Diet dan Nutrisi

Garcinia Cambogia Diklaim Bisa Turunkan Berat Badan, Benarkah Demikian?

February 25, 2021 | Nik Nik Fadlah | dr. Pitoyo Marbun
feature image

Berolahraga dan menjalani diet sehat merupakan berbagai cara untuk menurunkan berat badan. Di samping itu, penggunaan suplemen penurun berat badan juga banyak digunakan saat ini. Salah satunya yang diklaim punya manfaat ini adalah garcinia cambogia.

Garcinia cambogia dengan nama latin Garcinia gummi-gutta merupakan salah satu kandungan suplemen berat badan yang cukup populer. Garcinia cambogia sendiri dikatakan dapat menurunkan berat badan dengan cara tertentu.

Lantas, apakah benar garcinia cambogia memang dapat digunakan sebagai salah satu obat penurun berat badan alami?

Baca juga: Olahraga Kardio atau Angkat Beban, Mana yang Paling Baik untuk Turunkan Berat Badan?

Apa itu Garcinia cambogia?

Garcinia cambogia adalah buah yang memiliki ukuran kecil, berbentuk seperti labu, dan memiliki warna kuning atau kehijauan. Buah yang juga dikenal sebagai asam gelugur ini lebih banyak digunakan sebagai bahan masakan dibandingkan dengan mengonsumsinya secara langsung.

Garcinia cambogia juga tersedia dalam bentuk suplemen. Suplemen dari garcinia cambogia terbuat dari ekstrak kulit buahnya. Perlu kamu tahu bahwa suplemen garcinia cambogia adalah suplemen penurun berat badan yang populer.

Benarkah garcinia cambogia bisa digunakan sebagai obat pelangsing alami?

Dikutip dari Web MD,  hydroxycitric acid (HCA) merupakan zat aktif yang terdapat di dalam kulit buah garcinia cambogia. Nah, HCA tampaknya dapat memblokir enzim yang dikenal sebagai enzim citrate lyase yang digunakan tubuh dalam proses pembentukan lemak.

Di sisi lain, HCA juga dapat meningkatkan kadar serotonin kimiawi pada otak yang mana dapat berkontribusi terhadap penurunan rasa lapar. Tak hanya itu, HCA juga merupakan zat aktif yang telah terbukti memiliki beberapa sifat penurunan berat badan.

Bagaimana efektivitasnya?

Efektivitas penurunan berat badan dari garcinia cambogia dapat dikatakan tidak signifikan. Terdapat beberapa penelitian terhadap manusia yang telah dilakukan untuk menguji efek penurunan berat badan dari garcinia cambogia.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa garcinia cambogia telah terbukti dapat membantu penurunan berat badan sekitar 2 pon atau setara dengan 0,88 kg selama 2-12 pekan.

Sementara itu, beberapa penelitian juga dikatakan belum menemukan potensi dari penurunan berat badan secara signifikan.

Misalnya saja, sebuah studi yang dilakukan terhadap 135 orang tidak menunjukkan perbedaan penurunan berat badan yang signifikan antara kelompok yang mengonsumsi garcinia cambogia dengan kelompok yang tidak mengonsumsinya.

Maka dari itu, masih diperlukan lebih banyak penelitian untuk melihat kemanjuran dari garcinia cambogia terhadap penurunan berat badan.

Cara garcinia cambogia membantu dalam penurunan berat badan

Garcinia cambogia dianggap dapat membantu menurunkan berat badan melalui dua cara, di antaranya adalah:

1. Mengurangi rasa lapar

Beberapa penelitian terhadap manusia menemukan bahwa garcinia cambogia dapat membantu menekan nafsu makan serta membuat merasa kenyang. Penelitian yang dilakukan terhadap hewan menemukan bahwa garcinia cambogia dapat menekan nafsu makan.

Meskipun demikian, mekanismenya masih belum diketahui sepenuhnya. Studi yang dilakukan terhadap hewan menunjukan bahwa bahan aktif yang terkandung di dalam buah ini dapat menyebabkan peningkatan serotonin pada otak.

Serotonin sendiri dikenal dapat membantu mengendalikan nafsu makan. Jika kadar serotonin di dalam darah tinggi, ini dapat mengurangi nafsu makan.

Sementara itu, penelitian lain tidak menemukan perbedaan nafsu makan antara mereka yang menggunakan suplemen garcinia cambogia dengan mereka yang tidak menggunakannya. Efek ini mungkin saja bergantung dari masing-masing individu.

2. Menghambat produksi lemak

Kedua, garcinia cambogia juga dapat memengaruhi lemak darah serta produksi asam lemak baru. Penelitian yang dilakukan terhadap hewan dan manusia menemukan bahwa garcinia cambogia dapat menurunkan kadar lemak yang tinggi di dalam darah serta mengurangi stres oksidatif.

Dilansir Healthline, sebuah penelitian terhadap penderita obesitas menemukan bahwa mereka yang mengonsumsi sekitar 2.800 mg garcinia cambogia per hari selama 8 pekan dapat membantu menurunkan faktor risiko kondisi medis tertentu, seperti:

  • Kadar kolesterol total 6,3 persen lebih rendah
  • Kadar kolesterol LDL atau kolesterol ‘jahat’ sebesar 12,3 persen lebih rendah
  • Kadar kolesterol HDL atau kolesterol ‘baik’ sebesar 10,7 persen lebih tinggi
  • Trigliserida darah sekitar 8,6 persen lebih rendah

Alasan utama dari efek yang ditimbulkan tersebut dapat dikarenakan garcinia cambogia dapat membantu menghambat enzim citrate lyase. Dengan cara tersebut, buah ini dapat memblokir atau memperlambat produksi lemak di dalam tubuh.

Baca juga: Panduan Memilih Sarapan Sehat untuk Diet yang Tepat, Mulai Telur hingga Oatmeal

Efek samping garcinia cambogia

Penggunaan suplemen penurun berat badan dengan kandungan garcinia cambogia jika dikonsumsi dalam dosis tinggi dapat menimbulkan efek samping tertentu. Adapun beberapa efek smaping dari garcina cambogia di antaranya adalah:

  • Sakit kepala
  • Pusing
  • Mulut kering
  • Sakit perut atau diare

Garcina cambogia juga tidak boleh digunakan untuk ibu hamil, ibu menyusui, atau seseorang yang memiliki kondisi medis tertentu, seperti gangguan pada hati.

Itulah beberapa informasi mengenai potensi garcinia cambogia terhadap penurunan berat badan. Jika kamu memiliki pertanyaan lebih lanjut seputar masalah ini jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter, ya.

Konsultasikan masalah kesehatan Anda dan keluarga melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Mitra dokter kami siap memberi solusi. Yuk, download aplikasi Good Doctor di sini!

Reference

Healthline (2018). Diakses pada 24 Februari 2021. How Garcinia Cambogia Can Help You Lose Weight and Belly Fat 

Webmd (2019). Diakses pada 24 Februari 2021. Garcinia Cambogia: Safe for Weight Loss?

Onakpoya, Igho, Shao Kang Hung (2011). The Use of Garcinia Extract (Hydroxycitric Acid) as a Weight loss Supplement: A Systematic Review and Meta-Analysis of Randomised Clinical Trials. NIH (diakses pada 24 Februari 2021)

Heymsfield, S B, D B Allison (1998). Garcinia cambogia (hydroxycitric acid) as a potential antiobesity agent: a randomized controlled trial. NIH (diakses pada 24 Februari 2021)

Ohia, Sunny E, Catherine A Opere (2002). Safety and mechanism of appetite suppression by a novel hydroxycitric acid extract (HCA-SX). NIH (diakses pada 24 Februari 2021)

Venkateswara Rao, G, A.C.Karunakara (2010). Hydroxycitric acid lactone and its salts: Preparation and appetite suppression studies. Science Direct (diakses pada 24 Februari 2021)

Kovacs, E.M.R, M.S.Westerterp-Plantenga (2001). Effects of 2-week ingestion of (−)-hydroxycitrate and (−)-hydroxycitrate combined with medium-chain triglycerides on satiety and food intake. Science Direct (diakses pada 24 Februari 2021)

Sripradha, Ramalingam, Magadi Gopalakrishna Sridhar (2016). Antihyperlipidemic and antioxidant activities of the ethanolic extract of Garcinia cambogia on high fat diet-fed rats. NIH (diakses pada 24 Februari 2021)

Sripradha, Ramalingam, Magadi Gopalakrishna Sridhar (2016). Antihyperlipidemic and antioxidant activities of the ethanolic extract of Garcinia cambogia on high fat diet-fed rats. NIH (diakses pada 24 Februari 2021)

    register-docotr