Covid-19

Cara Cepat Mengembalikan Fungsi Indra Penciuman dan Perasa Akibat COVID-19

July 14, 2021 | Dewi Nurfitriyana | dr. Pitoyo Marbun
feature image

Gejala awal infeksi COVID-19 yang paling jelas terlihat adalah hilangnya rasa dan penciuman, yang juga dikenal sebagai anosmia. Meski membuat cemas, tapi pada umumnya ini tidak berlangsung terlalu lama.

Kamu bahkan dapat membantu mengurangi gejala-gejalanya dari rumah selama masa isolasi mandiri, maupun setelah pulih dari infeksi.

Baca juga: Fakta di Balik Hoax Vaksin Sinovac Bisa Memperbesar Alat Kelamin

Mengapa COVID-19 menghilangkan fungsi indra penciuman dan perasa?

Kehilangan indra penciuman pada pasien COVID-19 terjadi karena kekurangan reseptor ACE2. Ini diakibatkan kerusakan saraf penciuman oleh virus tersebut.

Dilansir Becker Hospital Review, sebuah studi yang menganalisis data dari 2.581 pasien di Prancis, Belgia, dan Italia menemukan bahwa 86 persen pasien dengan kasus COVID-19 ringan mengalami anosmia.

Kehilangan penciuman sendiri sering dianggap sebagai prediktor yang lebih baik untuk menentukan apakah seseorang telah terinfeksi corona atau tidak, ketimbang gejala umum lainnya seperti demam atau batuk.

Cara mengembalikan fungsi indra penciuman dan perasa

Nah, jika kamu terdiagnosis positif COVID-19, ada cara tepat untuk membantu mengembalikan segera fungsi indra penciuman dan perasa yang hilang. Berikut ulasannya:

Pelatihan fungsi indra penciuman dan perasa

Dilansir BBC, Prof Carl Philpott dari the University of East Anglia’s Norwich Medical School mengatakan 90 persen penderita COVID-19 yang telah sembuh, berhasil memulihkan indra penciumannya dalam kurun waktu enam bulan.

Hal ini salah satunya didorong oleh ‘pelatihan penciuman’ yang bertujuan mengembalikan kinerja saraf penciuman setelah terganggu oleh virus COVID-19.

Kamu bisa melihatnya lewat berbagai video online tentang orang-orang yang mencoba memicu indra perasa mereka setelah pulih dari corona. Ada yang makan makanan aromatik seperti jeruk, sampai ada juga yang menggigit bawang putih tanpa dimasak.

Walaupun sebagian orang mungkin menganggap beberapa upaya ini tampak tidak masuk akal, namun dilansir Jefferson Health, hal tersebut justru bisa jadi benar-benar berhasil.

Ahli otolaringologi di Jefferson Health, Australia, David Rosen, MD, mengatakan ‘pelatihan penciuman’ memanfaatkan neuroplastisitas tubuh. Ini adalah kemampuan tubuh untuk membentuk jalur saraf baru sehingga bisa memulihkan indra penciuman dan perasa yang telah rusak.

Baca juga: Vaksin COVID-19: Amankah untuk Ibu Menyusui?

Bagaimana melakukan pelatihan penciuman dan perasa?

Dalam prosesnya, latihan penciuman akan melibatkan mengendus empat hal yang memiliki bau khas dan mudah dikenali. Misalnya jeruk, daun mint, bawang putih atau kopi, sebanyak dua kali sehari selama beberapa bulan.

Asam alfalipoat, suplemen vitamin A, dan semprotan hidung steroid yang dijual bebas juga diketahui dapat membantu kesuksesan pelatihan saraf penciuman untuk mulai bekerja kembali.

Namun kamu perlu mempertimbangkan beberapa efek samping yang mungkin terjadi. Efek samping steroid termasuk retensi cairan, tekanan darah tinggi, dan masalah dengan perubahan suasana hati serta perilaku.

Agar mengurangi risiko-risiko tersebut, Rosen merekomendasikan untuk mencium barang-barang yang tersedia di sekitar rumah saja. Selain tidak membutuhkan banyak biaya, juga bisa membantu kamu menguasai bau baru secara perlahan-lahan.

Setelah mulai berhasil mencium aroma kopi, parfum, jeruk, atau berbagai jenis minyak esensial, kamu bisa melanjutkan latihan ini dengan beralih ke aroma baru lainnya.

Waktu pemulihan fungsi indra penciuman dan perasa

Setelah melakukannya, mungkin indra penciuman dan perasa kamu tetap tidak kembali sepenuhnya. Tak perlu khawatir, setidaknya langkah tersebut telah melatih proses penciuman otak kembali ke ‘jalur’ yang benar agar bisa mengenali berbagai bau berbeda.

Fungsi pelatihan penciuman juga berlaku jika kamu baru saja pulih dari COVID-19, tetapi masih kehilangan bau dan rasa. Rosen bahkan merekomendasikan untuk memulai latihan ini sejak dini.

Waktu pemulihan bervariasi antara orang yang satu dengan lainnya. Ada yang berhasil sembuh dalam beberapa hari, tapi ada juga yang mungkin membutuhkan waktu berbulan-bulan.

Rosen mengatakan bahwa perubahan pada penciuman dan perasa adalah tanda pemulihan yang baik. Ini berarti bahwa beberapa regenerasi saraf sedang terjadi.

Masih punya pertanyaan lainnya? Konsultasi lengkap seputar COVID-19 di Klinik Lawan COVID-19 dengan mitra dokter kami. Yuk, klik link ini untuk download aplikasi Good Doctor!

Reference

The Health Nexus diakses pada 13 Juli 2021

BBC diakses pada 13 Juli 2021

Becker’s Hospital Review diakses pada 13 Juli 2021

Gavi.org diakses pada 13 Juli 2021

 

    register-docotr