Mengenal Penyakit Chlamydia, Infeksi Menular Seksual yang Minim Gejala

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on linkedin
Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on linkedin

Ada sejumlah penyakit di dunia ini yang memiliki minim gejala, salah satunya adalah chlamydia.  Seseorang yang aktif melakukan hubungan seks berisiko (risky sexual behavior) memiliki tingkat kerentanan tinggi. Sebab, penularan penyakit chlamydia hanya bisa terjadi lewat kontak seksual.

Munculnya penyakit klamidia sering tidak disadari, karena tanda-tandanya tak langsung terlihat saat itu juga. Seperti apa sih penyakit chlamydia itu? Apa saja gejala dan penyebabnya? Serta, apakah penyakit ini bisa dicegah? Yuk, simak ulasan lengkapnya berikut ini.

Apa itu penyakit chlamydia?

Chlamydia, atau yang juga disebut dengan klamidia, adalah penyakit seksual berupa infeksi yang disebabkan oleh bakteri. Infeksi tersebut bisa terjadi di bagian-bagian tubuh yang terlibat dalam aktivitas seksual, seperti mulut, anus, dan alat kelamin.

Centers for Disease Control and Prevention (CDC) memasukkan klamidia pada kategori penyakit menular seksual (PMS) atau sexually transmitted disease (STD). Saking menularnya, bayi yang dilahirkan oleh pengidap penyakit klamidia berisiko tinggi untuk terpapar.

Penyakit ini membutuhkan penanganan serius, sebagaimana berbagai PMS pada umumnya. Jika tidak, berbagai komplikasi dan gangguan kesehatan lain bisa terjadi.

Penyebab penyakit chlamydia

Penyakit klamidia disebabkan oleh bakteri dengan nama yang sama, yaitu Chlamydia trachomatis. Bakteri ini bisa menyebar ke pria dan wanita melalui hubungan seks oral, vaginal, maupun anal.

Mengutip Medical News Today, gejala penyakit chlamydia seringkali tak terdeteksi di awal. Dengan kata lain, seseorang yang telah terinfeksi bisa saja menularkan ke orang lain tanpa ia sadari.

Hampir sama seperti kebanyakan PMS, penyakit klamidia hanya bisa ditularkan melalui hubungan seksual, dan tidak bisa menyebar melalui:

  • Penggunaan toilet bersama
  • Berenang di kolam yang sama
  • Menyentuh permukaan benda yang telah dipegang pengidap
  • Berdiri di samping pengidap yang sedang bersin
  • Satu ruangan di kantor bersama pengidap

Baca juga: Sering Tak Disadari, Yuk, Ketahui Gejala, Penyebab dan Cara Mengobati Penyakit HPV

Gejala penyakit chlamydia

Seperti yang telah disebutkan di atas, penyakit ini memiliki gejala yang sangat minim. Sehingga, banyak pengidapnya yang tak sadar menularkan ke orang lain. Meski begitu, ada beberapa tanda yang masih bisa diamati pada pria dan wanita pengidap penyakit klamidia.

Tanda-tanda ini umumnya baru muncul satu hingga tiga minggu setelah penularan, yaitu:

1. Pembengkakan alat kelamin

Pengidap penyakit klamidia akan mengalami pembengkakan pada organ vitalnya, yaitu kepala penis pada pria dan vulva atau bagian luar dari vagina pada wanita. Pembengkakan ini disertai nyeri, gatal, dan bintik merah.

Berbeda dengan bengkak akibat gigitan serangga, gejala dari penyakit chlamydia ini umumnya terjadi pada jangka waktu yang lebih lama.

2. Pembengkakan testis

Selain pada kepala penis, testis juga rentan mengalami pembengkakan. Hal ini disebabkan oleh bakteri C. trachomatis yang berjalan dari area infeksi menuju skrotum melalui uretra. Sama seperti poin sebelumnya, pembengkakan di testis bisa disertai rasa sakit atau nyeri tak tertahankan.

Baca juga: Mengenal Penyakit Varikokel, Gangguan Kesehatan yang Bisa Sebabkan Mandul.

3. Sakit saat buang air kecil

gejala penyakit chlamydia
Penyempitan uretra menyebabkan rasa sakit saat buang air kecil. Sumber foto: shutterstock

Tanda dari penyakit klamidia berikutnya adalah munculnya rasa sakit saat buang air kecil, baik pada pria maupun wanita. Kondisi ini disebut dengan disuria, dipicu oleh uretritis atau radang uretra.

Uretra yang merupakan tabung penghubung kandung kemih dengan saluran kencing mengalami penyempitan. Saat rongga pada uretra mengecil dan kandung kemih memberi tekanan pada urine, maka rasa sakit dan nyeri akan terjadi saat itu juga.

4. Keluar lendir dari alat kelamin

Pada pengidap penyakit chlamydia, alat kelamin akan sering mengeluarkan lendir bening yang terkadang kental atau encer. Banyak wanita tak menyadari gejala ini, karena tanda-tanda tersebut mirip dengan keputihan. Bedanya, lendir dari penyakit klamidia cenderung berwarna kekuningan.

5. Nyeri saat berhubungan seksual

Pada wanita, salah satu tanda yang paling kentara dari penyakit klamidia adalah timbulnya rasa nyeri saat berhubungan seks. Serviks atau mulut rahim yang terhubung dengan vagina adalah area infeksi paling umum dari penyakit ini.

Saat penis melakukan penetrasi, rasa sakit tak biasa bisa muncul secara tiba-tiba. Kondisi ini bisa diperparah jika tuba fallopi juga mengalami peradangan.

Baca juga: Wajib Tahu! Ini Daftar 5 Penyakit pada Sistem Reproduksi Wanita

6. Sakit tenggorokan

Gejala dari penyakit klamidia yang jarang terjadi adalah sakit pada tenggorokan. Kondisi ini bisa muncul karena ada penularan bakteri melalui seks oral.

Sakit ini biasanya berupa radang, disertai nyeri dan sulit menelan makanan. Pada tahapan yang parah, bakteri tersebut bisa memunculkan nanah pada faring.

Penyakit chlamydia di mata

Selain alat kelamin, infeksi klamidia juga bisa terjadi di mata. Infeksi ini disebabkan oleh sentuhan tangan yang belum dicuci setelah berhubungan seks.

Tangan bisa menjadi medium penularan yang efektif. Bagian telapak adalah tempat berkumpul dan berkembangnya banyak bakteri, tidak hanya C. trachomatis. Infeksi klamidia di mata bisa menimbulkan gejala seperti:

  • Mata merah
  • Mata bengkak
  • Mata menjadi lebih sensitif terhadap cahaya
  • Gangguan penglihatan

Infeksi klamidia di mata perlu mendapat penanganan yang tepat. Jika tidak, berbagai masalah lain bisa terjadi, yang terparah adalah kebutaan.

Penanganan penyakit chlamydia

Penanganan penyakit klamidia meliputi dua hal, yaitu pemeriksaan dan pengobatan. Pemeriksaan dilakukan untuk mendeteksi adanya bakteri pemicu. Sedangkan pengobatan, digunakan untuk meredakan infeksi dan atau membunuh bakteri tersebut.

1. Pemeriksaan penyakit chlamydia

Chlamydia merupakan penyakit menular seksual yang gejalanya jarang disadari. Tak jarang pengidapnya yang mengalami berbagai komplikasi serius akibat penanganan yang terlambat.

Sayangnya, kamu tidak bisa melakukan deteksi secara mandiri di rumah, melainkan hanya di rumah sakit. Pemeriksaan itu meliputi:

  • Pemeriksaan urine
  • Tes swab uretra pada pria
  • Tes swab vagina pada wanita
  • Tes swab endoserviks pada wanita
  • Tes swab mulut
  • Tes swab rektum atau anus

Pemeriksaan urine lebih jarang dilakukan pada wanita, karena dokter cenderung menggunakan swab endoserviks yang hasilnya dinilai lebih akurat.

2. Pengobatan penyakit chlamydia

Yang perlu diingat, klamidia adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri, bukan virus. Sehingga, pengobatannya juga relatif lebih mudah dibanding infeksi virus.

Antibiotik adalah jenis obat yang umum digunakan untuk membunuh bakteri patogen. Pada penyakit klamidia, antibiotik yang diberikan biasanya berupa dosis besar yang diminum dua kali dalam sehari pada rentang satu hingga dua minggu.

Antibiotik sendiri adalah obat yang harus dihabiskan, meski penyakit yang diderita telah sembuh. Konsumsi antibiotik sampai habis bertujuan mencegah kambuhnya gangguan kesehatan yang sama.

Selama masa pengobatan, dokter mungkin akan melarangmu untuk berhubungan seks. Sebab, risiko penularan terhadap orang lain menjadi lebih tinggi. Lagi pula, ini juga akan melindungimu dari penularan infeksi baru.

Komplikasi pada penyakit lain

Penyakit klamidia bisa menimbulkan kehamilan di luar rahim. Sumber foto: www.chistlukeshealth.org

Klamidia merupakan penyakit serius yang tidak boleh dianggap remeh. Pengobatan dan penanganan yang terlambat bisa memperbesar risiko terjadinya komplikasi, seperti:

  • Epididimitis, yaitu infeksi atau peradangan pada epididimis di sekitar testis, tempat penyimpanan sperma pada pria. Infeksi ini bisa menimbulkan rasa nyeri pada skrotum, pembengkakan, dan demam.
  • Radang panggul, yaitu infeksi pada saluran tuba dan rahim yang bisa memicu rasa nyeri tak tertahankan. Infeksi ini dapat merusak ovarium, uterus, dan tuba fallopi.
  • Prostatitis, yaitu peradangan pada kelenjar prostat, disebabkan oleh C. trachomatis yang menyebar ke bagian tubuh tersebut. Kondisi ini bisa memunculkan rasa sakit saat melakukan hubungan seks, nyeri punggung, menggigil, dan sakit saat buang air kecil.
  • Kehamilan ektopik, yaitu keadaan mengandung janin di luar rahim, disebabkan sel telur yang dibuahi dan berkembang di luar uterus. Dalam beberapa kasus, pengangkatan jaringan ektopik perlu dilakukan demi mencegah komplikasi lain.
  • Kemandulan. Bakteri yang ada pada penyakit chlamydia membuat sel telur sulit untuk dibuahi.
  • Infeksi pada bayi baru lahir, disebabkan oleh paparan bakteri pemicu penyakit klamidia melalui vagina, bisa membuat bayi mengalami infeksi mata serius dan pneumonia.
  • Artritis reaktif, yaitu peradangan yang terjadi pada sendi, umumnya diakibatkan oleh infeksi.

Baca juga: Waspadai Penyakit Kutil Kelamin, Yuk Simak Penyebab, Gejala dan Cara Pengobatannya!

Faktor risiko penyakit chlamydia

Seseorang dapat tertular penyakit klamidia jika melakukan aktivitas seksual yang memiliki risiko tinggi, seperti:

  • Aktif berhubungan seksual sebelum usia 25 tahun
  • Tidak menggunakan alat pengaman seperti kondom secara konsisten
  • Memiliki partner seks lebih dari satu
  • Hubungan seks sesama jenis, terutama pria dengan pria

Penyakit klamidia juga sangat rentan menyerang remaja. Menurut data Centers for Disease Control and Prevention (CDC), angka infeksi tertinggi ada pada rentang usia 15 hingga 24 tahun. Sebagian besarnya adalah wanita.

Hubungan penyakit chlamydia dan gonore

Klamidia dan gonore adalah dua infeksi yang hampir mirip, ditularkan bakteri melalui hubungan seksual vaginal, oral, maupun anal. Keduanya juga sama-sama memiliki gejala yang jarang disadari pengidapnya.

Jika tanda-tanda klamidia umumnya muncul pada satu hingga tiga minggu setelah penularan, gejala gonore bisa terdeteksi lebih lama lagi. Persamaan ini yang membuat tidak sedikit orang mengira bahwa kedua penyakit ini adalah serupa. Padahal, ada tiga perbedaan yang perlu kamu ketahui, yaitu:

  • Gonore dan klamidia disebabkan oleh bakteri yang berbeda, yaitu C. trachomatis dan Neisseria gonorrhoeae.
  • Meski sama-sama menggunakan antibiotik dalam penanganannya, jenis obat yang digunakan relatif berbeda. Klamidia menggunakan doksisiklin dan azitromisin, sedangkan gonore memakai seftriakson, sefiksim, dan eritromisin.
  • Gejala penyakit klamidia akan terasa lebih menyakitkan pada wanita. Sedangkan gonore, berlaku sebaliknya.

Pencegahan penyakit chlamydia

Klamidia bukan penyakit sembarangan. Pencegahannya juga berbeda dengan penyakit nonseksual. Kamu bisa menghindari penyakit atau infeksi ini dengan melakukan sejumlah pencegahan, di antaranya:

1. Gunakan kondom saat berhubungan seks

pencegahan penyakit chlamydia
Cara menggunakan kondom wanita. Sumber foto: www.pan-yteplyai.com

Menggunakan kondom saat berhubungan seksual mampu meminimalkan risiko penularan PMS. Bukan hanya pria, saat ini, kondom untuk wanita sudah umum dijumpai. Penggunaan kondom yang tepat bisa menghindarkan kontak langsung antara penis dengan vagina.

Dengan begitu, infeksi yang ada pada salah satu atau keduanya tidak mudah untuk ditularkan. Cara ini hanya meminimalkan, bukan menghilangkan penularan. Artinya, risiko itu masih tetap ada.

2. Jangan miliki banyak pasangan

Poin penting selanjutnya untuk mencegah penularan penyakit klamidia adalah dengan membatasi jumlah pasangan. Semakin banyak orang yang berhubungan seks denganmu, semakin besar pula risiko penularan penyakit chlamydia.

Ini juga berlaku jika kamu memiliki pasangan baru. Ada baiknya, lakukan tes sebelum melakukan hubungan seks untuk mengetahui apakah terdapat infeksi seksual menular pada pasangan atau tidak.

Baca juga: Serba-serbi Tentang HIV dan AIDS yang Perlu Dipahami

3. Pemeriksaan rutin

Saat memutuskan untuk melakukan aktivitas seks, itu artinya kamu memiliki risiko untuk tertular penyakit klamidia. Sebab, klamidia sendiri hanya bisa ditularkan lewat hubungan badan.

Hal yang perlu kamu lakukan adalah rutin memeriksakan diri untuk mengatahui kemungkinan adanya penularan.

4. Jangan sering douching

Memiliki vagina yang bersih mungkin terdengar menyehatkan. Tapi, terlalu sering douching atau mencucinya menggunakan cairan atau larutan yang mengandung bahan khusus, bisa menghilangkan bakteri baik padanya.

Menjaga tingkat keasaman vagina sangat penting, karena bakteri baik seperti lactobacillus dan corynebacterium hanya bisa hidup di pH dengan kondisi ini. Jika bakteri tersebut hilang, vagina akan rentan mengalami infeksi.

Nah, itulah ulasan lengkap tentang penyakit chlamydia yang perlu kamu tahu. Yuk, minimalkan penularan penyakit klamidia dengan menerapkan hubungan seks aman dan rajin memeriksakan diri!

Jangan ragu untuk konsultasikan masalah kesehatanmu bersama para dokter terpercaya di Good Doctor. Akses layanannya 24/7 melalui aplikasi Grab Health sekarang juga. Kini, semua informasi kesehatan ada di genggamanmu!

  1. Centers for Disease Control and Prevention, diakses 21 Juni 2020, Chlamydia.
  2. Centers for Disease Control and Prevention, diakses 21 Juni 2020, Chlamydia – CDC Fact Sheet.
  3. Healthline, diakses 21 Juni 2020, Everything You Need to Know About Chlamydia Infection.
  4. Mayo Clinic, diakses 21 Juni 2020, Chlamydia trachomatis.
  5. Medical News Today, diakses 21 Juni 2020, Everything you need to know about chlamydia.
  6. Verywell Health, diakses 21 Juni 2020, What Is Chlamydia?
  7. Healthline, diakses 21 Juni 2020, What’s the Difference Between Chlamydia and Gonorrhea?

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on linkedin