Kesehatan Wanita

Klimakterium: Periode Perubahan Fungsi Rahim, Ladies Wajib Tahu Nih!

January 22, 2021 | Anisya Fitrianti | dr. Raja Friska Yulanda
feature image

Kamu mungkin sering mendengar istilah menopause, tapi tidak dengan klimakterium. Padahal menopause dikenal dengan klimakterium juga lho. 

Pada dasarnya semua wanita akan mengalami periode klimakterium dalam kehidupannya. Klimakterium adalah periode kehidupan yang dimulai ketika fungsi rahim mengalami penurunan hingga benar-benar tidak berfungsi lagi.

Fase ini adalah fase yang normal dan terjadi secara alami. Tetapi di sisi lain klimakterium dapat menyebabkan beberapa perubahan pada tubuh serta kondisi kesehatan. 

Baca juga: Tak Selalu Kanker, Ini 7 Penyebab Puting Payudara Sakit saat Disentuh

Proses dan tahapan klimakterium

Seperti yang sudah disebutkan, klimakterium adalah masa hidup di mana aktivitas ovarium menurun hingga benar-benar berakhir. Namun klimakterium ini tidak akan terjadi dalam waktu yang sebentar.

Setidaknya menurut penelitian ada tiga tahapan yang akan dialami wanita saat klimakterium. Tahapan ini meliputi perimenopause, menopause, dan pasca-menopause.

Perimenopause

Pada fase ini wanita akan mengalami fase menstruasi yang tidak teratur, tetapi menstruasi belum berhenti sepenuhnya. Menstruasi bisa terjadi lebih lama, lebih pendek, lebih berat atau lebih ringan. Menstruasi juga bisa terjadi lebih atau kurang dari 28 hari.

Kebanyakan wanita akan mengalami fase perimenopause pada usia 47 tahun. Sebagian juga mengalaminya di awal usia 30-an. Namun pada fase ini, wanita masih bisa mengalami kehamilan. Menurut Cleveland Clinic, fase ini bisa berlangsung selama beberapa bulan hingga empat tahun.

Menopause

Ketika memasuki masa menopause, wanita akan mengalami menstruasi terakhir. Namun biasanya menopause tidak disadari. Kebanyakan wanita menyadarinya setelah satu tahun setelah menstruasi benar-benar berhenti. Pada fase ini, wanita sudah tidak bisa hamil. 

Pascamenopause

Bila kamu telah melewati menopause selama bertahun-tahun, fase ini disebut sebagai pascamenopause. Saat sudah masuk tahapan ini, biasanya tubuh sudah kembali berenergi juga bisa mulai merasa normal secara emosional. 

Namun, pascamenopause kadar estrogen akan menjadi yang lebih rendah. Sehingga wanita pascamenopause memiliki peningkatan risiko sejumlah kondisi kesehatan, seperti osteoporosis, penyakit jantung, dan perubahan pada vagina dan kandung kemih.

Gejala klimakterium

Ketika memasuki periode klimakterium ada beberapa gejala yang akan dirasakan. Gejala-gejala ini tidak bisa dihindari tapi bisa kamu atasi ketika muncul. 

Gejala perimenopause 

Pada tahap perimenopause, gejala yang mungkin timbul meliputi:

  • Periode tidak teratur
  • Periode yang lebih berat atau lebih ringan dari biasanya
  • Sindrom pramenstruasi yang lebih buruk (PMS) sebelum menstruasi
  • Nyeri payudara
  • Penambahan berat badan
  • Perubahan rambut
  • Palpitasi jantung
  • Sakit kepala
  • Kehilangan gairah seks
  • Kesulitan konsentrasi
  • Kelupaan
  • Nyeri otot
  • Infeksi saluran kemih (ISK)
  • Masalah kesuburan pada wanita yang mencoba untuk hamil.

Gejala menopause

Saat kadar estrogen turun, tubuh akan mulai mengalami gejala menopause. Beberapa gejalanya bahkan bisa dapat terjadi saat masih dalam tahap perimenopause.

Gejala pada tahap menopause meliputi:

  • Keringat malam 
  • Hot flashes, perasaan panas di dalam tubuh secara tiba-tiba
  • Depresi 
  • Kecemasan atau mudah tersinggung 
  • Perubahan suasana hati, seperti gampang marah, stres
  • Insomnia 
  • Kelelahan dan kulit kering 
  • Kekeringan vagina 
  • Sering buang air kecil.

Berdasarkan studi yang telah dilakukan tahun 2016, gejala yang paling khas dari menopause adalah hot flash. Sebagian besar wanita akan mengalami hot flash selama satu hingga dua tahun. Namun ada juga sebagian wanita yang tidak pernah mengalaminya.

Di samping mengalami gejala-gejala yang telah disebutkan di atas, klimakterium juga membuat wanita lebih rentan mengalami penyakit jantung.

Misalnya, pada fase perimenopause dan menopause, kadar kolesterol wanita akan meningkat sehingga risiko penyakit jantung lebih tinggi. 

Baca juga: Inilah 6 Faktor Penyebab Kamu Berkeringat di Malam Hari saat Menstruasi

Cara mengatasi gejala klimakterium

Gejala klimakterium yang terjadi bisa sangat memengaruhi kondisi kesehatan. Untuk mengatasinya, kamu bisa melakukan beberapa cara, seperti:

  • Terapi hormon
  • Minum obat resep dokter
  • Minum obat yang dijual bebas
  • Olahraga
  • Istirahat cukup
  • Berhenti merokok
  • Hindari makan dalam porsi besar
  • Batasi alkohol
  • Batasi kafein dan pastikan konsumsinya hanya di pagi hari. 

Klimakterium adalah hal yang tidak bisa dihindari oleh wanita. Bila kamu sudah memasuki fase perimenopause ataupun menopause, berarti fungsi alat reproduksi tubuh sudah mengalami perubahan. 

Sebagian wanita mungkin mengalami gejala klimakterium yang lebih parah dan mengganggu kehidupan sehari-hari. Seperti kekeringan vagina yang parah atau gangguan tidur. Untuk mengatasi gejala yang terasa parah tersebut, segeralah berkonsultasi dengan dokter. 

Pastikan untuk mengecek kesehatan kamu dan keluarga secara rutin melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Download di sini untuk berkonsultasi dengan mitra dokter kami.

Reference
    register-docotr