Kehamilan

Ciri-ciri Air Ketuban Pecah yang Perlu Diperhatikan Moms, Apa Saja?

January 16, 2021 | Nik Nik Fadlah | dr. Raja Friska Yulanda
no-image

Kelahiran buah hati adalah momen yang paling dinantikan oleh orangtua. Salah satu tanda si Kecil akan lahir adalah air ketuban pecah. Lantas, bagaimana ciri-ciri air ketuban pecah?

Mengenali ciri-ciri air ketuban pecah memang tidak mudah, terlebih lagi air ketuban pecah memiliki kemiripan seperti keluarnya urine. Nah, agar bumil lebih mengenali kondisi ini, yuk, simak ulasannya di sini.

Baca juga: 4 Fakta tentang Perut Ibu Hamil yang Kecil, Benarkah akibat Kurang Air Ketuban?

Ciri-ciri air ketuban pecah

Selama kehamilan, bayi di dalam kandungan dilindungi oleh kantung selaput berisi cairan yang disebut dengan kantung ketuban. Ketika tiba waktunya si Kecil lahir, kantung ini biasanya akan pecah dan air ketuban dapat keluar melalui vagina, atau yang lebih dikenal sebagai air ketuban pecah.

Jika air ketuban pecah sebelum minggu ke-37 kehamilan, ini disebut sebagai preterm premature rupture of membranes (PPROM) dan ini harus diwaspadai. Sebab, risiko infeksi serta persalinan prematur dapat meningkat.

Ada banyak sekali ciri-ciri air ketuban pecah yang penting untuk diketahui oleh bumil. Berikut adalah beberapa ciri-ciri air ketuban pecah.

1. Air ketuban seperti menetes

Saat ketuban pecah, kamu mungkin saja merasakan sensasi basah pada perineum ataupun vagina. Jika ketuban pecah secara alami, kamu mungkin saja merasakan tetesan air secara lambat.

Mengutip Healthline, jumlah cairan yang keluar ketika air ketuban pecah bergantung dari beberapa faktor, termasuk lokasi di mana terjadinya air ketuban pecah.

2. Air ketuban terasa seperti mengucur

Beberapa wanita mungkin mengalami air ketuban mengucur deras atau menyembur secara tiba-tiba yang tidak dapat dikendalikan. Sedangkan, sebagian lainnya mungkin saja air ketuban hanya menetes sedikit.

Menurut Sherry Ross, MD, seorang dokter kandungan di Providence Saint John’s Health Center, California, Amerika Serikat, hal tersebut juga dapat dipengaruhi oleh posisi bayi di dalam rahim. Seperti dilansir dari The Bump.

Ketika ibu hamil mendekati due date, kepala bayi mungkin lebih rendah di panggul. Pada saat kepala bayi menekan serviks, cairan yang keluar tidak terlalu banyak. Namun, apabila bayi tidak bergerak di panggul saat selaput pecah, volume cairan yang keluar dapat meningkat.

3. Kenali ciri-ciri air ketuban pecah dengan memerhatikan warnanya

Pada dasarnya, tidak mudah untuk mengetahui ciri-ciri air ketuban pecah atau tidak. Misalnya, mungkin sulit untuk membedakan cairan ketuban dengan urine, terlebih lagi jika cairan yang dikeluarkan sedikit.

Pada dasarnya, cairan ketuban berwarna bening. Namun terkadang, air ketuban juga memiliki warna kekuningan. Melansir dari laman NHS, ketika air ketuban pecah, awalnya air ketuban mungkin saja disertai bercak darah. Selain itu, konstitensi air ketuban pun benar-benar cair.

Jika air ketuban berwarna hijau atau kuning kehijauan, ini dapat disebabkan oleh mekonium. Ini terjadi ketika bayi sudah buang air besar.

Jika hal tersebut terjadi segeralah hubungi dokter. Sebab, ini dapat memengaruhi langkah-langkah yang akan diambil selama persalinan.

Baca juga: Apakah Bisa Melahirkan Normal Setelah Caesar? Ini Jawabannya!

4. Merasakan tekanan tanpa rasa sakit

Beberapa wanita hamil mengalami rasa seperti tekanan ketika air ketuban pecah. Sebagian lainnya, merasakan sensasi seperti letupan yang kemudian diikuti dengan air ketuban yang merembes. Namun, kondisi tersebut tidak diiringi rasa sakit.

Meskipun demikian, melansir dari laman Parents, Ilana Ressler, M.D, seorang ahli endokrinologi reproduksi di Reproductive Medicine Associates mengatakan bahwa kontraksi dapat meningkat dari segi frekuensi maupun intensitas setelah air ketuban pecah.

5. Terasa seperti mengeluarkan urine

Ciri-ciri air ketuban pecah juga dapat terasa seperti inkontinensia urine, yakni kondisi yang umum terjadi selama trimester ketiga kehamilan. Meskipun demikian, terdapat perbedaan antara urine dan air ketuban.

Urine sendiri memiliki warna kekuningan dan terkadang memiliki bau seperti amonia. Di sisi lain, air ketuban tidak berbau sama sekali atau sedikit berbau manis.

6. Ciri-ciri air ketuban pecah: Tidak lengket

Tak jarang, air ketuban pecah juga seringkali disalahartikan sebagai keputihan, terutama jika air ketuban keluar secara perlahan.

Baik air ketuban dan keputihan tidak berbau. Akan tetapi, terdapat perbedaan mendasar mengenai keputihan yang perlu diketahui.

Pada dasarnya, keputihan tampak bening, berwarna putih atau krem. Keputihan sendiri memiliki konstitensi yang lebih kental, lengket, atau tampak seperti lendir. Sedangkan, air ketuban benar-benar cair dan tidak lengket.

Nah, itulah beberapa informasi mengenai ciri-ciri air ketuban pecah. Jika kamu memiliki pertanyaan lebih lanjut terkait kondisi ini jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter, ya.

Konsultasikan masalah kesehatan Anda dan keluarga melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Mitra dokter kami siap memberi solusi. Yuk, download aplikasi Good Doctor di sini!

Reference

Healthline (2020). Diakses pada 05 Januari 2021. How to Tell if Your Water Broke or You Just Peed 

Mayo Clinic (2019). Diakses pada 05 Januari 2021. Water breaking: Understand this sign of labor

NHS (2019). Diakses pada 05 Januari 2021. Signs that labour has begun 

Parents (2020). Diakses pada 05 Januari 2021. 5 Signs Your Water is Breaking in the Third Trimester 

The Bump (2017). Diakses pada 05 Januari 2021. What to Know About Your Water Breaking During Pregnancy 

University of Rochester Medical Center. Diakses pada 05 Januari 2021. Preterm Premature Rupture of Membranes (PPROM) 

    Berita Terkait
    register-docotr