Info Sehat

Hari Lupus Sedunia: Pentingnya Deteksi Dini Gejalanya Lebih Awal

May 10, 2022 | Muhammad | dr. Ario W. Pamungkas
feature image

Setiap tanggal 10 Mei diperingati sebagai Hari Lupus Sedunia. Selain meningkatkan kepedulian kepada para pengidapnya, peringatan ini bisa dijadikan sebagai momentum membangun kesadaran diri tentang penyakit tersebut. Salah satunya adalah dengan deteksi dini.

Lantas, bagaimana cara deteksi dini penyakit lupus? Yuk, simak ulasan lengkapnya berikut ini!

Sekilas tentang lupus

Dikutip dari laman Lupus Foundation of America, lupus adalah sebuah gangguan kesehatan kronis yang dapat memicu peradangan hingga nyeri di bagian tubuh mana pun. Masuk kategori penyakit autoimun, lupus terjadi ketika sistem kekebalan tubuh melawan jaringan yang sehat.

Penyakit ini biasanya berdampak pada kulit, sendi, hingga organ dalam seperti ginjal dan jantung. Gejala bisa berbeda-beda pada tiap orang, tergantung pada bagian tubuh mana yang diserang.

Lupus dibedakan menjadi empat jenis, yaitu:

  • Lupus eritematosus sistemik (paling umum)
  • Lupus kulit
  • Lupus yang disebabkan oleh obat tertentu
  • Lupus neonatal, kondisi langka yang terjadi pada bayi dari wanita yang sudah mengidapnya.

Baca juga: Mengenal Penyakit Autoimun: Penyebab, Gejala, dan Pengobatannya

Apa penyebabnya?

Sebagai penyakit autoimun, lupus terjadi ketika ada ketidaknormalan dalam sistem kekebalan. Kemungkinan penyebabnya adalah faktor genetik dan lingkungan.

Lingkungan di sini maksudnya orang yang sebenarnya sudah punya risiko tapi lebih berpotensi lagi terkena lupus karena sejumlah faktor, seperti:

  • Sinar matahari yang bisa menyebabkan lesi kulit atau respons internal
  • Infeksi lain yang bisa memicu lupus
  • Obat-obatan.

Pentingnya deteksi dini

Deteksi dini lupus sangat penting dilakukan. Sebab, jika sudah parah, penanganannya tidak sederhana dan melibatkan banyak dokter bidang keahlian. Tak hanya itu, biaya perawatan juga terbilang mahal dan perlu dilakukan seumur hidup.

Perburukan lupus bisa meningkatkan beberapa risiko komplikasi, seperti:

  • Gangguan ginjal (kerap menjadi penyebab utama kematian pada pasien lupus)
  • Gangguan otak dan sistem saraf pusat
  • Masalah pada pembuluh darah
  • Peradangan pada paru-paru
  • Penyakit jantung
  • Infeksi lain yang melemahkan sistem kekebalan tubuh
  • Kanker
  • Gangguan jaringan tulang
  • Keguguran saat hamil.

Cara deteksi dini lupus

Pada 2018, pemerintah melalui Kementerian Kesehatan menginisiasi program bertajuk SALURI guna mengajak masyarakat lebih peduli terhadap lupus. SALURI sendiri merupakan singkatan dari Periksa Lupus Sendiri.

SALURI dilakukan dengan cara mengecek tanda-tanda atau gejala dari kemunculan lupus, di antaranya:

  • Demam di atas 38 derajat Celcius tanpa penyebab yang jelas
  • Mudah lelah dan lemas berlebihan
  • Sensitif terhadap sinar matahari
  • Kerontokan rambut
  • Muncul ruam kemerahan, terkadang berbentuk kupu-kupu melintang dari hidung ke pipi
  • Sariawan yang tidak kunjung sembuh, terutama di rongga bagian atas mulut
  • Pembengkakan disertai nyeri di persendian, terutama lengan dan tungkai
  • Ujung jari tangan dan kaki berubah kebiruan saat terpapar udara dingin
  • Nyeri dada ketika berbaring dan menarik napas panjang
  • Kelainan saraf hingga menyebabkan kejang.

Jika kamu mengalami minimal empat gejala dari seluruh tanda-tanda di atas, segera lakukan pemeriksaan lanjutan di puskesmas atau rumah sakit.

Pengidap lupus bisa tetap hidup normal

Orang dengan lupus (khususnya jenis sistemik) bisa tetap hidup secara normal dan melakukan kegiatan harian tanpa hambatan. Caranya adalah sebagai berikut:

  • Hindari aktivitas fisik berlebihan
  • Hindari rokok
  • Hindari stres
  • Perhatikan pola makan
  • Hindari paparan sinar matahari secara langsung, terutama pada pukul 10 pagi hingga 3 sore
  • Hindari pemakaian lampu dengan sinar ultraviolet
  • Hentikan penggunaan alat kontrasepsi atau obat yang mengandung estrogen
  • Minum obat secara teratur
  • Kontrol rutin ke dokter.

Lupus tidak menular!

Tidak sedikit pengidap lupus yang mendapat diskriminasi. Salah satu alasannya adalah karena anggapan bahwa penyakit tersebut bisa menular. Faktanya, lupus adalah penyakit yang tidak menular.

Bahkan, kamu tidak akan tertular lupus melalui hubungan seks atau kontak fisik yang sangat dekat dengan pengidapnya.

Nah, itulah ulasan tentang lupus dan cara melakukan deteksi dini. Jika ada lebih dari tiga gejala yang kamu alami, jangan ragu segera konsultasi dengan dokter, ya!

Konsultasikan masalah kesehatan kamu dan keluarga melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Mitra dokter kami siap memberi solusi. Yuk, download aplikasi Good Doctor di sini!

Sudah punya asuransi keseatan dari perusahaan tempatmu bekerja? Ayo, manfaatkan layanannya dengan menghubungkan benefit asuransi milikmu ke aplikasi Good Doctor! Klik link ini ya.

Reference
  1. Lupus Foundation of America, diakses 10 Mei 2022, What is Lupus?
  2. Mayo Clinic, diakses 10 Mei 2022, Lupus.
  3. Kementerian Kesehatan, diakses 10 Mei 2022, PerikSA LUpus SendiRI (SALURI) – Memahami Program Deteksi Dini Penyakit Lupus Eritematosus Sistemik (LES).
  4. Healthline, diakses 10 Mei 2022, Is Lupus Contagious? Tips for Identification and Prevention.
    register-docotr