Covid-19

Dibalik Ragam Manfaat Vitamin D, Bisakah Menurunkan Risiko Infeksi dan Mencegah COVID-19?

July 13, 2020 | Ajeng Dwiri Banyu | dr. Ario W. Pamungkas
feature image

Vitamin D dapat larut dalam lemak dan memainkan sejumlah peran penting untuk tubuh, namun bisakah menurunkan risiko infeksi bahkan mencegah kita dari terinfeksi COVID-19?

Ya, perlu diketahui jika vitamin D termasuk nutrisi yang sangat penting untuk meningkatkan sistem kekebalan pada tubuh. 

Penting untuk dicatat bahwa saat ini belum ada obat pasti untuk COVID-19 selain tindak pencegahan, seperti jaga jarak. Nah, untuk itu yuk simak penjelasan lebih lengkap mengenai keterkaitan vitamin D dengan COVID-19.

Baca juga: Serangan Jantung Pada Anak Muda? Ini Penyebab dan Cara Pencegahannya!

Apa pengaruh vitamin D untuk kesehatan tubuh?

Vitamin D diperlukan karena berfungsi untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Jika tubuh memiliki sistem kekebalan yang kuat maka infeksi dan penyakit bisa dicegah lebih awal.

Tidak hanya itu, vitamin ini juga memainkan peran penting dalam meningkatkan respons imun.

  • Bagus untuk aktivasi pertahanan sistem kekebalan tubuh, meningkatkan fungsi sel-sel kekebalan, dan makrofag yang melindungi tubuh dari patogen.
  • Kadar vitamin D dalam tubuh rendah seringkali dikaitkan dengan peningkatan kerentanan terhadap infeksi, penyakit, gangguan kekebalan tubuh lainnya.
  • Rendahnya kadar vitamin D dikaitkan dengan peningkatan risiko penyakit pernapasan termasuk TBC, asma, dan penyakit paru obstruktif paru atau PPOK.
  • Kekurangan vitamin D berkaitan dengan penurunan fungsi paru-paru yang dapat memengaruhi kemampuan tubuh untuk melawan infeksi pernapasan. 
  • Vitamin D akan membantu memodulasi pertumbuhan sel dan mengurangi peradangan.

Karena itu, untuk mempertahankan tingkat vitamin D dalam darah maka anak-anak di bawah usia 1 tahun disarankan mengonsumsi 400 unit internasional atau IU setiap hari.

Untuk anak berusia 1 hingga 70 tahun dianjurkan mengonsumsi 600 IU. Sementara orang dengan usia di atas 70 tahun harus mendapatkan 800 IU per harinya.

Vitamin D juga hadir secara alami dalam beberapa makanan, seperti salmon. Karena itu, perhatikan juga asupan makanan yang mengandung vitamin D di dalamnya.

Bisakah vitamin D mencegah infeksi akibat COVID-19?

Saat ini belum ada penelitian yang menemukan bahwa terdapat efek suplemen vitamin D dapat mengurangi risiko tertular virus corona.

Namun, ada beberapa penelitian yang menunjukkan bahwa kekurangan vitamin D dapat menurunkan fungsi kekebalan tubuh dan meningkatkan risiko terkena penyakit pernapasan. 

Selain itu, suplemen vitamin D juga dapat meningkatkan respons kekebalan dan melindungi tubuh terhadap infeksi pernapasan secara keseluruhan.

Tinjauan baru-baru ini yang melibatkan 11.321 orang dari 14 negara menunjukkan bahwa pemberian suplemen vitamin D bisa membantu menurunkan risiko infeksi saluran pernapasan akut atau ISPA. 

Suplemen vitamin D telah terbukti mengurangi angka kematian pada orang dewasa yang lebih tua terutama jika berisiko terjangkit penyakit pernapasan seperti COVID-19.

Perlu diingat bahwa belum ada bukti ilmiah secara pasti mengenai keterkaitan mengonsumsi vitamin D dengan perlindungan terhadap pengembangan COVID-19.

Namun, kekurangan vitamin D dapat meningkatkan kerentanan terhadap infeksi dan penyakit yang secara keseluruhan dapat merusak fungsi kekebalan tubuh.

Kurangnya vitamin D pada tubuh sangat mengkhawatirkan mengingat banyak orang yang lebih tua memiliki risiko paling tinggi mengalami komplikasi terkait COVID-19.

Baca juga: Cegah Serangan Jantung dan Stroke, Yuk Ketahui Obat Kolesterol Alami yang Aman untuk Tubuh

Perawatan yang biasa dokter lakukan

Biasanya, penyedia layanan kesehatan akan menguji kadar vitamin D untuk menentukan apakah kamu memiliki kekurangan nutrisi penting satu ini. Pemberian vitamin D pada tubuh bergantung pada level darah yang sedang dimiliki.

Dokter umumnya menambahkan 1.000 sampai 4.000 IU vitamin D per hari untuk kebanyakan orang. Namun, jika memiliki kadar darah yang rendah maka akan lebih sering membutuhkan dosis jauh lebih tinggi untuk mendapatkan kisaran optimal.

Efek pencegahan dengan melakukan perawatan dengan cara ini akan lebih signifikan meningkat pada orang yang memiliki kadar vitamin D rendah. Akan tetapi, perlu diingat untuk mengonsumsi vitamin D dalam jumlah dosis yang tepat.

Hal ini dikarenakan terlalu banyak mengonsumsi vitamin D bisa menyebabkan penumpukkan kalsium dalam darah, rasa mual, lemas, sering buang air kecil, dan detak jantung tidak teratur.

Untuk itu, lakukan konsultasi segera bersama dokter lebih lanjut mengenai dosis paling tepat dalam mengonsumsi vitamin D.

Ada baiknya untuk melakukan pencegahan sesuai protokol dari pemerintah selain dengan mengonsumsi suplemen vitamin D.

Jika kamu memiliki riwayat penyakit serius ataupun memiliki gejala terinfeksi COVID-19, maka segera berkonsultasi kepada dokter untuk langkah berikutnya.

Pencegahan yang segera bisa membantu mengurangi risiko berbahaya lebih lanjut, seperti kematian. Pastikan juga untuk mempertahankan sistem kekebalan tubuh agar infeksi penyakit tidak mudah masuk ke dalam tubuh.

Pantau perkembangan situasi pandemi di Indonesia melalui situs resmi Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

Konsultasi lengkap seputar COVID-19 di Klinik Lawan COVID-19 dengan mitra dokter kami. Yuk, klik link ini untuk download aplikasi Good Doctor!

Reference
  1. Webmd (2020), diakses 8 Juli 2020. More Vitamin D, Lower Risk of Severe COVID-19?
  2. Healthline (2020), diakses 8 Juli 202. Can Vitamin D Lower Your Risk of COVID-19?
  3. Cleveland Clinic (2020), diakses 8 Juli 2020. Can Vitamin D Prevent COVID-19?
    register-docotr