Hipertensi

Apakah Kesulitan Bicara Setelah Kena Stroke Bisa Sembuh?

May 19, 2021 | Fitri Chaeroni | dr. Pitoyo Marbun
feature image

Salah satu gejala atau permasalahan yang kerap dialami oleh seseorang yang mengalami stroke adalah berkurangnya kemampuan dalam berkomunikasi. Bisakah masalah ini disembuhkan?

Melansir McMaster University, setidaknya sepertiga orang yang mengalami stroke mengalami kesulitan dengan bahasa dan komunikasi yang dapat mencakup memahami, membaca, menulis, dan berbicara.

Padahal komunikasi, terutama berbicara, merupakan hal yang sangat penting dalam bersosialisasi sehari-hari. Lalu, apakah masalah kesulitan bicara pascastroke ini bisa sembuh? Ini ulasannya!

Mengapa orang yang mengalami stroke sulit bicara?

Masalah komunikasi sangat umum terjadi setelah stroke. Saat kita berkomunikasi, otak kita harus menyelesaikan serangkaian tugas.

Setiap bagian otak bertanggung jawab untuk masing-masing tugas yang berbeda. Jika salah satu bagian ini rusak akibat stroke, maka dapat menyebabkan masalah komunikasi.  

Pascastroke sangat umum seseorang dapat mengalami lebih dari satu jenis kesulitan komunikasi. Kesulitan ini memengaruhi setiap orang secara berbeda.

Jenis-jenis kesulitan komunikasi pascastroke

Kesulitan komunikasi pascastroke, ada beberapa jenis tergantung pada tempat terjadinya stroke di otak. Ada 2 jenis utama kesulitan komunikasi orang pascastroke:

1. Kesulitan bahasa (afasia)

Afasia adalah memengaruhi kemampuan untuk berbicara dan memahami apa yang dikatakan orang lain.

Ini berkaitan dengan cara orang memproses bahasa, baik lisan atau tulisan di otak mereka. Seseorang yang sembuh dari stroke masih memiliki kemampuan intelijen yang sama baiknya seperti sebelum mereka terkena stroke.

Namun mereka kesulitan untuk menggunakan atau memahami bahasa. Ada banyak jenis aphasia dengan gejala yang berbeda-beda.

2. Kesulitan bicara (disartria dan apraxia)

Disartria terjadi ketika seseorang tidak dapat mengontrol otot-otot di wajah, mulut, dan tenggorokan dengan baik, sehingga sulit untuk berbicara dengan jelas. Ini bisa berarti ucapannya menjadi cadel atau lambat atau suara terdengar pelan.

Sementara apraxia adalah ketika seseorang tidak dapat menggerakkan otot-otot di wajah, mulut, atau tenggorokan dalam urutan yang benar saat berbicara. Hal ini dapat membuat orang lain sulit memahaminya.

Orang yang sembuh dari stroke dan mengalami disartria maupun apraxia tahu apa yang ingin mereka katakan, dan bagaimana mengatakannya. Tapi tubuh mereka tidak mau bekerja sama sehingga yang terucap jauh dari apa yang mereka pikirkan di otak.

Baca Juga : Depresi dan ingin Bunuh Diri Rentan Dialami Penyintas Stroke, Bagaimana Faktanya?

Apakah sulit bicara pascastroke bisa disembuhkan?

Masalah komunikasi dapat diatasi dengan terapi wicara dan bahasa. Terapis bicara dan bahasa dapat membantu pasien yang sembuh dari stroke meningkatkan kemampuan bicara, membaca, dan menulis sebanyak mungkin.

Mereka juga dapat membantu kamu mempelajari cara lain untuk berkomunikasi. Ini dikenal sebagai kompensasi atau strategi koping.

Mereka mencakup apa saja mulai dari gerakan hingga perangkat elektronik apa pun yang dapat membantu seseorang menyampaikan apa yang ingin dikatakan.

Perawatan untuk masalah sulit bicara pascastroke

Cara terbaik adalah memulai rehabilitasi secepat mungkin setelah terkena stroke. Melansir McMaster University, penelitian menunjukkan bahwa terapi bahasa wicara merupakan cara yang efektif untuk meningkatkan keterampilan bahasa dan komunikasi setelah stroke.

Bukti juga menunjukkan bahwa terapi bahasa wicara dengan intensitas yang lebih tinggi, misalnya terapi dengan sesi lebih banyak atau untuk durasi yang lebih lama. Ini dapat berkontribusi pada peningkatan yang lebih besar atau lebih cepat.

Berikut beberapa hal yang akan dilakukan selama terapi pemulihan dalam masalah sulit bicara pascastroke:

1. Perawatan untuk penderita apraxia

Perawatan akan difokuskan untuk membantu otot-otot bekerja sama. Pasien dapat berusaha membuat suara secara akurat dan meningkatkan kecepatan dan ritme berbicara.

Pasien dapat berlatih menggunakan kata-kata dan kalimat yang secara bertahap menjadi lebih panjang dan kompleks.

2. Perawatan untuk penderita disartria

Perawatan akan difokuskan untuk meningkatkan kekuatan dan koordinasi otot bicara pasien.

Pasien mungkin berlatih berbicara dengan pelan atau keras dan melebih-lebihkan ucapan. Selain itu pasien juga dapat menggunakan penguat suara untuk membuat suara lebih keras.

Baca Juga : Serba-serbi Stroke pada Anak: Efek, Penyebab dan Cara Mengatasinya

Tips membantu komunikasi pasien pascastroke yang kesulitan bicara

Pemulihan stroke melibatkan kesabaran, ketekunan dan pengertian dari orang yang terkena serta keluarga dan teman.

Jika kamu sedang merawat orang yang sembuh dari stroke dan sedang dalam terapi kesulitan bicara, kamu bisa membantu mereka berkomunikasi dengan cara:

  • Pastikan kamu bertatap muka saat berbicara
  • Bicaralah di tempat yang tenang tanpa gangguan
  • Pastikan hanya satu orang yang berbicara pada satu waktu
  • Bicaralah perlahan dengan kalimat pendek dan sederhana
  • Gunakan gerakan, tulisan, atau gambar
  • Perjelas saat topik telah berubah
  • Periksa untuk memastikan kamu telah mendengar dan memahami dengan benar
  • Jika kamu tidak mengerti pertama kali, coba cara lain

Punya pertanyaan lebih lanjut seputar kesehatan? Mitra dokter kami siap memberi solusi. Yuk, download aplikasi Good Doctor di sini!

Reference

WebMD. Diakses pada 18 Mei 2021. Talking and Communication After a Stroke

Stroke Association. Diakses pada 18 Mei 2021. Communication problems

Stroke Foundation. Diakses pada 18 Mei 2021. Communication after stroke

McMaster University. Diakses pada 18 Mei 2021. Regaining language skills after a stroke: Will speech therapy help?

    register-docotr