Info Parenting

Keringat Buntet pada Bayi: Penyebab, Gejala, dan Cara Mengatasinya

March 29, 2021 | Ajeng Dwiri Banyu | dr. Raja Friska Yulanda
feature image

Keringat buntet pada bayi sering muncul tiba-tiba dan terlihat cukup mengkhawatirkan. Bayi memiliki kulit yang lebih sensitif sehingga lebih sering mengalami keringat buntet daripada orang dewasa.

Masalah ini bisa mengakibatkan rasa gatal dan ketidaknyamanan, terutama pada bayi dan anak-anak. Nah, untuk mengetahui lebih lanjut mengenai keringat buntet pada bayi, yuk, simak penjelasan berikut.

Baca juga: Setelah Imunisasi Kok si Kecil Demam? Jangan Khawatir Moms, Ini Sebab dan Cara Mengatasinya

Apa penyebab keringat buntet pada bayi?

Dilansir dari What to Expect, keringat buntet pada bayi atau disebut juga dengan biang keringat terjadi ketika keringat berlebih menyumbat kelenjar keringat. Penyumbatan ini menjebak keringat di bawah kulit sehingga menyebabkan munculnya benjolan merah atau lecet.

Keringat buntet pada bayi sering terjadi pada saat musim panas, saat cuaca panas, dan lembap. Perlu diketahui, pakaian yang ketat atau terlalu hangat dapat memperburuk kondisi biang keringat ini. 

Dalam beberapa kasus, benjolan biang keringat muncul di tempat yang ada gesekan seperti satu bagian tubuh bergesekan dengan yang lain atau pakaian ketat bergesekan dengan kulit. Zona yang paling sering keringat buntet adalah lipatan leher, lipatan siku dan lutut, ketiak, serta paha dalam.

Gejala umum keringat buntet pada bayi

Pada kebanyakan bayi, gejala keringat buntet termasuk salah satunya ruam pada bagian tubuh yang terkena panas. Beberapa faktor risiko pemicunya, antara lain pemakaian bedong, pakaian hangat, ventilasi yang buruk, dan berada di dekat sumber panas seperti pemanas ruangan.

Gejala keringat buntet secara umum, yakni ruam yang mungkin tampak merah, lecet kecil seukuran jarum di area kulit yang luas, serta kulit terasa panas. Gejala ini juga bisa berbeda-beda berdasarkan jenisnya, seperti berikut ini:

  • Miliaria crystallina, terkadang terlihat mirip dengan butiran kecil keringat yang terperangkap dalam kulit. Gejalanya berupa lepuh tidak terlihat merah atau meradang.
  • Miliaria ruba, biasanya terasa gatal sehingga bayi terus-menerus menggaruk kulitnya. Gejala lainnya mungkin akan muncul merah kecil atau lepuh pada bercak merah dan kulit tampak iritasi.
  • Miliaria profunda, umumnya menyebabkan lepuh dalam yang mungkin terlihat seperti jerawat dan berwarna mirip kulit.

Bagaimana cara mengatasi keringat buntet?

Seringkali, keringat buntet atau biang keringat mulai hilang sendirinya segera setelah mendinginkan bayi. Ada beberapa perawatan rumahan yang bisa dilakukan untuk mengatasi keringat buntet pada bayi, antara lain sebagai berikut:

Dinginkan kulit pada bayi

Keringat buntet bisa diatasi dengan segera mendinginkan kulit bayi, seperti melepas lapisan pakaian ekstra atau pindah ke ruangan yang dingin. Jika bayi berada di luar ruangan dalam cuaca panas dan lembap, lepaskan pakaian lembap dan nyalakan kipas angin untuk mengeringkan kulit.

Oleskan air

Jika area yang terkena relatif kecil berupa bercak ruam, bisa dioleskan dengan lembut menggunakan kain basah yang dingin untuk menurunkan suhu kulit. Untuk area ruam yang lebih luas, kamu bisa memandikan bayi setidaknya selama 10 menit

Namun, pastikan untuk tidak menggunakan sabun karena bisa mengiritasi kulit bayi. Setelah mandi, biarkan kulit bayi mengering dengan sendirinya. 

Cobalah krim steroid

Sangat penting untuk menjaga anak-anak agar tidak menggaruk jika ruamnya terasa gatal karena lepuh yang pecah dapat menyebabkan infeksi kulit. Karena itu, kamu bisa mengoleskan krim hidrokortison 1 persen yang dijual bebas untuk mengurangi rasa gatal.

Gunakan losion kalamin atau lanolin anhridat

Losion kalamin dapat membantu menghentikan rasa gatal jika anak mengalami jenis ruam yang lebih parah. Selain itu, lanolin anhidrat juga direkomendasikan untuk menjaga agar saluran keringat tetap bersih dan terbuka. 

Jika keringat buntet pada bayi berlangsung selama tiga hari atau semakin parah, segera hubungi dokter anak. Waspadai juga benjolan beisi pus atau nanah dan pembengkakan, yang mungkin merupakan gejala jamur atau infeksi bakteri akibat garukan. 

Baca juga: Perkembangan Bayi 10 Bulan: Mulai Belajar Merangkak dan Berdiri Sendiri

Pastikan untuk mengecek kesehatan kamu dan keluarga secara rutin melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Jaga kesehatan kamu dan keluarga dengan konsultasi rutin bersama mitra dokter kami. Download aplikasi Good Doctor sekarang, klik link ini, ya!

Reference
  1. What to Expect (2021), diakses 23 Maret 2021. Heat Rash (Miliaria) in Babies
  2. Medical News Today (2019), diakses 23 Maret 2021. What to know about heat rash in babies
  3. Healthline (2018), diakses 23 Maret 2021. What to Do If Your Toddler Gets Heat Rashes
  4. Webmd (2019), diakses 23 Maret 2021. What Is Heat Rash?
    register-docotr