Kehamilan

Benarkah Anemia Bisa Menghambat Program Kehamilan? Ini Faktanya!

January 11, 2021 | Anisya Fitrianti | dr. Raja Friska Yulanda
feature image

Anemia adalah kondisi medis yang disebabkan oleh rendahnya kadar zat besi dalam tubuh. Anemia bisa terjadi karena tubuh tidak menghasilkan sel darah merah yang sehat dengan cukup.

Nah, kondisi ini dipercaya dapat menghambat program kehamilan, benarkah demikian? 

Fakta anemia yang disebut menghambat kehamilan 

Ketika kamu sedang mencoba untuk hamil, sedang hamil, atau dalam masa nifas, kadar zat besi adalah hal yang akan terus dipantau oleh dokter.

Zat besi ini berperan untuk pembentukan hemoglobin atau protein dalam sel darah merah yang bertugas untuk membawa oksigen ke sel lain dalam tubuh, termasuk sel telur. 

Nah, bila tubuh kekurangan zat besi, kamu akan berisiko mengalami anovulasi. Anovulasi adalah ketika sel telur gagal matang sehingga tidak ada sel telur yang bisa dibuahi sperma. Kondisi ini tentu akan membuat peluang kehamilan semakin kecil.

Di samping itu ada kemungkinan juga sel telur dapat terbentuk tapi kualitasnya kurang baik. Ketika sel telur tidak terbentuk dengan sehat, pembuahan juga akan sulit terjadi. Dalam beberapa kasus, pembuahan bisa saja berhasil, tapi kehamilannya sulit untuk bertahan lama. 

Penting diingat, kasus anemia yang terjadi sebelum kehamilan juga kerap menjadi faktor utama dari keguguran atau kematian janin di dalam kandungan.

Maka dari itu, asupan zat besi harus seimbang. Baik sebelum masa kehamilan, selama masa kehamilan hingga masa nifas. 

Baca juga: Bukan Cuma Pusing, Ini Ragam Gejala Anemia yang Mesti Kamu Waspadai

Risiko menjalani kehamilan dalam kondisi anemia

Bila kamu masih mengalami kondisi anemia yang parah atau tidak diobati kemudian mengalami kehamilan, kamu akan berisiko tinggi mengalami:

  • Bayi prematur atau berat lahir rendah
  • Kehilangan banyak darah selama persalinan sehingga perlu transfusi darah
  • Depresi pascapersalinan
  • Bayi mengalami anemia
  • Bayi mengalami keterlambatan pertumbuhan

Baca juga: Apakah Anemia Bisa Diobati dengan Transfusi Darah?

Apa yang harus dilakukan jika didiagnosis anemia saat program hamil?

Bila kamu mengalami anemia dan berencana untuk menjalankan program kehamilan, lakukan pemeriksaan prakonsepsi. Pemeriksaan prakonsepsi ini penting agar kamu dapat berdiskusi lebih lanjut soal kondisimu dengan dokter.

Di samping itu, kamu juga akan menjalani tes darah untuk menentukan seberapa parah anemia yang kamu alami. Dalam kebanyakan kasus, anemia ringan selama kehamilan sebenarnya tidak menimbulkan masalah jika diketahui dan diobati sejak dini. 

Untuk itu, melakukan pemeriksaan sangat penting agar kamu bisa melakukan perawatan yang tepat. Berikut adalah tes darah yang biasanya dilakukan:

  • Tes hemoglobin. Tes ini dilakukan untuk mengukur jumlah hemoglobin yakni protein kaya zat besi dalam sel darah merah yang membawa oksigen dari paru-paru ke jaringan di dalam tubuh.
  • Tes hematokrit. Tes ini dilakukan untuk mengukur persentase sel darah merah dalam sampel darah.

Baca juga: Apakah Alergi saat Hamil dapat Memengaruhi Perkembangan Janin? 

Makanan untuk wanita anemia yang ingin program hamil

Cara terbaik untuk mengatasi anemia adalah dengan memperbaiki nutrisi. Bila kamu sedang menjalani program kehamilan dan memiliki kondisi anemia, cobalah untuk penuhi asupan zat besi.

Secara umum, pada kondisi hamil, kebutuhan zat besi akan meningkat hingga sebesar  27 mg per hari. 

Supaya program kehamilan berjalan dengan lancar, kamu perlu memenuhi asupan zat besi baik lewat makanan atau suplemen. Berikut ini adalah makanan yang direkomendasikan untuk wanita yang ingin menjalankan program kehamilan:

  • Makanan kaya zat besi, seperti daging sapi, udang, kacang-kacangan, lentil, dan sereal
  • Makanan yang meningkatkan penyerapan zat besi, seperti jus jeruk, stroberi, brokoli, dan paprika
  • Hindari makanan yang mencegah penyerapan zat besi, seperti produk susu, produk kedelai, kopi, dan teh

Di samping itu, American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG) merekomendasikan agar semua wanita mengonsumsi vitamin prenatal saat menjalani program kehamilan. Sementara, wanita dengan anemia, konsumsinya harus diiringi dengan zat besi tambahan.

Menurut penelitian, wanita yang minum zat besi secara teratur menurunkan risiko infertilitas hingga 40 persen. Dengan demikian, minum asupan zat besi tambahan sesuai anjuran dokter menjadi perawatan yang sangat disarankan.

Pastikan untuk mengecek kesehatan Anda dan keluarga secara rutin melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Download di sini untuk berkonsultasi dengan mitra dokter kami.

Reference
    register-docotr