Kesehatan Anak

Vaksin COVID-19 dan BIAS pada Anak, Mana yang Harus Didahulukan?

June 20, 2022 | Muhammad | dr. Ario W. Pamungkas
feature image

Anak-anak biasanya akan mendapat beberapa vaksin dalam program bulan imunisasi anak sekolah (BIAS). Namun, di tengah pandemi, si Kecil juga perlu melakukan vaksinasi COVID-19. Mana yang harus didahulukan? Agar tak bingung, simak ulasan lengkapnya yuk!

Apa itu vaksin BIAS?

BIAS adalah periode saat seluruh kegiatan imunisasi anak sekolah dilakukan serentak di semua wilayah Indonesia. Program ini bertujuan memberi perlindungan kepada anak dengan cara menciptakan kekebalan dari penyakit atau infeksi.

Program BIAS mencakup vaksinasi campak, difteri tetanus (DT), dan tetanus (TT). Kegiatan BIAS biasanya dilakukan dua kali dalam setahun, yaitu setiap September (imunisasi campak pada siswa kelas 1) dan November (imunisasi DT pada siswa kelas 1, TT untuk kelas 2 dan 3).

Untuk anak yang belum sekolah, BIAS dilakukan di puskesmas terdekat. Saat akan melakukan vaksinasi, anak harus dalam kondisi sehat. Jika sedang sakit, imunisasi ditunda hingga kondisi anak sudah sembuh.

Mana yang harus didahulukan BIAS atau vaksin COVID-19?

Menurut penjelasan Prof Dr dr Hartono Gunardi, SpA(K), Ketua Satgas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), vaksin COVID-19 idealnya diberikan setelah vaksinasi rutin. Namun, ini semua tergantung pada keadaan masing-masing.

Anak-anak bisa mendapatkan vaksin yang lebih dulu ada. Jika vaksin COVID-19 yang tersedia lebih dulu, maka anak diperbolehkan mendapatkan vaksin tersebut sebelum imunisasi BIAS.

Ini juga berlaku pada anak-anak yang telah dijadwalkan menerima vaksin COVID-19 di sekolah.

Sebaliknya, jika di suatu daerah masih belum ada pasokan vaksin COVID-19, maka anak bisa melakukan imunisasi BIAS lebih dulu. Jadi, semuanya pada tergantung ketersediaan vaksin.

Jeda dua pekan

Meski tak ada aturan khusus mana yang harus didahulukan antara vaksinasi COVID-19 dan imunisasi BIAS, jeda pemberiannya tetap perlu diperhatikan.

Piprim Basarah Yanuarso, Ketua IDAI, menjelaskan, jarak pemberikan vaksin COVID-19 dengan vaksin lainnya adalah minimal dua pekan. Rekomendasi tersebut lebih cepat dari yang sebelumnya, yakni jeda satu bulan.

Ada alasan khusus mengapa pemberian vaksin satu dengan yang lain harus terjeda dua pekan. Menurut Dr dr Ariani Dewi Widodo, SpA(K), dokter anak, ini berkaitan tentang optimalisasi vaksin apakah berpengaruh atau tidak.

Jeda dua pekan bertujuan memberi waktu kepada tubuh untuk mengembangkan atau meningkatkan imunitas sebagai respons terhadap vaksin yang telah diberikan. Selain itu, jeda waktu itu agar kekebalan tubuh terbentuk, sehingga dapat berkonsentrasi dengan baik.

Kondisi anak yang tidak boleh divaksin

Ada beberapa kondisi pada anak yang tidak direkomendasikan mendapat vaksin, di antaranya adalah:

  • Defisiensi imun primer
  • Penyakit autoimun tidak terkontrol
  • Penyakit Sindrom Gullian Barre (sistem kekebalan tubuh menyerang saraf)
  • Mielitis transversa (peradangan saraf tulang belakang)
  • Acute demyelinating ancephalomyelitis (gangguan otak dan tulang belakang)
  • Sedang mengidap kanker dan menjalani kemoterapi
  • Sedang menjalani pengobatan imunosupresan atau sitostatika berat
  • Demam di atas 37,5 derajat Celcius
  • Baru sembuh dari COVID-19 kurang dari tiga bulan
  • Mengidap diabetes melitus dan hipertensi
  • Mengidap penyakit kronis atau kelainan bawaan (kongenital) yang tidak terkendali.

Baca juga: Moms Jangan Panik! Ini Cara Penanganan Efek Samping Vaksin COVID-19 pada Anak.

KIPI vaksin yang bisa muncul

Efek samping vaksin COVID-19 pada anak tak banyak berbeda dengan yang dialami oleh orang dewasa, yaitu reaksi lokal dan sistemik. Efek samping lokal bisa berupa munculnya rasa sakit, pembengkakan, dan kemerahan pada area bekas penyuntikan.

Sedangkan reaksi sistemik biasanya berupa kelelahan, sakit kepala, demam, hingga mual. Namun, tak perlu cemas berlebihan. Sebab, Hinky Hindra Irawan Satari, Ketua Komisi Nasional KIPI, menjelaskan, efek samping tersebut umumnya hilang dan mereda dalam tiga hari pascasuntikan.

Nah, itulah penjelasan tentang mana yang harus didahulukan antara vaksinasi COVID-19 atau BIAS untuk anak. Jika ragu, bicarakan dengan dokter anak, ya!

Konsultasi lengkap seputar COVID-19 di Klinik Lawan COVID-19 dengan mitra dokter kami. Yuk, klik link ini untuk download aplikasi Good Doctor!

Sudah punya asuransi kesehatan dari perusahaan tempatmu bekerja? Ayo, manfaatkan layanannya dengan menghubungkan benefit asuransi milikmu ke aplikasi Good Doctor! Klik link ini, ya.

register-docotr