Info Sehat

Apakah Usus Buntu Harus Dioperasi? Ketahui Prosedurnya di Sini

May 19, 2021 | Fitri Chaeroni | dr. Pitoyo Marbun
feature image

Operasi merupakan salah satu prosedur yang dilakukan untuk menangani pasien radang usus buntu. Prosedur ini dilakukan dengan cara memotong atau mengangkat usus buntu.

Lalu, apakah semua pasien usus buntu harus menjalani operasi? Apakah ada dampak negatif dari prosedur pengangkatan organ usus buntu ini?

Untuk mengetahui jawabannya, mari kita simak penjelasan berikut ini.

Baca Juga: Waspada! Gangguan Kesehatan Ini Bisa Muncul Saat Puasa Jika Kamu Tidak Bijak

Mengenal penyakit usus buntu

Penyakit usus buntu atau apendisitis merupakan kondisi di mana usus buntu kita mengalami peradangan. Peradangan ini bisa terjadi karena adanya sumbatan pada lubang atau saluran usus buntu.

Radang usus buntu biasanya menunjukkan gejala mulai dari nyeri di perut bagian kanan bawah, mual, muntah, diare,konstipasi, hingga demam ringan. Jika tak segera diatasi peradangan bisa memburuk dan mengakibatkan pecahnya usus buntu.

Pada kebanyakan kasus, pasien harus menjalani operasi pengangkatan usus buntu. Operasi usus buntu dikenal dengan sebutan appendectomy. 

Untuk mengetahui selengkapnya terkait penyakit usus buntu mulai dari gejala, penyebab, diagnosis, hingga penanganan, kamu bisa baca artikel ini.

Mengenal operasi usus buntu

operasi usus buntu
Radang usus buntu. Sumber Foto : https://www.stuff.co.nz/

Operasi usus buntu dalam dunia medis disebut dengan appendectomy. Appendectomy ini termasuk operasi emergency yang sering terjadi. 

Prosedur ini dilakukan dengan cara memotong dan mengangkat usus buntu yang terinfeksi. Usus buntu sendiri berbentuk seperti kantong kecil yang terhubung dengan usus besar.

Letaknya ada di perut bagian kanan bawah. Saat seseorang mengalami radang, maka pasien harus segera menjalani operasi untuk mencegah usus buntu pecah. Jika tidak maka akan menimbulkan risiko yang berbahaya.

Kenapa usus buntu harus dipotong?

Usus buntu sebenarnya bukanlah organ vital, artinya kita bisa hidup baik-baik saja tanpanya. Meski begitu, letaknya yang dekat dengan usus besar membuatnya rentan akan infeksi.

Baik infeksi karena bakteri, tumpukan kotoran, maupun bahan menular lainnya. Jika usus buntu terinfeksi maka perlu segera diangkat sebelum menginfeksi usus besar dan organ lain di dalam perut.

Usus buntu bisa pecah dalam rentang waktu 48 hingga 72 jam setelah gejala awal muncul. Jika ini terjadi maka risiko infeksi parah bernama peritonitis bisa terjadi di perut dan mengancam nyawa.

Maka dari itu, saat usus buntu mengalami peradangan, sakit, bengkak, dan infeksi dokter biasanya akan menyarankan prosedur operasi usus buntu. 

Gejala usus buntu yang harus kamu waspadai

Jika kamu mengalami gejala usus buntu di bawah ini, segera periksakan diri ke dokter sebelum semakin parah dan pecah.

  • Rasa sakit pada perut bagian kanan bawah
  • Perut yang terlihat membengkak
  • Otot perut terasa kaku
  • Sembelit atau diare
  • Mual
  • Muntah
  • Nafsu makan menghilang
  • Demam ringan.

Jenis-jenis operasi usus buntu

Jenis operasi usus buntu.
Jenis operasi usus buntu. Sumber Foto : https://www.arhamsurgicalhospital.com/

Dilansir dari John Hopkins Medicine, ada 2 metode yang biasa dilakukan untuk mengangkat usus buntu yang meradang. Berikut penjelasannya:

1. Open appendectomy

Pada metode ini, dokter akan membuka sayatan sepanjang 2 sampai 4 inchi pada perut bagian kanan bawah, tepat di mana lokasi usus buntu berada.

Dari lubang sayatan itulah dokter akan memotong dan mengeluarkan usus buntu yang meradang. Jika usus buntu sudah pecah, dokter juga akan membersihkan bagian dalam perut kamu dari nanah yang menyebar.

2. Laparoscopic appendectomy

Metode ini tergolong baru dan tidak membutuhkan banyak sayatan pada perut pasien. Dokter akan membuat 1 sampai 3 sayatan kecil di bagian perut pasien.

Setelah itu dokter akan memasukkan alat bernama laparoskopi lewat sayatan. Selain alat bedah, laparoskopi ini memiliki kamera yang memungkinkan dokter melihat kondisi perut melalui layar monitor.

Sambil melihat di monitor dan mengarahkan alat bedah, dokter akan memotong usus buntu dan mengeluarkannya melalui lubang sayatan.

Yang perlu kamu tahu soal metode operasi usus buntu ini:

  • Jika dokter mendapati usus buntu kamu telah pecah, dokter biasanya menyarankan untuk melakukan metode open appendectomy. Begitupun saat kamu menjalani laparoskopi, jika ternyata ditemukan kondisi sudah parah dokter bisa saja menggunakan metode open appendectomy. 
  • Metode laparoskopi cenderung lebih tidak sakit dan meninggalkan bekas luka yang lebih minim. Selain itu, masa rawat inap, masa penyembuhan, dan risiko infeksi juga lebih rendah.
  • Meski begitu, kedua metode ini sama-sama aman dan memiliki risiko komplikasi yang sangat rendah. Bekas luka yang ditinggalkan juga sama-sama akan terlihat samar setelah sembuh.
  • Saat ini sudah sudah ada beberapa penelitian yang menyebut bahwa radang usus buntu bisa disembuhkan tanpa operasi, dengan cara pemberian antibiotik intravena. Namun hasil studi ini masih kontroversial, sehingga prosedur operasi masih jadi standar perawatan untuk penyakit usus buntu.

Adakah risiko dari operasi usus buntu?

Meski tergolong aman, namun risiko lain bisa saja terjadi. Berikut beberapa risiko yang mungkin terjadi terkait operasi usus buntu:

  • Pendarahan.
  • Infeksi luka.
  • Luka atau cedera pada organ di sekitar usus buntu.
  • Penyumbatan pada usus.

Tapi yang perlu kamu tahu risiko dari operasi usus buntu ini tidak lebih berbahaya daripada usus buntu yang tidak ditangani segera. Appendectomy harus segera dilakukan untuk mencegah abses dan peritonitis.

Persiapan sebelum operasi usus buntu

Jika kamu mengalami gejala penyakit usus buntu dan ingin segera mengunjungi dokter, beginilah prosedur yang umumnya akan dilewati setiap pasien.

  • Pada awal konsultasi, pihak medis akan menjelaskan berbagai macam tentang prosedur operasi ini. Jika kamu memiliki pertanyaan atau ketakutan, konsultasikan dengan dokter.
  • Setelah itu kamu ataupun wali biasanya akan diminta untuk menandatangani formulir persetujuan untuk melakukan operasi. Baca semua poin dengan teliti dan tanyakan jika ada poin yang tidak jelas sebelum tandatangan.
  • Jika sudah disetujui, pihak medis akan menanyakan kondisi kesehatan kamu di masa lalu, termasuk dengan melakukan pemeriksaan fisik, tes lab, tes darah, dan lain-lain. Ini dilakukan untuk memastikan jika kamu dalam kondisi sehat.
  • Sebelum menjalani operasi kamu akan diminta berpuasa tidak makan dan tidak minum selama 8 jam sebelum operasi dilakukan.
  • Dokter bisa saja akan memberikan obat penenang untuk membuat kamu rileks sebelum operasi.

Beritahu beberapa poin penting ini kepada dokter sebelum operasi:

  • Jelaskan apa saja obat-obatan yang kamu konsumsi. Mulai dari obat biasa, obat herbal, hingga vitamin dan suplemen.
  • Jika kamu dalam kondisi hamil jangan lupa untuk menjelaskan detailnya kepada dokter.
  • Beritahu apabila kamu memiliki alergi terhadap lateks, obat-obatan, plester, atau obat-obatan anestesi (lokal maupun umum).
  • Jangan lupa memberi tahu dokter apabila kamu pernah memiliki riwayat gangguan perdarahan atau sedang mengonsumsi obat pengencer darah, aspirin, atau obat lain yang memengaruhi pembekuan darah.

Proses operasi

Pada umumnya, appendectomy mengharuskan kamu melakukan rawat inap. Dokter akan menentukan metode operasi apa yang harus kamu jalani tergantung kondisi kesehatan kamu dan juga tingkat keparahan radang yang kamu alami.

Proses operasi biasanya dilakukan dengan melakukan anestesi menyeluruh yang membuat kamu terlelap sepanjang operasi berlangsung. Baik open appendectomy ataupun laparoscopic appendectomy, kedua prosedur ini akan melewati proses:

  • Dokter atau perawat akan meminta kamu untuk melepas semua perhiasan atau aksesoris yang mungkin mengganggu proses operasi.
  • Untuk operasi kamu akan diminta untuk berganti pakaian dengan baju operasi khusus.
  • Setelah itu perawat akan memasang selang infus ke tangan atau lengan kamu.
  • Selanjutnya perawat akan meminta kamu untuk berbaring di meja operasi.
  • Jika ada banyak rambut atau bulu di bagian perut yang akan dilakukan operasi, pihak medis biasanya akan mencukurnya.
  • Setelah itu sebuah tabung akan dimasukkan ke tenggorokan kamu untuk membantu bernapas. Ahli anestesi akan memeriksa detak jantung tekanan darah, pernapasan dan tingkat oksigen dalam darah sepanjang operasi berjalan.
  • Dokter kemudian menjalankan prosedur pemotongan dan pengangkatan usus buntu. Prosesnya tergantung metode mana yang sudah dijelaskan ke kamu sebelum operasi berlangsung.

Setelah operasi selesai

Saat operasi selesai kamu akan dipindahkan ke ruang khusus pemulihan. Tim medis akan memantau beberapa tanda vital seperti detak jantung dan pernapasan kamu.

Prose pemulihan kamu akan tergantung dari jenis operasi apa yang kamu jalani dan anastesi apa yang kamu dapatkan. 

Saat denyut nadi, tekanan darah, pernapasan mulai stabil, dan kamu mulai tersadar, perawat akan memindahkan kamu ke kamar rawat biasa.

Ikuti setiap arahan perawat selama kamu di rumah sakit. Dokter biasanya akan melakukan pengecekan rutin dan menentukan kapan kamu bisa pulang.

Tips pemulihan setelah operasi usus buntu

Setelah kondisi kamu dinilai cukup baik untuk meninggalkan rumah sakit, biasanya dokter akan memberikan kamu beberapa tips agar pemulihan bisa berjalan dengan baik dan mengurangi risiko infeksi.

Berikut beberapa tips yang bisa kamu lakukan setelah menjalani operasi usus buntu:

  • Jangan mengangkat benda berat
  • Minum air putih yang cukup
  • Jalan santai setiap hari
  • Jaga luka operasi tetap bersih dan steril
  • Istirahat yang cukup

Baca Juga: Yuk, Ketahui Jenis Obat Batuk untuk Ibu Hamil Berikut Ini

Hubungi dokter apabila kamu mengalami beberapa gejala ini setelah operasi:

  • Mengalami demam tinggi di atas 38,8 derajat celcius
  • Tidak buang air besar atau kentut selama 3 hari pasca operasi
  • Rasa sakit yang tidak kunjung hilang terutama di area bekas sayatan
  • Sakit perut, kram, atau bengkak yang kian parah
  • Muntah
  • Muncul tanda kemerahan, pembengkakan, pendarahan, atau keluarnya cairan lain dari dalam luka bekas sayatan operasi.
  • Hilang nafsu makan, atau tidak bisa makan dan minum apapun
  • Batuk terus menerus dan kesulitan bernapas
  • Diare selama lebih dari 3 hari.

Umumnya gejala usus buntu akan muncul dengan cepat dan biasanya dalam 24 jam pertama. Tanda atau gejala usus buntu tersebut dapat muncul di mana saja mulai dari 4 hingga 48 jam setelah masalah terjadi.

Itu dia pembahasan mengenai prosedur operasi usus buntu. Jangan ragu berkonsultasi pada dokter jika kamu merasakan gejala tidak enak pada perut kanan bagian bawah, karena bisa saja ini adalah usus buntu yang perlu penanganan medis lebih lanjut.

Konsultasikan masalah kesehatan Anda dan keluarga melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Mitra dokter kami siap memberi solusi. Yuk, download aplikasi Good Doctor di sini!

Reference

Healthline. Diakses pada 18 Mei 2020. Everything You Need to Know About Appendicitis.

Healthline. Diakses pada 18 Mei 2020. Appendectomy.

John Hopkins Medicine. Diakses pada 18 Mei 2020. Appendectomy.

Medical News Today. Diakses pada 18 Mei 2020. What to know about appendectomy.

    register-docotr