pencernaan. Akan tetapi, berdasarkan sebuah studi terbaru, reseptor ACE2 juga terdapat di sel Leydig pada testis.

Hal tersebut menyebabkan virus juga dapat menginfeksi sistem reproduksi pria dan menyebabkan kerusakan pada testis. Perlu kamu ketahui bahwa sel Leydig dapat menghasilkan androgen dan testoteron di bawah kendali pituitary luteinizing hormone (LH).

Studi menunjukkan penurunan rasio pembentukan testoteron terhadap LH pada pasien COVID-19, yang juga menunjukkan gangguan steroidogenesis akibat disfungsi pada testis.

Di samping itu, pemeriksaan pada jaringan testis dari 12 pasien COVID-19 juga menunjukkan penurunan sel Leydig secara signifikan, yang diikuti dengan edema dan peradangan di interstitium.

Adakah studi lainnya?

Perlu kamu ketahui bahwa studi tersebut bukanlah merupakan satu-satunya studi yang menunjukkan kemungkinan keterkaitan antara COVID-19 dan gangguan pada sistem reproduksi pria. Studi yang diterbitkan pada tahun 2020 juga menunjukkan keterkaitan yang sama.

Studi yang dilakukan terhadap pria berusia 31 dan 44 tahun yang menjalani perawatan di intensive care unit (ICU) tersebut menemukan bahwa keduanya mengalami disfungsi seksual, atau lebih tepatnya anorgasmia setelah pulih dari COVID-19.

Sebagai informasi, anorgasmia adalah suatu kondisi yang menyebabkan seseorang tidak mampu untuk mencapai orgasme, meskipun telah mengalami rangsangan seksual.

Baca juga: Selama Isolasi Mandiri, Ini 4 Poin Penting Pemantauan Pasien Positif COVID-19

Faktor pemicu disfungsi ereksi pada penyintas COVID-19

Pada dasarnya, para peneliti masih terus mempelajari mengenai keterkaitan antara COVID-19 dengan DE. Namun, disebutkan bahwa terdapat tiga faktor yang dapat memicu DE pada pria yang sebelumnya terinfeksi COVID-19. Adapun faktor tersebut di antaranya adalah:

1. Masalah kardiovaskular

DE bisa menjadi tanda awal kondisi yang memengaruhi jantung. Dikutip dari laman Web MD, penelitian menunjukkan bahwa COVID-19 dapat memengaruhi kesehatan jantung.

Ya, COVID-19 dapat menyebabkan peradangan di berbagai bagian tubuh, tak terkecuali jantung dan pembuluh darah di dekatnya.

Di samping itu, COVID-19 juga dikaitkan dengan disfungsi endotel, yakni ketika lapisan dalam atau dinding pembuluh darah tidak berkontraksi untuk memungkinkan aliran darah berjalan dengan baik.

Hal tersebut dapat memengaruhi proses pemompaan dan aliran darah ke seluruh tubuh, termasuk jaringan di penis. Nah, suplai darah yang terganggu menuju penis dapat membuat seorang pria sulit untuk mendapatkan atau mempertahankan ereksi.

2. Pengaruh mental

Stres, kecemasan, dan depresi terkait dengan COVID-19 juga dapat memengaruhi kesehatan seksual, sehingga juga dapat berpotensi menyebabkan DE.

3. Kondisi kesehatan secara keseluruhan

Di samping faktor yang sudah disebutkan di atas, DE juga dapat menjadi suatu gejala kondisi medis lain. Kesehatan yang tidak baik dapat meningkatkan gejala COVID-19 yang lebih serius serta risiko terjadinya DE.

Menurut ahli urologi, Ryan Berglund, MD, disfungsi ereksi dapat menjadi penanda kesehatan secara keseluruhan. Sementara itu, bagi pria yang berusia muda dan sehat yang tiba-tiba mengalami DE, terutama setelah COVID-19, ini bisa menjadi pertanda sesuatu yang lebih serius terjadi.

Pada dasarnya, masih diperlukan banyak penelitian untuk mengetahui efek jangka pendek maupun panjang dari COVID-19 terhadap kesehatan seksual dan reproduksi. Para ahli sendiri masih belum yakin apakah komplikasi tersebut dapat memengaruhi kesuburan atau tidak.

Namun yang pasti, para ahli menyarankan untuk melakukan vaksinasi COVID-19 untuk menurunkan risiko DE sebagai efek samping.

Nah, itulah beberapa informasi mengenai COVID-19 dan kaitannya dengan DE. Untuk memutus mata rantai penyebaran COVID-19, jangan lupa selalu terapkanlah protokol kesehatan, ya.

Jika kamu memiliki pertanyaan lain seputar COVID-19, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter.  

Konsultasi lengkap seputar COVID-19 di Klinik Lawan COVID-19 dengan mitra dokter kami. Yuk, klik link ini untuk download aplikasi Good Doctor!

Reference

Cleveland Clinic (2021). Diakses pada 13 Juli 2021. Yes, COVID-19 Can Cause Erectile Dysfunction 

CNN Indonesia (2021). Diakses pada 13 Juli 2021. Studi: Covid-19 Berisiko Sebabkan Disfungsi Ereksi

Proceedings of the National Academy of Sciences of the United States of America (2006). Diakses pada 13 Juli 2021. Modulation of Leydig cell function by cyclic nucleotide phosphodiesterase 8A 

Very Well Health (2020). Diakses pada 13 Juli 2021. An Overview of Male Anorgasmia 

Webmd (2021). Diakses pada 13 Juli 2021. Coronavirus: What Happens When You Get Infected? 

Webmd (2021). Diakses pada 13 Juli 2021. COVID-19 and Erectile Dysfunction: What to Know

NCBI (2021). Diakses pada 13 Juli 2021. Addressing male sexual and reproductive health in the wake of COVID-19 outbreak 

NCBI (2020). Diakses pada 13 Juli 2021. A Late COVID-19 Complication: Male Sexual Dysfunction 

    register-docotr