Kesehatan Seksual

Kamu Perlu Tahu, Ini Lho 6 Risiko Anal Sex bagi Kesehatan

October 14, 2020 | Muhammad Hanif S. | dr. Debby Deriyanthi
feature image

Anal sex adalah aktivitas seksual berupa penetrasi penis ke anus. Anus adalah tempat berkumpulnya banyak ujung saraf, sehingga bisa menciptakan sensasi tersendiri dalam berhubungan seks. Tapi, penting untuk mengetahui berbagai risiko anal sex sebelum melakukannya.

Nah, untuk lebih jelasnya, yuk simak beragam risiko yang bisa ditimbulkan dari seks anal berikut ini.

Berbagai risiko anal sex

Seks anal tidak hanya bisa menjadi medium penularan bakteri, tapi juga penyakit menular seksual. Selain itu, adanya dorongan dari luar dapat memengaruhi kekuatan otot pada anus itu sendiri. Berikut enam risiko anal sex yang harus kamu tahu:

1. Rentan mengalami infeksi bakteri

Risiko anal sex yang pertama adalah rentan mengalami infeksi bakteri. Anus dan rektum adalah tempat berkumpulnya banyak bakteri. Belum lagi, bagian tubuh tersebut adalah tempat keluarnya feses.

Bakteri tersebut bisa menempel ke penis. Ketika kamu melakukan hubungan seks vaginal setelah anal, hal ini dapat meningkatkan potensi penyebaran bakteri ke organ reproduksi, hingga menyebabkan infeksi saluran kemih.

Baca juga: Vagina Longgar akibat Sering Berhubungan Seks? Ini Fakta dan Tipsnya!

2. Risiko penularan IMS

Tak hanya infeksi saluran kemih, seks anal juga bisa meningkatkan risiko tertular infeksi menular seksual (IMS). Apalagi, jika terdapat luka terbuka pada penis dan anus. Penularan utama IMS adalah dari kontak fisik dan organ genital.

Artinya, baik pria maupun wanita yang sedang melakukan seks anal bisa tertular penyakit tersebut. Penis yang memiliki luka IMS bisa menyebarkan bakteri dan virus ke anus pasangan. Sebaliknya, anus yang terdapat luka IMS juga dapat membuat virus dan bakteri berpindah ke penis.

Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menyatakan, seks anal adalah perilaku seksual berisiko tinggi untuk penularan HIV, jika dibandingkan dengan bentuk seks lain seperti vaginal maupun oral. Tak hanya HIV, seks anal juga dapat menularkan herpes, klamidia, dan gonore.

3. Anus robek

Risiko anal sex berikutnya adalah lapisan pada anus menjadi robek. Anus adalah organ yang hanya berfungsi sebagai pembuangan feses. Artinya, anus hanya dirancang untuk mendapatkan dorongan dari dalam, bukan dari luar.

Lapisan dinding anus juga sangat tipis, sehingga rawan robek. Pada kasus yang jarang, robekan itu bisa membesar hingga ke rektum bahkan usus besar. Kondisi ini disebut dengan fistula.

Hal ini dapat mengganggu jalur keluarnya feses, yang tentu saja berdampak pada aktivitas buang air besar. Dilansir dari Medical News Today, fistula bisa membuat feses mengalir dan masuk ke tempat lain di tubuh lalu menyebabkan infeksi dari bakteri yang dibawanya.

4. Perdarahan

Seperti yang telah dijelaskan, anus adalah organ yang dirancang hanya untuk mengeluarkan feses, bukan untuk memasukkan sesuatu ke dalamnya. Penetrasi penis bisa merusak lapisan tipis pada dinding anus, yang kemudian menyebabkan perdarahan.

Kondisi tersebut bisa memicu terjadinya hemoroid, yaitu gangguan pada pembuluh darah di sekitar rektum. Pada banyak kasus, hemoroid ditandai dengan pembengkakan dari pembuluh darah itu sendiri.

Dampaknya, kamu akan merasa kesakitan saat buang air besar. Keadaan ini bisa sembuh dengan sendirinya. Meski, pada kasus yang parah, prosedur medis seperti operasi diperlukan untuk mengatasinya.

5. Potensi kehamilan

Banyak pasangan menghindari seks vaginal dan memilih anal untuk mencegah kehamilan. Faktanya, seorang wanita tetap berpotensi untuk hamil meski hubungan seks dilakukan lewat anus.

Dilansir dari WebMD, cairan semen berisi sperma bisa terbawa masuk ke vagina karena lokasinya sangat dekat dengan lubang anus.

Baca juga: Mitos-mitos Seputar Kehamilan yang Masih Dipercaya, Cek Faktanya!

6. Inkontinensia tinja

Risiko anal sex yang terakhir adalah terjadinya inkontinensia tinja, yaitu ketidakmampuan diri dalam menahan feses. Kamu akan sulit menahan buang air besar ketika feses sudah berada di rektum.

Otot seperti cincin (sfingter anal) di anus sudah meregang terlalu besar dan kendor, sehingga mengganggu kekuatan dan sensitivitasnya. Kondisi ini tidak langsung muncul begitu pertama kali melakukan seks anal, melainkan dampak jangka panjang.

Sebuah studi yang terbit pada American Journal of Gastroenterology menjelaskan, 23 persen wanita dan 4,5 persen pria dari total 4.170 responden yang pernah melakukan seks anal mengalami inkontinensia tinja.

Tips aman melakukan seks anal

Meski sebaiknya dihindari, kamu perlu memerhatikan beberapa aspek jika benar-benar ingin melakukan seks anal dengan pasangan. Berikut tips aman yang bisa diterapkan:

  • Jaga kebersihan anus sebelum berhubungan seks. Bersihkan rektum dari kotoran.
  • Gunakan kondom untuk meminimalkan risiko infeksi menular.
  • Gunakan pelumas tambahan. Berbeda dengan vagina, anus tidak bisa menghasilkan pelumas alami untuk seks. Pelumas tambahan berfungsi untuk mengurangi risiko robekan pada anus.
  • Jangan memasukkan penis ke dalam vagina setelah melakukan seks anal sebelum membersihkannya atau menggunakan kondom baru.
  • Hentikan seks anal jika pasangan kesakitan.
  • Hentikan seks anal ketika terjadi perdarahan atau luka.
  • Setelah selesai, bersihkan semua bagian tubuh yang terlibat dalam seks anal dengan sabun.

Nah, itulah enam risiko anal sex yang perlu kamu tahu beserta tips aman untuk melakukannya. Menghindari seks anal secara total adalah pilihan yang tepat untuk mencegah berbagai dampak buruk yang bisa ditimbulkan. Tetap jaga kesehatan, ya!

Konsultasikan masalah kesehatan Anda dan keluarga melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Mitra dokter kami siap memberi solusi. Yuk, download aplikasi Good Doctor di sini!

Reference

  1. Medical News Today, diakses 6 Oktober 2020, What are the risks of anal sex?
  2. WebMD, diakses 6 Oktober 2020, Anal Sex.
  3. Centers for Disease Control and Prevention (CDC), diakses 6 Oktober 2020, Anal Sex and HIV Risk.
  4. National Center for Biotechnology Information (NCBI), diakses 6 Oktober 2020, Anal Intercourse and Fecal Incontinence: Evidence from the 2009–2010 National Health and Nutrition Examination Survey.

    register-docotr