Gizi Anak

Hari Balita: Bagaimana Kondisi Stunting di Indonesia dan Dunia?

April 10, 2021 | Ajeng Dwiri Banyu | dr. Raja Friska Yulanda
feature image

Masalah stunting kini sudah semakin berkembang, baik di Indonesia maupun dunia. Stunting sendiri merupakan masalah gizi kronis yang diakibatkan oleh kurangnya asupan gizi dalam waktu lama. 

Kondisi ini akan menyebabkan anak mengalami gangguan pertumbuhan sehingga memiliki tubuh yang lebih pendek dari pada teman seusianya. Nah, untuk mengetahui lebih lanjut mengenai stunting di Indonesia dan dunia yuk simak penjelasannya berikut.

Baca juga: Daftar Makanan yang Tepat Diberikan saat Anak Mengalami Muntah Berat

Update terkini seputar stunting

Dilansir dari WHO, stunting adalah akibat dari kekurangan gizi kronis atau berulang.

Biasanya, masalah ini berhubungan dengan kondisi sosial, ekonomi yang buruk, kesehatan dan gizi ibu yang buruk, penyakit yang sering terjadi, serta pemberian makan atau perawatan awal bayi yang tidak tepat.

Untuk itu, stunting dapat menghambat anak-anak mencapai potensi fisik dan kognitif. Selain itu, anak dengan stunting juga berisiko rentan terhadap penyakit menular dan penyakit kronis di masa dewasa. 

Stunting di dunia

Di seluruh dunia, 144 juta anak di bawah usia lima tahun menderita stunting. Hal ini merupakan kondisi kronis yang dapat terjadi jika seorang anak tidak memiliki akses nutrisi yang tepat, khususnya selama 1.000 hari pertama kehidupan.

Stunting sendiri tidak hanya memengaruhi kesehatan, namun dapat pula merusak perkembangan mental dan fisik. Kondisi tersebut berarti anak-anak yang menderita stunting cenderung tidak mencapai tinggi penuh dan potensi kognitif saat dewasa.

Anak dengan kondisi stunting mungkin tidak pernah tumbuh tinggi maksimal atau mengembangkan potensi kognitif secara penuh. Menurut data tahun 2017, 43 persen anak balita di negara berpenghasilan rendah dan menengah berisiko tinggi mengalami kemiskinan karena stunting.

Sementara itu, anak-anak yang mengalami stunting berpenghasilan 20 persen lebih rendah sebagai orang dewasa dibandingkan dengan anak-anak yang tidak mengalami stunting.

Perlu diketahui juga, para ibu yang mengalami kekurangan gizi lebih cenderung memiliki anak dengan kondisi stunting.

Stunting di Indonesia

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia mencatat bahwa pada tahun 2018, jumlah anak balita di Indonesia sekitar 22,4 juta. Setiap tahun, 5,2 juta perempuan di Indonesia hamil dan rata-rata bayi yang dilahirkan berjumlah 4,9 juta anak.

Dari data kelahiran ini, diketahui tiga dari 10 balita di Indonesia mengalami stunting atau memiliki tinggi badan lebih rendah dari standar usianya. Karena itu, Indonesia menempati urutan kelima di antara negara dengan stunting tertinggi pada balita. 

Stunting bukan berarti ditandai dengan kondisi tubuh kurus sehingga fakta yang sering terjadi adalah anak yang memiliki stunting tidak terlalu kentara secara fisik. Namun, jika dilihat secara spesifik, anak yang mengalami stunting cenderung memiliki sistem metabolisme tubuh yang tidak optimal.

Misalnya adalah jika anak lain tumbuh ke atas, maka anak dengan stunting justru tumbuh ke samping di mana kemudian berisiko terkena penyakit tidak menular di Indonesia seperti obesitas serta diabetes.

Penelitian terbaru terkait dengan stunting

Pada tahun 2016, diperkirakan 155 juta anak di seluruh dunia mengalami stunting dan lebih dari sepertiganya tinggal di Afrika.

Sebuah tinjauan global tentang stunting di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah mengidentifikasi hambatan pertumbuhan di dalam rahim dan kurangnya akses sanitasi.

Beberapa penelitian telah menunjukkan dampak negatif dan risiko jangka panjang dari stunting pada perkembangan anak usia dini.

Risiko yang dimaksud, seperti kinerja yang buruk di sekolah dan produktivitas rendah saat mencapai usia kerja. Oleh karena itu, intervensi dini diperlukan untuk mencegah stunting.  Satu dari lima kematian anak telah dikaitkan dengan kekurangan gizi.

Karena itu, banyak intervensi yang dilakukan untuk meningkatkan gizi ibu dan anak seperti pemberian suplementasi mikronutrien untuk ibu dan anak, pengobatan cacingan, dan kampanye nasional 1.000 hari pertama kehidupan anak.

Baca juga: Benarkah Zat Besi Bisa Optimalkan Perkembangan Kognitif Anak?

Pastikan untuk mengecek kesehatan kamu dan keluarga secara rutin melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Jaga kesehatan kamu dan keluarga dengan konsultasi rutin bersama mitra dokter kami. Download aplikasi Good Doctor sekarang, klik link ini, ya!

Reference
  1. WHO (2020), diakses 8 April 2021. Malnutrition
  2. Annals of Global Health (2020), diakses 8 April 2021 Risk Factors for Stunting in Children under the Age of 5 in Rural Guatemalan Highlands
  3. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (2018), diakses 8 April 2021. Cegah Stunting Itu Penting
  4. The Power of Nutrition, diakses 8 April 2021. THE IMPACT OF STUNTING
  5. BMC Public of Health (2019), diakses 8 April 2021. Risk factors for stunting among children under five years: a cross-sectional population-based study in Rwanda using the 2015 Demographic and Health Survey
    register-docotr