Kesehatan Mental

Social Climber Termasuk Gangguan Kejiwaan? Yuk, Simak Penjelasannya

January 26, 2021 | Ajeng Dwiri Banyu | dr. Pitoyo Marbun
feature image

Social climber cukup terkenal di mana memiliki istilah lain, yakni panjat sosial dan memiliki ciri khas yang cukup terlihat. Masalah ini biasanya dilandasi karena adanya tujuan tertentu dalam suatu lingkaran pertemanan.

Sudah bukan rahasia lagi jika banyak orang yang menjadi social climber sehingga terkadang menyebabkan orang di sekitarnya merasa tidak nyaman. Nah, untuk mengetahui lebih lanjut mengenai social climber yuk simak penjelasannya berikut.

Baca juga: Kapan Seseorang Membutuhkan Konsultasi Psikologi? Yuk Simak Penjelasan Berikut

Apa itu social climber?

Dilansir dari Psychology Dictionary, social climber merupakan upaya seseorang untuk meningkatkan status sosialnya dengan bergaul bersama orang dari kelas yang lebih tinggi.

Dalam pendakian sosial, seseorang biasanya mencoba untuk mengesankan orang-orang dengan kedudukan yang lebih tinggi.

Karena itu, seorang social climber akan berteman dengan orang lain jika menginginkan sesuatu dari status pertemanan tersebut. Misalnya, social climber akan mencari teman yang lebih populer agar terlihat lebih berkelas.

Siklus ini akan terus berlanjut di mana seseorang dengan kebiasaan social climber akan meninggalkan teman lama di belakang jika mendapatkan teman yang lebih baik. Biasanya, social climber lebih sering dilakukan oleh wanita dibandingkan pria.

Bagaimana penelitian tentang social climber?

Setiap individu memiliki kecenderungan untuk meningkatkan kepentingan sosialnya. Seorang mahasiswa Fisika Statistika di SISSA bernama Giancarlo De Luca Ph.D. bersama rekan penulis penelitiannya menyatakan bahwa semua individu adalah social climber.

Social climber tidak bergantung pada masyarakat yang berada dalam fase egaliter atau hierarkis. Karena itu, jumlah individu yang memiliki tujuan social climber biasanya akan menganggap prestise sosial.

Dari situlah disimpulkan bahwa masyarakat yang menampilkan kelas dominan dapat menunjukkan adanya kerinduan pada prestise sosial di kelas lebih rendah. Aspek menarik lain yang ditemukan adalah seorang social climber cenderung bertahan dalam posisi dominan untuk waktu lama.

Ciri-ciri social climber yang perlu diketahui

Sekarang ini, semua orang bisa melihat social climber dengan mudah terutama gaya yang ditampilkan depan umum. Beberapa ciri-ciri social climber yang perlu kamu ketahui, antara lain sebagai berikut:

Berteman karena status sosial

Seorang social climber biasanya akan memilih pertemanan dari status sosialnya. Biasanya, beberapa hal yang dicari dalam memilih teman adalah status jabatan, kekayaan, dan fisik.

Social climber akan mencari teman dari salah satu hal tersebut untuk menaikkan status atau pandangan dirinya dari lingkungan.

Pakar hubungan Irene S Levine Ph.D. dalam artikelnya, Eight Signs a “Friend” Is a Social Climber, menulis sejumlah ciri-ciri yang bisa dikenali dari seorang social climber, yakni:

Terlalu peduli terhadap penampilan

Ciri-ciri social climber atau orang yang panjat sosial adalah terlalu memperdulikan penampilan. Seorang social climber akan berusaha dengan sangat keras agar penampilannya terlihat seperti layaknya orang dari kalangan dengan status yang tinggi.

Misalnya ketika berpakaian, seorang social climber akan memamerkan label desainer dan aksesoris dengan bangga sehingga menarik perhatian.

Penampilan atau gaya tersebut biasanya dibentuk dengan sengaja agar status sosial yang dimiliki terlihat setara atau bahkan lebih tinggi dari orang lain. 

Memilih teman dengan selektif

Seorang social climber biasanya juga berusaha untuk masuk ke dalam lingkaran pertemanan yang diinginkan. Hal ini berarti, dalam memilih teman akan lebih selektif demi mendapatkan pengakuan sosial.

Ketika mengetahui jika orang yang diincar tidak memiliki status sosial tinggi, maka akan langsung ditinggalkan. Orang yang social climber tidak akan menghabiskan waktu untuk berteman dengan lingkungan yang dianggap memiliki status sosial lebih rendah.

Suka memanfaatkan orang lain

Orang yang panjat sosial juga senang memanfaatkan orang lain untuk kepentingannya sendiri. Tak jarang, cara seorang social climber cenderung tidak sopan dan berlebihan saat ingin mendekati targetnya. 

Kurang empati

Seorang social climber biasanya memiliki teman yang sangat banyak, namun hanya sedikit saja yang dikenal secara intim. Secara umum, orang yang panjat sosial cenderung narsistik dan sangat egois. 

Merasa sebagai pemegang kendali

Dalam lingkaran pertemanan, seorang social climber tidak akan ragu untuk membuang, mengganti, dan bahkan mengeluarkan teman dari kelompoknya. Hal ini biasanya dilakukan pada teman yang dianggap merugikan atau tidak membantu meningkatkan status sosialnya.

Baca Juga: Merasa Kesepian Wajar, Tapi Kesepian akibat Depresi Ini yang Harus Diwaspadai

Adakah cara menangani social climber?

Sampai saat ini, social climber belum dapat dikategorikan sebagai gangguan kejiwaan. Hal ini masih dianggap wajar dan pasti ada dalam setiap lingkaran pertemanan.

Namun, perlu diketahui bahwa apapun yang berlebihan adalah hal buruk dan harus segera dihentikan. Krisis gaya hidup dan identitas mungkin menjadi alasan dibalik munculnya social climber dalam masyarakat.

Di dunia yang berubah dengan cepat ini, semua orang merasa ingin diakui lebih tinggi dari status sosialnya. Cara terbaik untuk menangani seorang social climber adalah merangkulnya agar menjadi lebih baik.

Seorang social climber harus dihentikan karena bisa merugikan orang lain. Jika tidak bisa, satu-satunya hal yang bisa dilakukan adalah abaikan dan jauhi karena hanya akan berdampak buruk pada diri sendiri.

Baca juga: Tips Menjaga Kesehatan Mental Selama Liburan Natal dan Tahun Baru

Pastikan untuk mengecek kesehatan kamu dan keluarga secara rutin melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Jaga kesehatan kamu dan keluarga dengan konsultasi rutin bersama mitra dokter kami. Download aplikasi Good Doctor sekarang, klik link ini, ya!

Reference
  1. Psychology Today (2012), diakses 25 Januari 2021. Eight Signs a “Friend” Is a Social Climber
  2. Academi.edu, diakses 25 Januari 2021. Why There Are Social Climbers?
  3. Psychology Dictionary (2013), diakses 25 Januari 2021. SOCIAL CLIMBING
  4. Phys.org (2013), diakses 25 Januari 2021. How to be a social climber: A study reveals the mechanisms of ‘opportunist’ societies
  5. Magdalene.co (2018), diakses 25 Januari 2021. When Your Friends Turn into Social Climbers
    register-docotr