Serba-serbi Tentang HIV dan AIDS yang Perlu Dipahami

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on linkedin

Banyak orang sering menganggap bahwa HIV dan AIDS adalah satu kesatuan, padahal keduanya merupakan dua hal yang berbeda meskipun saling berkaitan.

Perlu kamu ketahui bahwa HIV adalah suatu kondisi yang dapat menyebabkan AIDS. Untuk lebih jelasnya, yuk simak ulasan lengkap berikut ini:

Apa itu HIV?

HIV (human immunodeficiency virus) adalah virus yang menyerang sel-sel sistem kekebalan tubuh untuk membantu melawan infeksi. Kondisi tersebut tentu membuat seseorang lebih rentan terhadap infeksi dan penyakit lain.

Virus ini disebarkan melalui kontak dengan cairan tubuh tertentu dari orang dengan HIV. Umumnya kamu bisa terkena HIV saat melakukan hubungan seks tanpa kondom atau melalui berbagi peralatan obat suntikan.

Jika dibiarkan begitu saja tanpa obat, HIV dapat menyebabkan penyakit AIDS. Tubuh manusia tidak dapat menyingkirkan virus HIV dan belum ada penyembuhan yang efektif untuk penyakit ini. Jadi, begitu kamu terinfeksi virus ini, maka seumur hidup HIV akan bersarang di tubuhmu.

Namun dengan minum obat HIV (disebut terapi antiretroviral atau ART), orang dengan HIV dapat bertahan hidup lebih lama dan sehat. Tak hanya itu, obat ini juga dapat mencegah penularan HIV.

Apa itu AIDS?

AIDS adalah tahap akhir dari infeksi HIV yang terjadi ketika sistem kekebalan tubuh rusak parah akibat virus. Dilansir hiv.gov, di Amerika Serikat kebanyakan orang yang terkena HIV berhasil mencegah sampai pada tahap AIDS karena minum obat setiap hari.

Seseorang dengan HIV akan dianggap juga terkena AIDS saat jumlah sel CD4 mereka turun di bawah 200 sel per milimeter kubik darah (200 sel/mm3). Kamu yang memiliki sistem kekebalan tubuh sehat, jumlah CD4 adalah antara 500 dan 1.600 sel/mm3.

Beberapa orang yang terinfeksi HIV biasanya diawali dengan penyakit seperti flu dalam waktu dua hingga empat minggu setelah virus memasuki tubuh.

Jenis infeksi HIV

Ada dua jenis infeksi HIV yang bisa terjadi di dalam tubuh, di antaranya yakni HIV tanpa gejala dan HIV dengan gejala. Berikut penjelasan lengkapnya:

HIV tanpa gejala

Perhatikan adanya kondisi tidak biasa pada tubuh. Sumber gambar : http://nextcare.com

Penyakit ini dikenal sebagai infeksi HIV primer (akut) dan dapat berlangsung selama beberapa minggu.

Tanda dan gejala lain yang mungkin akan kamu rasakan ketika terkena HIV yaitu demam, sakit kepala, nyeri otot dan sendi, ruam, radang tenggorokan dan luka mulut yang menyakitkan, hingga pembengkakan kelenjar getah bening terutama di leher.

Tak hanya itu saja gejala lain yang mungkin akan kamu rasakan yaitu diare, penurunan berat badan, batuk hingga berkeringat saat malam hari.

Gejala-gejala ini bisa sangat ringan sehingga kamu akan mengiranya hanya sakit biasa saja. Padahal jumlah virus dalam aliran darah kamu sudah cukup tinggi. Akibatnya, infeksi tersebut akan menyebar lebih mudah.

Pada tahap infeksi ini, HIV masih ada di dalam tubuh dan di dalam sel darah putih. Namun, banyak orang mungkin tidak memiliki gejala atau infeksi apa pun selama masa ini.

Tahap ini dapat berlangsung selama bertahun-tahun jika kamu tidak menerima terapi antiretroviral (ART). Pada kasus beberapa orang penyakit ini akan berkembang lebih cepat.

HIV dengan gejala

Ketika virus terus berkembang biak dan menghancurkan sel-sel sistem kekebalan, maka virus tersebut dapat berkembang dengan cepat. Kamu juga akan merasakan beberapa gejala kronis.

Umumnya gejala kronis yang akan kamu rasakan seperti demam, kelelahan, alami sariawan yang parah, herpes zoster,  serta radang paru-paru.

Hubungan antara HIV dan AIDS

Bagi kamu yang terkena AIDS sudah pasti tertular HIV. Namun perlu kamu pahami bahwa orang-orang yang memiliki HIV tidak selalu juga terkena AIDS. Keduanya merupakan kondisi yang sangat berbeda. Kasus HIV berkembang melalui tiga tahap:

  • Tahap 1: tahap akut, beberapa minggu pertama setelah transmisi
  • Tahap 2: latensi klinis, atau tahap kronis
  • Tahap 3: AIDS

Karena HIV menurunkan jumlah CD4, sistem kekebalan tubuh melemah. Jumlah CD4 dewasa pada umumnya adalah 500 hingga 1.500 per milimeter kubik. Seseorang dengan jumlah di bawah 200 pun dianggap menderita AIDS.

Seberapa cepat kasus HIV berkembang melalui tahap kronis bervariasi secara signifikan dari orang ke orang.

Tanpa pengobatan, penyakit ini dapat bertahan hingga satu dekade sebelum berkembang menjadi AIDS. Namun dengan perawatan justru akan mengurangi risiko kamu terkena penyakit tanpa batas waktu.

Walaupun belum ada obat untuk HIV, kamu tetap bisa mengendalikannya. Orang yang menderita HIV sering memiliki masa hidup hampir normal saat menjalani pengobatan dini dengan terapi antiretroviral.

Sejalan dengan itu, secara teknis belum ada juga obat untuk AIDS. Namun, pengobatan alternatif lainnya dapat meningkatkan jumlah CD4 seseorang sampai pada titik di mana mereka dianggap tidak lagi memiliki AIDS.

Proses penularan HIV

Siapa pun dapat tertular HIV. Virus ini ditularkan dalam cairan tubuh yang meliputi darah, air mani, dan cairan vagina.

Beberapa cara penularan HIV dari orang ke orang bisa melalui hubungan seks vagina atau anal. Rute penularan yang paling umum terjadi karena terjadinya hubungan seks tanpa pengaman dan penggunaan suntikan narkoba.

Namun perlu kamu ketahui bahwa HIV tidak akan menular melalui beberapa hal ini seperti kontak kulit saat berpelukan, berjabat tangan, atau berciuman.

Penting untuk dicatat jika seseorang yang menderita HIV sedang dirawat dan memiliki viral load yang tidak terdeteksi secara terus-menerus, maka hampir mustahil untuk menularkan virus ke orang lain.

Diagnosis HIV dan AIDS

Ketika kamu ingin mengetahui apakah terinfeksi virus HIV atau tidak, biasanya akan dimulai dengan melakukan tes darah. Cara ini juga paling memungkinkan untuk dokter sekaligus memeriksa dan menentukan apakah kamu terinfeksi atau tidak.

Kemudian untuk keakuratan tes itu sendiri tergantung pada waktu kapan terakhir kamu terpapar HIV. Sebagai contoh kapan terakhir kali kamu berhubungan seks tanpa kondom atau bisa juga terakhir berbagi jarum suntik.

Butuh waktu sekitar 3 bulan untuk antibodi Human Immunodeficiency Virus muncul pada tes HIV.

Jika setelah melakukan tes tersebut hasilnya positif, tandanya kamu memiliki virus HIV dan sudah terinfeksi penyakit tersebut. Tapi perlu kamu ingat walaupun terjangkit HIV, belum tentu kamu juga terkena AIDS.

Perawatan pada orang dengan HIV dan AIDS

Agar dapat bertahan hidup dalam keadaan yang sehat, seorang penderita HIV/AIDS bisa melakukan beberapa hal berikut ini:  

1. Perawatan antiretroviral

Kamu yang menderita HIV sangat disarankan untuk menjalani perawatan antiretroviral. Pastikan kamu melakukan perawatan tersebut dengan rutin.

Maka dari itu sangat penting untuk siapa pun yang sudah mengetahui dirinya terjangkit HIV untuk melakukan pemeriksaan serta konsultasi dengan aktif agar mendapatkan dosis obat yang sesuai dengan stadium penderitanya.

Sebelum penyebaran virus semakin luas, sebaiknya pengobatan secepat mungkin dilakukan. Setelah mengonsumsi beberapa jenis obat untuk perawatan, pasti akan menimbulkan efek samping saat bulan pertama.

Namun jika dirasa setelah mengonsumsi justru memengaruhi kualitas hidup atau segala aktivitas kamu sangat disarankan untuk beralih ke obat lain dengan lakukan pemeriksaan dokter.

2. Menjaga pola hidup sehat

kanker sanofaring
Berolahraga. Sumber gambar : http://shutterstock.com

Tak hanya melakukan pengobatan terapi secara rutin, kamu juga perlu membiasakan diri untuk memulai pola hidup sehat.

Menjaga pola hidup sehat yang dimaksud adalah mengusahakan agar keadaan jasmani senantiasa sehat dan bugar.

Kamu mulai bisa menerapkan pola makan sehat, olahraga yang cukup serta hindari konsumsi alkohol dan narkotika.

3. Berada di lingkungan yang memberi dukungan

Setelah melakukan upaya maksimal mulai dari pengobatan hingga dalam menjaga kesehatan jasmani, hal terakhir yang juga penting untuk didapatkan oleh penderita HIV, adalah dukungan mental dari lingkungan sekitar.

Ketika mendengar bahwa terkena HIV tentu saja hal tersebut akan mengubah hidupnya. Bahkan sang penderita bisa memiliki pemikiran untuk menyerah dan putus asa. Hal tersebut tentu memengaruhi pikiran di otak serta batinnya.

Kondisi inilah yang mengharuskan lingkungan sekitar penderita HIV untuk bersikap suportif. Memberi dukungan secara moral dan finansial. Namun yang terpenting adalah tidak mengucilkannya sendirian.

Punya pertanyaan lebih lanjut seputar HIV dan AIDS? Silakan chat langsung dengan dokter kami untuk konsultasi. Caranya, buka aplikasi Grab kemudian pilih fitur Kesehatan, atau langsung klik di sini.

Baca juga: Penasaran Bagaimana Cara Tes HIV pada Bayi dan Anak? Berikut Penjelasannya

  1. hiv.gov (2020) diakses 3 Juni 2020. What Are HIV and AIDS? 
  2. mayoclinic.org (2020) diakses 3 Juni 2020. HIV/AIDS
  3. healthline.com (2014) diakses 3 Juni 2020. A Comprehensive Guide to HIV and AIDS
  4. who.int (2019) diakses 3 Juni 2020. HIV/AIDS 
Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter