Info Sehat

Jangan Diabaikan, Kenali Gejala Saraf Kejepit Sebelum Terlambat!

August 17, 2020 | Putri Prima Soraya | dr. Debby Deriyanthi
feature image

Tidak bisa dipungkiri jika saraf punya peran penting bagi kehidupan kita. Saraf menjadi jembatan komunikasi antara tubuh dengan otak. Salah satu masalah yang kerap terjadi pada saraf adalah saraf kejepit. Gejala saraf kejepit bisa menyebabkan gangguan pada aktivitas sehari-hari.

Abai terhadap gejala saraf kejepit juga bisa membuat kerusakan saraf makin besar dan menyebabkan gangguan kesehatan lainnya.

Apa itu saraf kejepit

Saraf kejepit terjadi ketika tulang atau jaringan lain menekan atau mengganggu saraf. Kondisi ini menimbulkan nyeri berkepanjangan sehingga diperlukan obat untuk meredakannya.

Kondisi saraf kejepit juga bisa menyebabkan kerusakan saraf serius.

Apa saja gejala saraf kejepit?

Saraf kejepit paling banyak dialami kelompok usia produktif. Kelompok ini melakukan aktivitas lebih padat dari kelompok usia lainnya sehingga rentan terkena cedera saraf.

Beberapa gejala saraf kejepit menunjukkan gejala serius yang menyebabkan penderita mengalami nyeri berkepanjangan. Berikut gejala yang banyak dirasakan penderita saraf kejepit:

1. Nyeri leher dan punggung

Gejala pertama yang mengindikasikan saraf kejepit adalah nyeri di bagian leher dan punggung. Kedua bagian tubuh ini adalah titik saraf paling sering terkena cedera.

Saraf terjepit pada leher dan punggung terjadi karena cedera tulang belakang. Rasa nyeri muncul karena ruas tulang belakang bergeser menekan tulang belakang.

2. Nyeri panggul yang menjalar hingga kaki

Saraf di bagian panggul adalah saraf terpanjang dalam tubuh. Saraf ini terhubung dengan saraf di bagian bokong dan kaki.

Maka, nyeri panggul yang menjalar hingga kaki mengindikasikan adanya gangguan saraf. Salah satu kemungkinannya adalah saraf kejepit yang terletak di antara panggul, bokong dan kaki.

3. Mati rasa 

Pada umumnya bagian tubuh yang terdapat saraf kejepit akan mengalami mati rasa. Sensasi ini muncul karena saraf tidak lagi berfungsi normal dan memberi sinyal ke tubuh.

4. Sensasi kesemutan

Sensasi kesemutan adalah kondisi tidak normal pada tubuh. Kesemutan yang diakibatkan saraf kejepit akan menimbulkan rasa seperti tertusuk jarum.

Kesemutan juga ditandai dengan kaku dan lemasnya bagian tubuh dengan saraf kejepit.

5. Kejang otot

Kejang otot adalah kondisi ketika otot mengalami kontraksi dan mengencang secara tiba-tiba. Kondisi ini biasanya berlangsung dalam hitungan menit. Kendati jika menandakan gejala saraf kejepit, kejang otot akan berlangsung beberapa kali.

Mencegah terjadinya saraf kejepit

Apakah kita bisa mencegah saraf kejepit? Jawabannya, tentu saja bisa dengan mengubah pola hidup lebih sehat dan teratur.

Berdasarkan gejala saraf kejepit yang sudah dijelaskan, gangguan kesehatan ini terjadi bukan tanpa sebab. Rasa nyeri, kesemutan, hingga kejang otot umumnya dialami seseorang karena kesalahan posisi tubuh saat beraktivitas.

Maka, untuk mencegahnya kita harus memperhatikan posisi tubuh saat beraktivitas. Ketika bekerja di kantor seharian, cobalah duduk dengan posisi tegak dan gunakan kursi yang nyaman.

Saat menjalani aktivitas berat, luangkanlah waktu untuk beristirahat dan membuat tubuh rileks. Langkah sederhana ini bisa kamu lakukan untuk mengurangi risiko terkena saraf kejepit.

Bagaimana cara mengobati saraf kejepit?

Jenis dan lamanya waktu pengobatan bervariasi tergantung tingkat keparahan yang diderita pasien. Jika belum parah, saraf kejepit dapat diobati hanya dengan beristirahat dan menghindari aktivitas berat.

Jika gejala kejepit saraf terus berlanjut atau justru bertambah parah, pergilah ke rumah sakit untuk mendapat penanganan medis.

Dalam beberapa kasus, pengobatan saraf kejepit dilakukan dengan cara berikut:

1. Konsumsi obat NSAID dan kortikosteroid

NSAID adalah obat antiinflamasi nonsteroid yang terkandung dalam aspirin, ibuprofen, atau naproxen. Obat ini dapat mengurangi pembengkakan saraf akibat kejepit.

Sedangkan obat kortikosteroid dikonsumsi untuk mengurangi nyeri saraf kejepit. Biasanya obat ini direkomendasikan saat kondisi saraf belum parah.

2. Suntik steroid

Suntikan ini dapat mengurangi pembengkakan dan memungkinkan pemulihan saraf yang meradang.

Suntik steroid adalah injeksi atau memasukkan hormon kortisol sintesis. Langkah ini terbukti lebih efektif daripada mengonsumsi obat kartikosteroid.

3. Operasi

Pembedahan mungkin diperlukan untuk kondisi saraf yang lebih parah. Operasi juga baru bisa dilakukan setelah jenis pengobatan lainnya tidak memberi efek menyembuhkan.

4. Terapi fisik

Terapi fisik atau fisioterapi juga dapat mengobati saraf kejepit jika dilakukan secara berkala. Langkah ini mampu mencegah terjadinya cedera lebih lanjut.

Pada umumnya, terapi fisik membantu menguatkan dan meregangkan otot. Peregangan otot ini bisa memulihkan kondisi saraf kejepit kembali normal.

Konsultasikan masalah kesehatan Anda dan keluarga melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Mitra dokter kami siap memberi solusi. Yuk, download aplikasi Good Doctor di sini!

Reference

Medical News Today (2020). Diakses pada 13 Agustus 2020. Causes and treatment of a pinched nerve in the back

Web MD (2018). Diakses pada 13 Agustus 2020. Pinched (Compressed) Nerve

Medicine Net (2019). Diakses pada 13 Agustus 2020. Pinched Nerve (Symptoms, Locations, Causes, Treatment, and Prognosis)

Mayo Clinic (2019). Diakses pada 13 Agustus 2020. Pinched nerve

Whatcom Physical Therapy  (n.d). Diakses pada 13 Agustus 2020.  Five symptoms of a pinched nerve in the shoulder that mean you need treatment

    register-docotr