Puasa

6 Manfaat Puasa untuk Kesehatan Mental: Atasi Stres dan Perbaiki Mood

April 21, 2021 | Fitri Chaeroni | dr. Raja Friska Yulanda
feature image

Tak hanya untuk kesehatan fisik, ternyata puasa juga memiliki manfaat untuk kesehatan mental kita, lho. Ya, manfaat puasa tak sekadar berkaitan dengan kesehatan secara fisik, tapi juga psikis.

Pelajari apa saja manfaat puasa untuk kesehatan mental selengkapnya pada ulasan berikut ini!

Bagaimana puasa berpengaruh pada kesehatan mental?

Saat kita lapar untuk waktu yang singkat, tubuh melepaskan zat kimia untuk melindungi otak dari efek samping negatif. 

Pada periode pekan pertama puasa, tubuh mulai beradaptasi dengan rasa lapar dengan melepaskan sejumlah besar hormon katekolamin.

Termasuk juga adrenalin, norepinefrin dan dopamin serta glukokortikoid, hormon steroid yang berperan dalam mengatur respons imun, dan metabolisme glukosa.

Setelah beberapa saat, tubuh kita merespons stres ini melalui dorongan perasaan baik yang dapat meningkatkan kesehatan mental.

Baca Juga : Wajib Tahu! Ini 5 Manfaat Puasa Bagi Kesehatan Organ Tubuh

Manfaat puasa untuk kesehatan mental

Di luar manfaat spiritual yang didapat dari bulan Ramadan, berikut beberapa manfaat puasa untuk kesehatan mental yang perlu kamu tahu!

1. Mengurangi stres

Ronny Tri Wirasto, Sp.KJ., psikiater sekaligus Ketua Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Universitas Gadjah Mada menyebut kalau puasa bisa mengurangi stres. 

Hal ini dipengaruhi faktor karena saat berpuasa kita cenderung membuat jadwal makan menjadi lebih teratur. Konsumsi makanan yang diatur juga memengaruhi cara berpikir menjadi lebih teratur.

Mengatur jadwal makan melalui puasa juga akan menjaga hormon kortisol yang berhubungan dengan respons tubuh terhadap stres. Puasa dapat menstabilkan hormon kortisol yang diproduksi oleh kelenjar adrenal. Sederhananya, ini dapat mengurangi tingkat stres.

2. Kondisi mental lebih stabil

Selama kamu berpuasa, akan ada lebih sedikit bahan beracun yang mengalir melalui darah dan sistem limfatik, yang berdampak pada kemampuan berpikir yang lebih baik.

Selain itu, saat berpuasa, energi yang biasanya kamu gunakan untuk mencerna makanan tersedia untuk digunakan oleh otak sepenuhnya.

Kamu mungkin tidak akan menyadari perubahan mental ini sampai beberapa hari pertama puasa sebab tubuh membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri.

Tetapi setelah tubuh membersihkan diri dari racun, otak memiliki akses ke aliran darah yang lebih bersih. Ini menghasilkan pikiran yang lebih jernih, memori yang lebih baik, dan peningkatan ketajaman indra yang lain.

3. Proses ‘peremajaan’ otak

Saat berpuasa, tubuh termasuk otak dan pikiran mengalami proses rejuvenation atau peremajaan. Proses ini menghilangkan sel yang sakit, serta hanya menyisakan jaringan yang sehat.

Baca Juga : Bukan Cuma Ibadah, Ini Dia Manfaat Puasa Bagi Kesehatan

4. Mood lebih baik

Sebuah penelitian yang diterbitkan di Journal of Nutrition Health & Aging menemukan bahwa orang yang puasa intermiten selama 3 bulan memiliki peningkatan suasana hati yang lebih baik dan penurunan ketegangan, kemarahan, dan kebingungan. 

Penelitian lain menemukan bahwa selama menjalani puasa ramadan, perawat mengalami penurunan depresi yang signifikan setelah periode puasa dibandingkan sebelumnya. Puasa telah efektif dalam mengurangi stres dan tingkat depresi di kalangan perawat.

Penurunan gejala suasana hati dan kecemasan yang rendah mungkin disebabkan oleh beberapa faktor. Depresi diketahui memiliki hubungan dengan peningkatan peradangan dan puasa terbukti mengurangi peradangan.

5. Penurunan tingkat depresi

Para peneliti dan ilmuwan juga telah mempelajari hubungan antara diet, kesehatan usus, dan kesehatan mental. Melansir Aljazeera, Michael Mosley penulis buku The Fast Diet menyebut puasa dapat menyebabkan pelepasan BDNF di otak.

BDNF(brain-derived neurotrophic factor) bekerja pada sel-sel tertentu dari sistem saraf untuk mendorong pertumbuhan sel saraf baru dan mendukung sel saraf yang ada.

Saat berpuasa, kadar BDNF meningkat dan berdampak pada peningkatan suasana hati, kewaspadaan, dan rasa euforia. Ini telah terbukti melindungi sel-sel otak dan dapat mengurangi depresi dan kecemasan, serta risiko pengembangan demensia.

6. Kontrol diri yang lebih baik

Puasa, khususnya di bulan ramadan memang bertujuan untuk meningkatkan akhlak dan kebiasaan yang baik. Selama puasa Ramadan, banyak yang fokus pada membangun pengendalian diri, dan mempelajari kembali kebiasaan positif yang mengubah hidup. 

Tak hanya menahan lapar dan haus, kita didorong menjauhkan diri dari keburukan dan kebiasaan negatif seperti berdebat, berkelahi, atau bernafsu. Selama puasa ramadan orang-orang memperoleh kesabaran, kemauan yang kuat, dan disiplin.

Selain itu doa dan ibadah juga sangat penting selama Ramadan, yang punya tujuan untuk mempertajam kesadaran dan kedekatan dengan Tuhan. Ini dapat memberikan orang kekuatan dan pengendalian diri yang lebih baik.

Punya pertanyaan lebih lanjut seputar kesehatan? Mitra dokter kami siap memberi solusi. Yuk, download aplikasi Good Doctor di sini!

Reference

NCBI. Diakses pada 20 April 2021. Effect of Ramadan fasting on emotional reactions in nurses

Universitas Gadjah Mada. Diakses pada 20 April 2021. Discovering the Advantages of Fasting for Mental Health

WebMD. Diakses pada 20 April 2021. Psychological Benefits of Fasting

Amen Clinics. Diakses pada 20 April 2021. 7 Incredible Things Intermittent Fasting Does for Your Brain

Amcara. Diakses pada 20 April 2021. The mental health benefits of fasting

Al Jazeera. Diakses pada 20 April 2021. Ramadan 2020: The health benefits of fasting

Muslim Aid. Diakses pada 20 April 2021. The Benefits of Fasting

Jakarta Post. Diakses pada 20 April 2021. Fasting can boost our mental health

    register-docotr