Kesehatan Mental

Jenis-jenis Obat Penenang yang Biasa Direkomendasikan Psikiater, Apa Saja?

February 6, 2021 | Ajeng Dwiri Banyu | dr. Raja Friska Yulanda
no-image

Jenis obat penenang cukup beragam dengan mekanisme kerja yang berbeda. Obat jenis ini dapat menyebabkan depresi sistem saraf pusat atau SSP sehingga penggunaannya harus sesuai resep dokter.

Meskipun obat penenang diresepkan secara legal, namun banyak jenis yang berpotensi untuk disalahgunakan. Nah, untuk mengetahui jenis obat penenang lebih lanjut yuk simak penjelasan berikut!

Baca juga: Dampak Kekerasan pada Anak: Merusak Kesehatan Fisik dan Psikologis

Apa saja jenis obat penenang?

Dilansir Healthline, obat penenang atau sedatif bekerja dengan cara memperlambat aktivitas otak. Dengan demikian, obat ini biasanya digunakan untuk membuat tubuh merasa lebih rileks.

Setelah dilakukan pemeriksaan, dokter dapat meresepkan obat penenang untuk mengatasi masalah mental, termasuk seperti kecemasan dan gangguan tidur.

Produksi dan penjualan obat penenang memiliki aturan tersendiri. Alasannya, obat jenis sedatif dapat memicu kecanduan dan disalahgunakan.

Dikenal juga sebagai obat depresan, sedatif memiliki efek yang menyebabkan tidur sehingga penting untuk menggunakannya sesuai dosis agar tidak kecanduan. Ada tiga kelas utama obat penenang yang perlu diketahui, yakni:

Barbiturat

Jenis obat penenang satu ini bisa diminum sendiri atau bersama dengan anestesi. Barbiturat merupakan depresan SSP nonselektif yang dulunya merupakan pengobatan utama untuk menenangkan pasien atau mendorong dan mempertahankan tidur. 

Terkadang barbiturat digunakan untuk mengobati gangguan kejang.

Benzodiazepin

Dalam pengobatan modern, barbiturat telah digantikan oleh benzodiazepin terutama karena dapat menyebabkan ketergantungan fisik dan gejala putus obat yang serius.

Benzodiazepin juga merupakan jenis obat penenang yang digunakan untuk mengobati kejang, kejang otot, dan kecemasan sebelum prosedur medis.

Obat tidur “Z-drug”

Jenis obat penenang ini bekerja pada reseptor tertentu di sistem saraf pusat, yang disebut BZ1 di mana menjadikan tindakannya sebagai alat bantu tidur tepat sasaran.

Beberapa contoh obat “Z-drug”, termasuk Ambien atau zolpidem, Lunesta atau eszopiclone, dan Sonata atau zaleplon.

Obat ini aksinya cepat dan dianggap sebagai hipnotik karena tidak secara signifikan mengubah berbagai tahap tidur. Halusinasi dan psikosis telah dilaporkan terjadi pada beberapa orang yang menggunakan obat ini, sehingga tidak disarankan untuk pemakaian jangka panjang.

Efek samping obat penenang

Berbagai jenis obat penenang memiliki efek samping jangka pendek dan jangka panjang. Beberapa efek samping yang mungkin segera dirasakan antara lain rasa kantuk, pusing, penglihatan kabur, bernapas lebih lambat, mengalami kesulitan fokus atau berpikir, dan berbicara lebih lambat.

Sementara itu, penggunaan obat penenang jangka panjang dapat menyebabkan efek samping lain.

Beberapa efek samping jangka panjang yang dimaksud, seperti sering lupa atau hilang ingatan, gejala depresi seperti kelelahan dan perasaan putus asa, kerusakan jaringan, hingga memicu kondisi kesehatan mental.

Baca juga: Social Climber Termasuk Gangguan Kejiwaan? Yuk, Simak Penjelasannya

Pastikan untuk mengecek kesehatan kamu dan keluarga secara rutin melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Jaga kesehatan kamu dan keluarga dengan konsultasi rutin bersama mitra dokter kami. Download aplikasi Good Doctor sekarang, klik link ini, ya!

Reference
  1. Everyday Health (2016), diakses 3 Februari 2021. What Are Sedatives?
  2. Healthline (2019), diakses 3 Februari 2021. Everything You Want to Know About Sedatives
  3. Medical Life Sciences (2018), diakses 3 Februari 2021. List of Sedatives
  4. Psychology Today (2019), diakses 3 Februari 2021. Sedatives

    Berita Terkait
    register-docotr