Kesehatan Mental

Dampak Kekerasan pada Anak: Merusak Kesehatan Fisik dan Psikologis

February 2, 2021 | Ajeng Dwiri Banyu | dr. Raja Friska Yulanda
feature image

Dampak kekerasan pada anak tak hanya menyebabkan sakit fisik, tetapi bisa juga merusak kesehatan secara psikologis. Konsekuensi fisik yang akan didapatkan anak, mulai dari cedera ringan hingga kerusakan otak yang parah.

Tak jarang, seorang anak yang mendapatkan kekerasan berpotensi tinggi kehilangan nyawanya. Nah, untuk mengetahui dampak kekerasan pada anak lebih lanjut, yuk, simak penjelasannya berikut. 

Baca juga: Social Climber Termasuk Gangguan Kejiwaan? Yuk, Simak Penjelasannya

Apa dampak kekerasan pada anak?

Dilansir dari Everyday Health, anak-anak yang mengalami pelecehan dan kekerasan lain seringkali tumbuh menjadi orang dewasa dengan masalah kesehatan serius.

Seorang psikolog Heather Gillman di New Paltz, New York, mengatakan bahwa konsekuensi pelecehan bisa fisik, psikologis, perilaku, atau kombinasi ketiganya.

Banyak anak yang mengalami kekerasan oleh orang dewasa, menjadi korban perundungan atau penyerangan kriminal berdampak pada masalah perilaku, emosional, hingga pembelajaran. Paparan kekerasan dapat menyebabkan perubahan fisik yang tersembunyi dalam tubuh anak.

Dampak kekerasan pada anak usia dini juga dapat mengganggu perkembangan otak dan merusak bagian lain dari sistem saraf, sistem endokrin, peredaran darah, pernapasan, dan kekebalan.

Dengan demikian, kekerasan terhadap anak akan berdampak negatif pada perkembangan kognitif dan mengakibatkan rendahnya prestasi pendidikan.

Penelitian yang dipublikasikan secara online pada tahun 2012 menemukan bahwa anak-anak yang menerima kekerasan cenderung mengalami gangguan mood, gangguan kecemasan, dan beberapa gangguan kepribadian saat dewasa. 

Sebuah penelitian yang diterbitkan tahun 2013 pada Proceedings of the National Academy of Sciences menemukan bahwa kekerasan juga membuat anak rentan menderita PTSD.

PTSD sendiri merupakan gangguan stres pasca-trauma yang biasanya dapat memburuk saat anak menjadi lebih dewasa.

Seorang anak yang mengalami kekerasan akan terus merasa takut, cemas, dan tidak aman. Pikiran anak mungkin menjadi selalu waspada dan bertanya-tanya kapan peristiwa kekerasan berikutnya akan terjadi. Karena itu, dampak kekerasan pada anak bisa berbeda-beda sesuai usia, seperti:

Anak-anak prasekolah

Anak kecil yang mendapat perlakuan kasar atau menyaksikan kekerasan mungkin mulai melakukan beberapa hal seperti saat masih kecil. Beberapa di antaranya, yakni mengompol, mengisap jempol, tangisan yang meningkat, dan merengek.

Tak hanya itu, dampak kekerasan pada anak lainnya adalah mengalami kesulitan untuk tidur serta menunjukkan tanda-tanda tremor, seperti gagap dan sering bersembunyi. Anak-anak ini juga akan menunjukkan tanda-tanda kecemasan yang parah.

Anak usia sekolah

Anak-anak pada rentang usia ini mungkin akan merasa bersalah atas kekerasan yang dialami dan menyalahkan diri sendiri. Kekerasan dalam rumah tangga dan pelecehan akan melukai harga diri anak.

Karena itu, anak yang menerima kekerasan seringkali tidak ingin berpartisipasi dalam kegiatan sekolah, memiliki lebih sedikit teman, dan sering mendapatkan masalah. Untuk tanda fisik, anak mungkin akan sering mengeluh sakit kepala dan sakit perut.

Remaja

Remaja yang mendapat perlakuan kasar atau menyaksikan pelecehan dapat bertindak negatif, seperti bertengkar dengan anggota keluarga atau bolos sekolah. Anak usia remaja akan memiliki harga diri yang rendah sehingga sulit untuk berteman.

Anak perempuan lebih mungkin menarik diri dan mengalami depresi daripada anak laki-laki. Kondisi ini dapat mencakup kondisi kesehatan mental lainnya, seperti kecemasan yang berlebihan.

Bisakah anak sembuh dari dampak kekerasan ini?

Setiap anak merespons kekerasan atau trauma lain secara berbeda. Beberapa anak lebih tangguh, tetapi lainnya bisa lebih sensitif. Seberapa berhasil seorang anak dapat memulihkan diri dari trauma bergantung pada beberapa hal, termasuk:

  • Sistem pendukung yang baik atau hubungan baik dengan orang dewasa terpercaya.
  • Memiliki harga diri yang tinggi sehingga bisa pulih dengan cepat.
  • Mendapatkan teman atau persahabatan yang sehat.

Meskipun anak-anak mungkin tidak akan pernah melupakan apa yang dilihat atau dirasakan selama kekerasan. Namun, anak bisa mempelajari cara-cara sehat untuk menangani emosi.

Semakin cepat seorang anak mendapat bantuan, maka semakin besar peluangnya untuk menjadi orang dewasa yang sehat jasmani dan rohani.

Baca juga: Kapan Seseorang Membutuhkan Konsultasi Psikologi? Yuk Simak Penjelasan Berikut

Pastikan untuk mengecek kesehatan kamu dan keluarga secara rutin melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Jaga kesehatan kamu dan keluarga dengan konsultasi rutin bersama mitra dokter kami. Download aplikasi Good Doctor sekarang, klik link ini, ya!

Reference

 

  1. Everyday Health (2016), diakses 28 Januari 2021. How Childhood Abuse Could Impact Your Health
  2. NCBI, diakses 28 Januari 2021. Childhood exposure to violence and lifelong health: Clinical intervention science and stress biology research join forces
  3. WHO (2020), diakses 28 Januari 2021.  Violence against children
  4. Womenhealth.gov, diakses 28 Januari 2021. Effects of domestic violence on children
    register-docotr