Kamus Penyakit

Bipolar Disorder

January 21, 2021 | Muhammad Hanif S. | dr. Debby Deriyanthi
feature image

Bipolar disorder setidaknya diderita tidak kurang dari 4 persen masyarakat, menurut data yang dirilis Bipolar Care Indonesia. Lalu, apa saja penyebab, gejala, dan cara penanganan gangguan bipolar? Yuk, simak ulasan lengkapnya di bawah ini.

Baca Juga: Mengenal Penyakit Autoimun: Penyebab, Gejala, dan Pengobatannya

Apa itu penyakit bipolar disorder?

Bipolar disorder adalah suatu gangguan pada mental seseorang yang ditandai dengan perubahan mood atau suasana hati secara ekstrem. Seorang pengidap gangguan bipolar dapat merasakan senang, kemudian secara tiba-tiba berubah menjadi sedih atau depresi.

Perubahan suasana hati ini juga bisa disebut sebagai mood swing atau bipolar affective disorder, kerap memengaruhi banyak aktivitas sehari-hari, seperti kerja, sekolah, dan lainnya. Berbeda dengan penyakit fisik, gangguan pada mental akan lebih sulit untuk diobati, termasuk dengan gangguan bipolar.

Apa penyebab bipolar disorder?

Bipolar disorder bisa terjadi pada setiap orang, meski ada beberapa kalangan yang memiliki risiko lebih tinggi untuk mengidapnya. Sampai saat ini, belum ada bukti ilmiah yang valid tentang faktor utama penyebab gangguan bipolar.

Hanya saja, para ilmuwan memaparkan adanya indikasi fenomena mood swing atau bipolar affective disorder pada seseorang yang dipicu oleh:

1. Kelainan gen

Penyebab bipolar yang pertama adalah faktor genetik. Seseorang yang memiliki anggota keluarga dengan riwayat bipolar disorder mempunyai peluang untuk mengidap gangguan yang sama.

Menurut penelitian The American Academy of Child & Adolescent Psychiatry, jika seseorang memiliki orang tua atau saudara kandung dengan riwayat bipolar, peluang untuk mengalami kondisi mood swing semakin terbuka lebar.

Dari research yang sama juga menyebutkan, dua per tiga orang dengan gangguan bipolar mempunyai kerabat yang pernah mengalami depresi berat.

2. Kelainan otak

Penyebab bipolar berikutnya adalah kelainan otak. Ketidakstabilan fungsi otak dapat memengaruhi suasana hati. Kerusakan sel-sel pada hipokamus berkontribusi dalam perubahan mood. Hipokamus adalah bagian otak yang berfungsi untuk mengingat sesuatu.

Tidak hanya itu, ketidakseimbangan neurotransmiter dan adanya masalah pada mitokondria bisa menyebabkan gangguan mood. Mitokondria sendiri berperan penting dalam produksi sel-sel vital pada tubuh manusia.

Jika mitokondria tidak berfungsi normal, ini bisa memicu perubahan mood akibat pola penggunaan energi yang berubah signifikan. Sebuah publikasi di US National Library of Medicine memaparkan, struktur otak pengidap bipolar menunjukkan adanya gerakan atau fungsi sel yang tidak normal.

3. Faktor lingkungan

Tidak hanya soal faktor gen dan struktur otak, gangguan bipolar bisa terjadi karena faktor lingkungan sekitar. Faktor ini umumnya jarang disadari oleh banyak kalangan, sehingga perlu penerapan manajemen emosi yang tepat untuk menghindarinya.

Beberapa faktor lingkungan yang bisa memicu gangguan bipolar affective disorder meliputi:

  • Pelecehan seksual atau fisik
  • Kematian orang yang sangat dicintai
  • Stres yang sangat berlebihan
  • Penyakit fisik yang tak kunjung sembuh
  • Trauma mendalam pada masa lalu
  • Kekhawatiran berlebihan terhadap suatu hal

Kondisi-kondisi di atas memang sangat umum dialami oleh siapapun. Namun, jika dibiarkan berlarut-larut, ini bisa mengganggu kesehatan jiwa-nya. Bahkan, faktor-faktor tersebut bisa menjadi penentu swing mood pada persentase yang lebih tinggi daripada faktor gen atau struktur otak.

Siapa saja yang lebih berisiko terkena bipolar disorder?

Dari penjelasan di atas, bisa disimpulkan bahwa gangguan bipolar dapat diturunkan dari orang tua ke anak.

The American Academy of Child & Adolescent Psychiatry menjelaskan, seseorang yang memiliki kerabat dengan bipolar disorder memiliki risiko empat hingga enam kali lebih tinggi untuk mengidap gangguan yang sama.

Namun, ini tidak serta merta bahwa setiap orang yang memiliki kerabat dengan bipolar disorder bisa mengidap penyakit yang sama.

Ada rangkaian pemeriksaan yang harus dilakukan untuk menentukan apakah gen pada seseorang benar-benar memiliki struktur yang sama dengan anggota keluarga yang mengidap bipolar.

Baca juga: Skizofrenia: Penyebab, Gejala dan Cara Pencegahannya

Apa gejala dan ciri-ciri bipolar disorder?

Menurut Kementerian Kesehatan RI, ada empat jenis gejala bipolar disorder, yaitu manik, hipomanik, depresi, dan campuran. Masing-masing dari gejala tersebut memiliki tanda-tanda mood yang berbeda.

1. Manik

Gejala manik terjadi saat pengidap bipolar merasakan senang berlebihan, euforia terhadap sesuatu secara ekstrem, dan energi yang ada pada puncaknya. Ciri-ciri bipolar dengan gejala manik berupa:

  • Merasa paling hebat
  • Mudah tersinggung
  • Tidak butuh tidur karena merasa memiliki energi yang lebih
  • Memiliki ide-ide yang sangat banyak atau racing thought
  • Berbicara sangat cepat dan sulit untuk diikuti atau dicerna oleh orang lain
  • Perhatian sangat mudah teralihkan (distracted)
  • Muncul halusinasi atau keyakinan yang tidak sepenuhnya benar (bukan fakta)
  • Melakukan aktivitas atau kegiatan yang cukup berbahaya tanpa berpikir tentang akibatnya

2. Hipomanik

Ciri-ciri bipolar dengan gejala hipomanik hampir sama dengan pola di atas, tapi tidak terlalu menimbulkan gangguan.

Tanda-tandanya relatif sama, seperti mood yang meningkat, merasa dirinya lebih produktif dari biasanya, dan merasa lebih baik dari hari-hari sebelumnya. Biasanya, gejala ini jarang disadari.

3. Depresi

Sesuai dengan namanya, depresi adalah gejala saat seorang pengidap gangguan bipolar merasa ‘jatuh’ atau down. Gejala ini bisa terjadi selama berhari-hari bahkan berminggu-minggu, seperti:

  • Perasaan sedih yang mendalam
  • Kehilangan minat atau ketertarikan pada suatu hal
  • Makan dengan porsi sangat banyak atau kehilangan nafsu makan
  • Tidur dengan durasi berlebihan atau kesulitan tidur
  • Sulit berkonsentrasi
  • Sulit untuk membuat keputusan
  • Merasa tidak berguna atau tidak berharga
  • Sering gelisah (tidak dapat duduk atau diam dengan tenang)
  • Selalu merasa bersalah
  • Berpikir intens tentang kematian (dan juga terkadang terbersit untuk melakukan bunuh diri)
  • Halusinasi berlebihan terhadap sesuatu yang tidak nyata

4. Gejala campuran

Gejala campuran biasanya terjadi pada gangguan bipolar level tinggi, yaitu berupa perubahan gejala secara cepat. Misalnya, dari gejala depresi menjadi manik, atau sebaliknya. Jika gejala ini sudah muncul, penanganan medis melibatkan psikiater sangat dibutuhkan.

Tipe-tipe bipolar disorder

Gangguan bipolar dibedakan menjadi lima tipe, yaitu:

  • Bipolar 1, berupa gejala extreme high seperti manik berlangsung lebih dari satu minggu. Jika tidak mendapat penanganan, gejala bisa bertahan sampai enam bulan. Depresi bisa terjadi di sela periode manik, dapat berlangsung sampai 12 bulan jika tidak ditangani.
  • Bipolar 2, berupa gejala hipomanik yang bercampur dengan depresi secara intens.
  • Siklotimik (chyclothymia), berupa hipomanik dan depresi ringan yang teratur dalam periode dua tahun. Gejalanya tidak lebih berat dari gangguan bipolar itu sendiri. Oleh karena itu, siklotimik sering disebut sebagai pra-bipolar.
  • Bipolar campuran, yaitu mengalami dua gejala manik dan depresi di waktu yang sama. Misalnya, seseorang sedang depresi atau sedih tapi tetap merasakan senang dan bersemangat dalam secara bersamaan.
  • Rapid-cycling bipolar, yaitu mengalami semua gejala gangguan bipolar (manik, hipomanik, depresi, dan campuran) dalam periode 12 bulan. Perubahan antar satu gejala ke gejala yang lain bisa terjadi setiap hari.

Apa saja komplikasi yang mungkin terjadi akibat bipolar disorder?

Banyak pasien dengan gangguan bipolar juga berjuang dengan gangguan lain yang biasanya muncul secara bersamaan. Kombinasi ini terkadang dapat menyebabkan perilaku marah atau kekerasan dan beberapa kasus bahkan memicu bunuh diri. Beberapa komplikasi yang mungkin dialami, yakni:

  • Depresi. Biasanya ditandai dengan keadaan apatis, putus asa, atau sedih yang digeneralisasikan.
  • Gangguan kecemasan. Umumnya meliputi gangguan kecemasan umum, gangguan panik, paranoia, fobia, dan gangguan stres pascatrauma atau PTSD.
  • Attention-deficit hyperactivity disorder atau ADHD. Biasanya akan ditandai dengan rasa bersalah atau harga diri rendah.

Bagaimana cara mengatasi dan mengobati bipolar disorder?

Dalam mengobati bipolar disorder, dokter biasanya akan membuat diagnosis serangkaian tes, seperti pemeriksaan fisik dan pemeriksaan mental. Pemeriksaan fisik, berupa pengecekan pada anggota tubuh, misalnya tes darah dan urine

Sementara itu, untuk pemeriksaan mental, berupa konsultasi bersama psikolog atau psikiater mengenai gejala-gejala yang muncul. Nah, beberapa cara mangatasi gangguan ini antara lain:

Perawatan bipolar disorder di dokter

Untuk mengatasi masalah bipolar, dokter akan melakukan tindak penanganan. Beberapa perawatan tersebut meliputi, pemberian obat-obatan, konseling, dan perubahan gaya hidup.

Psikoterapi, berupa terapi perilaku kognitif (memahami cara berpikir pengidap gangguan bipolar), terapi ritme inter-personal (berhubungan dengan aktivitas sehari-hari seperti makan, tidur, dan olahraga), dan psiko-edukasi (konseling)

Cara mengatasi bipolar disorder secara alami di rumah

Terdapat beberapa langkah sederhana yang bisa dilakukan untuk membantu mengelola gangguan bipolar, salah satunya mengubah gaya hidup.

Beberapa pola hidup yang perlu diterpakan, yakni:

  • Jaga rutinitas makan dan tidur.
  • Belajar mengenali perubahan suasana hati.
  • Minta kerabat untuk mendukung rencana perawatan.

Apa saja obat bipolar disorder yang biasa digunakan?

Selain menjalani konseling dan mengubah pola hidup, dokter mungkin juga merekomendasikan obat dari apotek. Nah, beberapa obat bipolar yang bisa digunakan, antara lain:

Obat bipolar disorder di apotek

Obatan-obatan biasa diberikan dokter untuk meringankan gejala dan mencegah keparahan penyakit. Pemberian obat-obatan, seperti mood stabilizers (lithobid), antipsikotik (zyprexa), antidepresan (symbyax), dan obat pereda kecemasan (xanax)

Obat bipolar disorder alami

Beberapa pengobatan alami mungkin berguna untuk gangguan bipolar, namun bisa saja mengganggu obat yang sedang dikonsumsi. Namun, pengobatan alami patut untuk dicoba dalam mengatasi gangguan bipolar seperti:

  • Minyak ikan. Bahan alami satu ini diketahui bisa membantu mencegah seseorang menderita penyakit bipolar.
  • Rhodiola rosea. Tanaman ini dapat menjadi pengobatan yang bermanfaat untuk depresi sedang.
  • Mineral dan vitamin lain. Umumnya nutrisi ini bisa membantu mengurangi gejala gangguan bipolar.

Apa saja makanan dan pantangan untuk penderita bipolar disorder?

Tidak ada diet bipolar khusus yang harus dijalani, namun memilih makanan yang tepat bisa membantu meringankan gejala bipolar. Salah satu pantangan untuk penderita bipolar adalah menghindari daging merah, lemak jenuh, lemak trans, serta karbohidrat sederhana.

Gaya makan ini terkait dengan risiko obesitas, diabetes tipe 2, dan penyakit jantung yang tinggi. Karena itu, mengonsumsi makanan dengan sedikit lemak jenih dan karbohidrat sederhana bisa membantu menjaga kesehatan secara keseluruhan.

Bagaimana cara mencegah bipolar disorder?

Berbicara soal pencegahan, tidak ada langkah pasti yang bisa mencegah terjadinya bipolar disorder. Cara terbaik untuk terhindar dari gangguan bipolar adalah mengubah kebiasaan-kebiasaan buruk yang bisa memengaruhi kesehatan mental, misalnya mengontrol emosi dengan baik.

Minuman beralkohol dan obat-obatan terlarang juga sebaiknya dihindari, karena kandungan di dalamnya bisa menyebabkan kerusakan pada saraf otak dalam jangka waktu panjang. Jika saraf sudah terganggu, struktur otak juga akan terdampak.

Tes bipolar

Meski gejala-gejala bisa muncul kepada siapa saja, karena itu bipolar disorder test perlu dilakukan. Biasanya, bipolar disorder test dilakukan mengindikasikan ada potensi bipolar disorder pada seseorang.

Tidak ada tes darah atau scan otak khusus untuk mendiagnosis gangguan bipolar. Meski begitu, dokter mungkin akan melakukan pemeriksaan fisik, tes laboratorium termasuk tes fungsi tiroid, dan analisis urine.

Bipolar adalah gangguan suasana hati. Oleh karena itu, tes yang dilakukan untuk mengetahui gejalanya menitikberatkan pada perilaku dan kondisi mental pengidapnya, seperti yang dikutip dari Psych Central.

Tes bipolar akan menganalisis perilaku termasuk urusan seks, komunikasi, aktivitas sehari-hari, rasa percaya diri, stabilitas emosi, kreativitas, minat terhadap sesuatu, dan optimisme pada hal tertentu.

Untuk memudahkan tes bipolar, dokter biasanya bisa membedakan gejala yang muncul berdasarkan kelompok usia, seperti:

1. Bipolar pada anak

Mendeteksi bipolar pada anak-anak bukan hal mudah, karena gejalanya tidak selalu seperti orang dewasa. Bipolar pada anak-anak dapat diketahui dari kebiasaan ‘tidak biasa’ mereka yang berlangsung dalam waktu berulang, misalnya:

  • Sering berperilaku konyol
  • Suka murung
  • Tidak memiliki minat terhadap sesuatu
  • Sulit untuk berkonsentrasi
  • Melakukan hal-hal berisiko yang tidak biasa dilakukan oleh usia anak-anak
  • Sering memikirkan kematian

2. Bipolar pada remaja

Rasa cemas yang berlebihan bukan hal baru yang biasa terjadi pada remaja. Ini disebabkan oleh pertumbuhan hormon pubertas yang terus berkembang.

Manajemen emosi dan kebiasaan yang kurang baik dapat membuka potensi terjadinya gangguan bipolar, di antaranya:

  • Berperilaku melebih-lebihkan sesuatu
  • Mengambil bagian dalam tindakan yang berisiko
  • Penyalahgunaan zat terlarang
  • Selalu memikirkan seks
  • Suka marah tanpa sebab
  • Mudah terganggu dan sulit untuk fokus
  • Menghindari aktivitas yang melibatkan banyak orang (enggan untuk bersosialisasi)
  • Sulit tidur meski sedang lelah
  • Berpikir sesuatu yang ekstrem, misalnya bunuh diri

3. Bipolar pada pria

Pria dan wanita dewasa memiliki gejala umum gangguan bipolar yang sama. Hanya saja, ada gejala tertentu yang sedikit lebih berbeda pada pria, seperti:  

  • Mengalami periode manik secara berlebih
  • Kecenderungan mengakhiri hidup lebih tinggi
  • Enggan untuk mencari perawatan medis

Baca juga: Demam Berdarah: Kenali Gejala dan Cara Pencegahannya

4. Bipolar pada wanita

Meski memiliki gejala yang sama dengan pria, umumnya wanita mempunyai tanda-tanda yang lebih rumit, seperti:

  • Gejala depresi lebih tinggi daripada gejala yang lain
  • Manajemen emosi yang relatif tidak stabil
  • Bisa mengalami beberapa gejala gangguan bipolar sekaligus dalam kurun waktu tertentu

Gangguan bipolar dengan kondisi lain

Gangguan bipolar kerap dikaitkan dengan kondisi lain yang berhubungan dengan suasana hati dan mental, seperti depresi, kecemasan, dan skizofrenia. Lalu, apakah bipolar memang ada kaitannya dengan beberapa kondisi tersebut?

1. Depresi dan bipolar

Depresi dan bipolar adalah bagian yang tak terpisahkan. Sebab, depresi adalah salah satu jenis gejala yang bisa terjadi pada orang dengan gangguan bipolar. Meski, tak semua pengidapnya mengalami fase tersebut.

Seperti yang telah dijelaskan, pengidap bipolar bisa mengalami gejala depresi selama berhari-hari, selain merasakan fase lain yang menyebabkan mood swing, seperti manik dan hipomanik.

2. Anxiety dan bipolar

Dikutip dari Healthline, sama seperti depresi, kebanyakan pengidap bipolar juga mengalami kondisi gangguan kecemasan atau anxiety. Bahkan, menurut studi pada 2011, anxiety dan bipolar adalah dua bagian yang mungkin tak terpisahkan.

Dari penelitian tersebut, ditemukan fakta bahwa setidaknya setengah dari pengidap bipolar juga mengalami gangguan kecemasan selama hidupnya. Tak hanya itu, risiko anxiety pada pengidap bipolar juga cukup tinggi, yaitu pada rentang 3 hingga 7 kali lebih tinggi ketimbang orang yang sehat.

Generalized anxiety disorder

Bipolar bisa menyebabkan seseorang merasakan kecemasan dan kekhawatiran yang berlebihan dan secara terus menerus. Kondisi yang disebut juga dengan generalized anxiety disorder ini mungkin dikembangkan oleh anak atau orang dewasa.

Gejala dari generalized anxiety disorder secara umum, antar lain gangguan panik, gangguan obsesif-kompulsif, dan jenis kecemasan lain. Beberapa tanda dan gejala fisik yang mungkin dialami penderita, termasuk:

  • Kelelahan
  • Kesulitan tidur
  • Ketegangan otot
  • Gugup atau mudah terkejut
  • Sifat lekas marah
  • Berkeringat
  • Sindrom iritasi usus

3. Bipolar dan skizofrenia

Berbeda dengan dua kondisi sebelumnya, bipolar dan skizofrenia adalah gangguan mental kronis yang berbeda. Skizofrenia mempunyai gejala yang lebih parah dari bipolar, seperti halusinasi dan delusi.

Hal berikutnya yang membedakan bipolar dan skizofrenia adalah tentang kelompok pengidapnya. Bipolar bisa terjadi pada semua orang dari segala golongan umur. Sedangkan skizofrenia sangat jarang menyerang anak-anak.

Kapan harus menghubungi dokter untuk menangani bipolar disorder?

Terlepas dari semua jenis dan gejala yang muncul, sebagian besar pengidap bipolar disorder sering tidak menyadari tentang ketidakstabilan mood dan emosi mereka. Padahal, jika tidak mendapat bantuan penanganan medis, gejala yang ada bisa terjadi dalam waktu yang lebih lama, bahkan tahunan.

Gejala yang paling bisa dirasakan adalah perubahan mood secara tiba-tiba dan berulang. Rasa senang atau euforia berlebih yang tiba-tiba berubah menjadi sedih atau murung bisa mengindikasikan bahwa kamu sedang mengalami gangguan yang satu ini.

Kenali dirimu dengan melakukan self-reflection, apakah kamu sedang mengalami gejala manik, hipomanik, depresi, atau bahkan campuran dari semuanya. Tenaga kesehatan seperti psikiater akan membantumu dalam mengendalikan gejala yang muncul.

Baca juga: 8 Manfaat Buah Tomat untuk Kesehatan yang Perlu Kamu Tahu

Jika memiliki anggota keluarga pengidap bipolar disorder

Memiliki anggota keluarga yang mengidap gangguan bipolar bukanlah sebuah aib, justru kamu harus memberikan semangat padanya agar bisa menjalani hidup dengan sebaik-baiknya.

Kemenkes RI memberikan panduan untuk seseorang yang memiliki kerabat pengidap bipolar, yaitu:

  • Memberi motivasi kepadanya untuk tetap berobat ke dokter, menghindari obat terlarang dan alkohol, serta mendorong untuk minum obat secara teratur.
  • Waspadai gejala-gejala yang bisa berakibat buruk, seperti hasrat ingin bunuh diri. Segera hubungi polisi atau rumah sakit jika kondisi ini terjadi.
  • Berikan semangat bahwa selalu ada harapan dalam mencapai hidup yang lebih baik.
  • Berbagi tanggung jawab untuk meredakan stres (menghindarkan gejala depresi).

Nah, itulah ulasan lengkap tentang bipolar disorder yang perlu kamu ketahui. Yuk, tetap jaga dan kontrol emosi untuk meminimalkan risiko terkena gangguan bipolar!

Konsultasikan masalah kesehatan Anda dan keluarga melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Mitra dokter kami siap memberi solusi. Yuk, download aplikasi Good Doctor di sini!

Reference

  1. Mental Health UK, diakses 10 Mei 2020, Types of bipolar disorder.
  2. American Psychiatric Assosiation, diakses 20 Mei 2020, What Are Bipolar Disorders?
  3. The American Academy of Child & Adolescent Psychiatry, diakses 10 Mei 2020, What causes pediatric bipolar disorder?
  4. US National Library of Medicine, diakses 10 Mei 2020, Brain abnormalities in bipolar disorder detected by quantitative T1p mapping.
  5. Healthline, diakses 10 Mei 2020, Everything You Need to Know About Bipolar Disorder.
  6. Mayo Clinic, diakses 10 Mei 2020, Bipolar disorder.
  7. NHS UK, diakses 10 Mei 2020, Overview Bipolar Disorder.
  8. Kementerian Kesehatan, diakses 10 Mei 2020, Gangguan Bipolar.
  9. Bipolar Care Indonesia, diakses 10 Mei 2020, Data Penyintas Gangguan Bipolar.
  10. Healthgrades.com (2018), diakses 18 September 2020. Complications of Bipolar Disorder
  11. Webmd, diakses 18 September 2020. Bipolar Disorder and Foods to Avoid
  12. Mayo Clinic (2017), diakses 18 September 2020. Generalized anxiety disorder
  13. Healthline (2019), diakses 23 September 2020. Diagnosis Guide for Bipolar Disorder
  14. Psych Central, diakses 21 Januari 2021, Bipolar Disorder Test.
  15. Healthline, diakses 21 Januari 2021, Can You Have Bipolar Disorder and an Anxiety Disorder at the Same Time?
  16. Healthline, diakses 21 Januari 2021, Bipolar Disorder and Schizophrenia: What Are the Differences?
  17. JAMA Network, diakses 21 Januari 2021, Prevalence and Correlates of Bipolar Spectrum Disorder in the World Mental Health Survey Initiative.

    register-docotr