Diet dan Nutrisi

Apa Kaitannya Pola Makan dengan Sistem Kekebalan Tubuh?

May 3, 2021 | Nik Nik Fadlah | dr. Debby Deriyanthi
feature image

Asupan makanan yang kita konsumsi bisa berpengaruh terhadap cara kerja sistem kekebalan tubuh. Pola makan tertentu dapat meningkatkan fungsi sistem kekebalan, namun sebagian lainnya justru dapat menurunkan fungsi kekebalan.

Lantas, pola makan apa yang harus diadopsi agar sistem kekebalan tubuh berfungsi dengan baik? Apa efeknya jika kita mengonsumsi pola makan tidak sehat?

Baca juga: Makan Malam Bikin Gemuk, Sekadar Mitos atau Fakta?

Dua tipe sistem kekebalan

Sistem kekebalan menawarkan dua garis pertahanan, yakni sistem kekebalan bawaan (innate immunity) serta sistem kekebalan adaptif (adaptive immunity).

Sistem kekebalan bawaan adalah garis pertahanan pertama. Ini terdiri dari penghalang fisik, seperti kulit, selaput lendir, atau bahkan pertahanan kimiawi dan seluler. Sistem kekebalan bawaan bereaksi dengan cara yang sama terhadap penyerang.

Apabila sistem kekebalan bawaan kurang efektif dalam melawan ancaman, maka sistem kekebalan adaptif akan mengambil alih. Berbeda halnya dengan sistem kekebalan bawaan, sistem kekebalan adaptif terdiri dari sel darah dan protein khusus yang menargetkan suatu infeksi.

Tak hanya itu, sistem kekebalan adaptif juga memiliki memori, yang mana ini dapat membuat tubuh menjadi kebal terhadap infeksi atau penyakit tertentu setelah paparan awal. Agar tubuh tetap sehat, penting bagi sistem kekebalan untuk berfungsi dengan baik.

Apakah diet atau pola makan dapat memengaruhi sistem kekebalan tubuh?

Perlu kamu ketahui bahwa terdapat beberapa faktor yang bisa memengaruhi fungsi kekebalan, termasuk gaya hidup. Namun, penelitian juga menunjukkan bahwa pola makan dapat memengaruhi fungsi kekebalan.

Misalnya saja, asupan nutrisi dalam tubuh dapat memengaruhi mikrobioma, fungsi penghalang usus, hingga fungsi sel darah putih, yang mana faktor tersebut berpengaruh terhadap sistem kekebalan.

Di sisi lain, pola diet dan asupan makanan yang dikonsumsi juga dapat memengaruhi risiko kondisi medis tertentu.

Sebagai contoh, konsumsi makanan yang mengandung lemak jenuh tingkat tinggi, ultra-processed foods, atau mengandung tambahan gula dan garam, diet ini biasanya rendah dengan asupan makanan untuk kesehatan yang lebih baik, seperti sayuran dan dikaitkan dengan peningkatan risiko kondisi tertentu.

Bahkan penelitian menunjukkan bahwa mengadopsi pola makan tersebut dapat menyebabkan peradangan dan mengubah fungsi sistem kekebalan. Akibatnya, ini dapat mendorong perkembangan penyakit.

Tak hanya itu, kurangnya asupan nutrisi seperti vitamin D dan C, serta zinc juga dapat memengaruhi respons kekebalan.

Baca juga: Tips Porsi Makan untuk Diet yang Aman untuk Menjaga Berat Badan Ideal

Pola makan yang baik untuk sistem kekebalan

Berbeda halnya dengan pola makan yang sudah disebutkan di atas, mengadopsi pola makan sehat dapat membantu meningkatkan sistem kekebalan.

Seperti, pola makan yang melibatkan konsumsi sayuran, buah-buahan, kacang-kacangan, polong-polongan, serta membatasi asupan ultra-processed foods dapat membantu menurunkan risiko penyakit dan meningkatkan fungsi sistem kekebalan.

Meskipun demikian, para ahli masih mempelajari bagaimana makanan yang dikonsumsi berpengaruh pada fungsi sistem kekebalan.

Efek merugikan pada pola makan yang tidak sehat

Perlu kamu ketahui bahwa pola makan bergaya barat (Western-type diets) cenderung tinggi akan kandungan karbohidrat olahan, gula tambahan, lemak jenuh, dan kalori. Ini dapat memengaruhi fungsi kekebalan dalam beberapa cara.

Sebagai contoh, makanan dan minuman yang secara signifikan dapat memengaruhi kadar gula darah, seperti soda, permen, hingga sereal manis dapat meningkatkan kadar protein inflamasi.

Tak hanya itu, kadar gula yang tinggi dalam tubuh juga dikaitkan dengan gangguan pada respons kekebalan.

Di sisi lain, para ahli juga mengaitkan pola makan bergaya barat dengan respons imun yang berubah akibat kadar lemak jenuh dan tambahan garam yang tinggi.

Studi menunjukkan bahwa konsumsi makanan yang tinggi akan kandungan lemak jenuh dapat meningkatakn peradangan, memengaruhi bakteri usus, serta menghambat fungsi dari sel darah putih.

Sementara itu, konsumsi makanan dengan tambahan garam secara berlebihan dikaitkan dengan respons imun secara berlebihan, gangguan regulasi peradangan dalam tubuh hingga peningkaan risiko penyakit autoimun tertentu. Seperti dikutip dari Medical News Today.

Lalu, pola makan apa yang baik untuk fungsi sistem kekebalan?

Pola makan atau diet yang kaya akan makanan pada nutrisi sangat bermanfaat untuk fungsi kekebalan tubuh. Misalnya saja diet Mediterania yang melibatkan konsumsi sayuran, kacang-kacangan, buah, biji-bijian, serta makanan sehat lainnya.

Penelitian menunjukkan bahwa pola makan tersebut dapat mengurangi risiko penyakit tertentu, penanda peradangan yang lebih rendah, serta menguntungkan bakteri usus.

Tak hanya itu ,pola makan yang tinggi asupan sayuran, kacang-kacangan, biji-bijian, serta ikan berlemak mengandung nutrisi tingkat tinggi, seperti vitamin A, vitamin C, vitamin D, zinc, folat, hingga zat besi. Sistem kekebalan tubuh memerlukan nutrisi tersebut agar dapat berfungsi dengan optimal.

Sebagai tambahan, makanan yang mengandung lemak sehat, serat, vitamin, protein, mineral, serta senyawa tanaman dapat membantu mengurangi peradangan sistemik, meningkatkan keseimbangan bakteri sehat pada usus, menurunkan stres oksidatif, dan meningkatkan sensitivitas insulin.

Nah, semua faktor tersebut diperlukan bagi fungsi kekebalan yang sehat. Untuk mendukung fungsi kekebalan tubuh, kamu harus fokus pada pola makan seimbang dengan mengonsumsi makanan yang padat nutrisi, seperti sayur, buah, kacang-kacangan, dan biji-bijian.

Konsultasikan masalah kesehatan Anda dan keluarga melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Mitra dokter kami siap memberi solusi. Yuk, download aplikasi Good Doctor di sini!

Reference

Medical News Today (2021). Diakses pada 30 April 2021. How and why does diet influence immune function? 

NCBI (2020). Diakses pada 30 April 2021. Nutrition and the Immune System: A Complicated Tango 

Immunity (2019). Diakses pada 30 April 2021. Western Diet and the Immune System: An Inflammatory Connection 

NIH (2018). Diakses pada 30 April 2021. Obesity, Inflammation, Toll-Like Receptor 4 and Fatty Acids 

NCBI (2019). Diakses pada 30 April 2021. Gut microbiome-Mediterranean diet interactions in improving host health 

    register-docotr