Kesehatan Mental

5 Tips Mengatasi Duka Mendalam akibat Kematian Pasangan

September 30, 2020 | Fitri Chaeroni | dr. Debby Deriyanthi
feature image

Kehilangan pasangan atau seseorang yang sangat berharga di hidup kita adalah sesuatu yang sulit bagi semua orang. Mungkin ada yang merasakan dunianya runtuh tiba-tiba.

Sebuah penelitian menyebut, kehilangan pasangan adalah sumber utama stres hidup yang sering membuat orang rentan terhadap masalah di kemudian hari, termasuk depresi, stres kronis, dan berkurangnya harapan hidup.

Jadi, solusi apa bagi seseorang yang menghadapi duka cita karena kehilangan pasangan? Berikut ulasannya!

1. Jangan terlalu keras pada diri sendiri

Saat kehilangan pasangan mungkin kamu akan merasa mati rasa, kaget, patah hati, atau cemas. Kamu mungkin merasa bersalah karena menjadi orang yang masih hidup atau lega karena pasangan tidak lagi menderita. 

Atau bahkan kamu mungkin merasa marah pada pasangan karena meninggalkan kamu. Kamu jadi banyak menangis dan sulit untuk tertawa. Bersiaplah saat teman dan keluarga yang mungkin tidak tahu harus berkata apa, menghindari kamu, atau mencoba menghibur dengan hal-hal klise seperti “dia di tempat yang lebih baik”.

Seringkali, orang yang bermaksud baik merasa tidak nyaman membicarakan kematian, tetapi itu tidak berarti mereka tidak peduli. Jika bisa, beri tahu orang yang terdekat apa yang kamu butuhkan (atau tidak butuhkan). 

Jika kamu ingin orang-orang menghindari menyebut pasangan misalnya, beritahu mereka. Ingatlah bahwa teman dan keluarga kamu juga sedang berduka dan mungkin merasa nyaman untuk berbagi kenangan tentang pasangan.

2. Jaga kesehatan fisik

Perasaan duka dapat berpengaruh pada tubuh dan emosi kamu. Kamu bisa saja jadi tidak nafsu makan atau sulit tidur. 

Cobalah untuk menjaga diri dengan makan dengan baik, berolahraga, dan cukup tidur. Hindari menenggelamkan diri pada kesedihan dengan minum-minum berlebihan, karena itu sebenarnya dapat memperburuk rasa sakit kamu.

Sebuah penelitian menemukan bahwa risiko kematian pasangan yang masih hidup meningkat, terutama dalam tiga bulan pertama kematian. Menjaga kesehatan fisik pada bulan-bulan setelah kehilangan pasangan adalah penting.

Baca Juga : Inilah 5 Jenis Makanan yang Mampu Menunjang Kesehatan Mental Kamu

3. Cari dukungan

Menghadapi rasa duka sendirian pastilah sulit. Mengatasi akibat kehilangan seringkali sangat membuat kesepian dan membingungkan, dan sering kali membuat kamu merasa tertekan.

Kehilangan pasangan juga dikaitkan dengan peningkatan risiko timbulnya sejumlah gangguan kejiwaan yang berbeda. Studi menunjukkan bahwa kurangnya dukungan sosial setelah kehilangan yang tidak terduga adalah prediktor utama depresi.

Maka dari itu penting bagi kamu untuk mencari dukungan dari orang lain yang kamu rasa bisa membantu. Bisa keluarga, sahabat, atau komunitas religius di lingkungan.

4. Sesuaikan kehidupan sosial kamu

Jika kamu dan pasangan sering bergaul dengan pasangan lain, kamu mungkin tidak tahu bagaimana menyesuaikan diri sekarang. Kamu mungkin merasa canggung pergi ke pesta dan acara sendirian.

Beri tahu teman-teman kamu bagaimana perasaan kamu dan jelaskan bahwa kamu mungkin perlu menghindari pesta makan malam dan kumpul-kumpul untuk sementara waktu.

Namun, menjadi lajang juga dapat memberikan kesempatan yang baik untuk mencari teman baru.

Pertimbangkan untuk menjadi sukarelawan atau mengambil kelas kursus untuk memotivasi kamu keluar rumah dan mengejar sesuatu yang bermakna.

5. Konsultasi ke terapis

Sangat normal jika kehilangan pasangan akan membuat kamu sangat sedih dan berduka sangat dalam. Namun, kesedihan begitu mendalam dapat mengganggu kemampuan kamu untuk produktif dalam kehidupan.

Ini dikenal sebagai “kesedihan yang rumit” dan ini memengaruhi sekitar 7 persen orang yang berduka. Tanda-tandanya meliputi:

  • Merasa seolah-olah kamu tidak memiliki tujuan hidup lagi
  • Mengalami kesulitan melakukan aktivitas sehari-hari
  • Terus mengalami perasaan bersalah, atau menyalahkan diri sendiri atas kematian orang yang kamu cintai
  • Berharap kamu juga mati
  • Kehilangan keinginan untuk bersosialisasi

Jika kamu terus mengalami gejala di atas, kamu sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter atau terapis kesehatan mental. Mereka dapat merekomendasikan pilihan pengobatan yang tepat.

Baca Juga : Deteksi Ciri-ciri Remaja Depresi dan Ketahui Bagaimana Peran Orang Terdekat

Tips untuk bantu anak atasi kesedihan karena kehilangan orang tua

Bagi kamu yang sudah memiliki anak, kehilangan pasangan pastinya juga menimbulkan perasaan duka mendalam pada anak-anak kamu. Kematian orang tua bisa sangat sulit bagi anak-anak kecil, yang memengaruhi rasa aman atau kelangsungan hidup mereka.

Seringkali, mereka bingung tentang perubahan yang mereka lihat terjadi di sekitar mereka. Keterbatasan pemahaman dan ketidakmampuan untuk mengungkapkan perasaan menempatkan anak-anak yang masih sangat kecil pada posisi yang kurang menguntungkan. 

Anak-anak kecil mungkin kembali ke perilaku sebelumnya (seperti mengompol), mengajukan pertanyaan tentang almarhum yang tampaknya tidak sensitif, menciptakan permainan tentang kematian atau berpura-pura bahwa kematian tidak pernah terjadi.

Mengatasi kesedihan seorang anak menambah ketegangan pada orang tua yang berduka. Namun, ledakan kemarahan atau kritik hanya memperdalam kecemasan anak dan menunda pemulihan.

  • Berbicaralah dengan jujur ​​kepada anak-anak, dalam istilah yang dapat mereka pahami tentang kematian pasangan kamu
  • Luangkan waktu ekstra untuk berbicara dengan mereka tentang kematian dan orang yang telah meninggal.
  • Bantu mereka mengatasi perasaan sedih mereka

Jaga kesehatan kamu dan keluarga dengan konsultasi rutin bersama mitra dokter kami. Download aplikasi Good Doctor sekarang, klik link ini, ya!

Reference

Verywell Mind. Diakses pada 30 September 2020. Tips for Coping With the Death of a Spouse

Psychology Today. Diakses pada 30 September 2020. Grief, Loneliness, and Losing a Spouse

Mental Health America. Diakses pada 30 September 2020. Bereavement And Grief

    register-docotr