Covid-19

Perlu Diwaspadai, Ini Varian Baru COVID-19 yang Muncul di China

July 14, 2022 | Arianti Khairina | dr. Elizabeth C. Palar
feature image

Kasus COVID-19 yang saat ini terus meningkat, ternyata membuat anjuran protokol kesehatan semakin ketat. Masyarakat pun kembali diminta untuk tetap menggunakan masker dan wajib mendapatkan vaksin. Agar lebih waspada ketahui yuk varian baru yang muncul di China baru-baru ini dan gejala COVID-19 terbaru menurut WHO secara umum.

Varian baru COVID-19 NeoCov di China

gejala COVID-19 terbaru menurut WHO
Source: kompas.com

Melansir dari laman CNBC Indonesia, diketahui bahwa saat ini China sedang menghadapi gelombang kenaikan kasus COVID-19 yang disebabkan oleh kemunculan varian baru yaitu NeoCov. 

Walaupun varian NeoCov ini tidak sekuat Delta yang sangat mematikan atau Omicron, namun tetap saja tidak bisa disepelekan begitu saja. NeoCoV sebenarnya juga bukanlah varian baru dari virus Corona, tetapi dari jenis virus Corona yang terkait dengan sindrom pernapasan Timur Tengah atau Mers-CoV.

Sederhananya, NeoCoV ini merupakan kerabat dekat dari Mers-CoV yang beredar pada hewan kelelawar. Dalam penelitian yang diterbitkan beberapa waktu lalu menurut CNBC Indonesia, para ilmuwan yang berbasis di Wuhan memperingatkan NeoCoV bisa menyebabkan masalah apabila  ditransfer dari kelelawar ke manusia.

SARS-CoV-2, MERS, dan NeoCov sendiri termasuk dalam kelompok virus yang dikenal sebagai coronavirus. Menurut penjelasan Al Jazeera, terdapat ratusan virus corona, yang sebagian besar beredar di antara hewan seperti babi, kelelawar, unta, dan kucing. 

Beberapa virus corona tersebut dapat menginfeksi manusia, hingga menyebabkan gejala seperti pilek ringan. Namun, hanya ada tiga virus corona yang diketahui mampu menyebabkan gejala serius pada manusia, yaitu: 

  • Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS) yang muncul pada 2002 dan merupakan bentuk pneumonia sangat menular. Virus satu ini berpotensi mengancam jiwa dan biasanya hanya ditemukan pada mamalia kecil bermutasi. 
  • Middle East Respiratory Syndrome (MERS), virus satu ini awalnya ditularkan dari unta ke manusia dan pertama kali diidentifikasi pada 2012. Virus ini terus menyebabkan wabah sporadis dan lokal. MERS biasanya diawali dengan gejala demam dan batuk, yang dapat berkembang menjadi pneumonia dan kesulitan bernapas.
  • COVID-19 yaitu virus SARS-CoV-2 yang menyebabkan penyakit coronavirus 2019. Ini pertama kali diidentifikasi di Cina pada Desember 2019 dan dinyatakan sebagai pandemi global oleh World Health Organization (WHO).

Kemudian, untuk virus NeoCov pertama kali diidentifikasi pada 2011 dan menginfeksi spesies kelelawar yang dikenal sebagai Neonomicia. Virus ini sebagian besar ditemukan di beberapa bagian Afrika.

Awalnya, NeoCov disebut tidak menginfeksi manusia, namun setelah para ilmuwan di China mempelajarinya lebih lanjut, baru diketahui bahwa ada potensi menginfeksi manusia. 

Gejala NeoCov

gejala COVID-19 terbaru menurut WHO
Source: freepik.com/jcomp

Meskipun diketahui menyebar di antara hewan, namun para ilmuwan mengklaim NeoCov memiliki gejala yang mirip dengan SARS-CoV-2. Seperti yang sudah disebutkan juga sebelumnya, NeoCov berpotensi menginfeksi manusia. Dilansir dari Health Site, beberapa gejala umum yang mungkin dialami adalah: 

  • Demam
  • Kehilangan penciuman dan rasa
  • Diare
  • Pilek
  • Hidung tersumbat
  • Nyeri dada
  • Batuk terus-menerus
  • Sakit kepala
  • Nyeri tubuh
  • Nyeri otot.

Gejala COVID-19 terbaru menurut WHO 

Gejala COVID-19 menurut WHO yang paling umum dialami oleh pasien positif, yaitu: 

  • Demam
  • Batuk
  • Kelelahan
  • Kehilangan rasa atau bau.

Namun, ada juga beberapa gejala yang kurang umum terjadi, seperti:

  • Sakit tenggorokan
  • Sakit kepala
  • Sakit dan nyeri
  • Diare
  • Ruam pada kulit, atau perubahan warna pada jari tangan atau kaki
  • Mata merah atau iritasi.

Sebagian orang juga mungkin mengalami gejala yang lebih serius:

  • Kesulitan bernapas atau sesak napas. 
  • Kehilangan bicara atau mobilitas, atau kebingungan.
  • Alami sakit di bagian dada.

Apakah vaksin COVID-19 efektif melawan NeoCov?

gejala COVID-19 terbaru menurut WHO
Source: freepik.com/crowf

Sebuah studi menemukan kekebalan atau antibodi saat ini yang diperoleh dari vaksinasi COVID-19 sebelumnya mungkin tidak akan efektif dalam mencegah NeoCov. Alasannya karena NeoCov mengikat reseptor ACE2 daripada SARS-CoV-2.

Namun, terkait dengan  vaksin ini masih harus melakukan penelitian lebih lanjut untuk membuktikan apakah benar vaksin COVID-19 tidak efektif dalam melawan NeoCov. 

Baca juga: Wajib Tahu! Apakah Tetap Bisa Ajukan Asuransi Jika Sudah Pernah Terinfeksi COVID-19?

Konsultasi lengkap seputar COVID-19 di Klinik Lawan COVID-19 dengan mitra dokter kami. Yuk, klik link ini untuk download aplikasi Good Doctor!

Sudah punya asuransi kesehatan dari perusahaan tempatmu bekerja? Ayo, manfaatkan layanannya dengan menghubungkan benefit asuransi milikmu ke aplikasi Good Doctor! Klik link ini, ya.

Reference
  1. Aljazeera.com (2022) diakses pada 14 Juli 2022. NeoCov: What is this virus and should we be worried?
  2. Who.int (2022) diakses pada 14 Juli 2022. Coronavirus disease (COVID-19)
  3. Livemint.com (2022) diakses pada 14 Juli 2022. Is NeoCov a new covid variant? Should we be worried? What doctors say
  4. Thehealthsite.com (2022) diakses pada 14 Juli 2022. New Coronavirus Strain NeoCov: How Dangerous Is It, What Are The New Symptoms? All You Need To Know
  5. Republicworld.com (2022) diakses pada 14 Juli 2022. NeoCov Variant Symptoms, Cases And Recovery Rate; All You Need To Know
  6. Cnbcindonesia.com (2022) diakses pada 14 Juli 2022. China Suram! Muncul Lagi Varian Baru Covid, Lebih Mematikan?
    register-docotr