Info Sehat

5 Penyakit yang Kerap Mengintai Anjing, Ketahui Gejala dan Penanganannya!

January 12, 2022 | Muhammad H. | dr. Ario W. Pamungkas
feature image

Bukan cuma manusia, hewan peliharaan seperti anjing juga bisa terkena penyakit, lho. Penyebabnya dapat bermacam-macam, bisa virus, bakteri, parasit, hingga jamur. Perhatikan gejalanya agar tak telat memberi penanganan.

Lantas, apa saja penyakit yang umum diderita oleh anjing? Yuk, cari tahu jawabannya dengan ulasan berikut ini!

Daftar penyakit pada anjing

Ada beberapa penyakit yang biasa terjadi pada anjing. Mulai dari rabies hingga infeksi jamur. Berikut daftarnya:

Rabies

Rabies adalah penyakit pada anjing yang telah diketahui oleh banyak orang. Penyakit ini disebabkan oleh virus dengan nama yang sama, menyebar lewat air liur, gigitan, atau kontak dengan hewan lain yang telah terpapar.

Pada hewan, rabies biasanya 100 persen berakhir dengan fatal. Sehingga, vaksinasi sangat penting dilakukan sebagai langkah pencegahan. Jika anjing sudah terinfeksi, virus bisa berdampak buruk pada otak dan sumsum tulang belakangnya.

Pada anjing, gejalanya tidak akan langsung muncul, melainkan secara bertahap, seperti perubahan perilaku, agresif (menggigit dan menyerang hewan lain atau orang), demam, mulut berbusa, disorientasi, lemah, dan kejang. Penyakit ini bisa memicu kematian mendadak pada anjing.

Satu-satunya cara untuk menangani anjing yang terkena rabies adalah dengan datang ke dokter hewan. Anjing harus diasingkan dan dicegah untuk berkumpul dengan hewan atau orang lain karena bisa melukai dan menularkan penyakit.

Leptospirosis

Bukan hanya manusia, anjing juga bisa terserang leptospirosis, lho. Penyakit ini disebabkan oleh infeksi bakteri dengan nama yang sama, berasal dari urine beberapa hewan, terutama tikus dan hewan pengerat lain.

Bakteri masuk ke air atau tanah lalu bertahan di sana berminggu-minggu hingga berbulan-bulan. Leptospirosis sering terjadi di daerah tropis. Pada anjing, gejalanya bisa berupa demam, muntah, nafsu makan menurun, dan mata merah.

Pada kasus yang parah, anjing bisa mengalami gagal ginjal, perdarahan paru-paru, hingga dampak fatal berupa kematian. Leptospirosis dapat diobati dengan antibiotik. Terapi hidrasi dan dialisis juga biasanya bisa membantu.

Jika dirawat sejak awal, anjing peliharaan kemungkinan bisa pulih lebih cepat serta risiko kerusakan organ parah dapat diminimalkan.

Baca juga: Musim Hujan Tiba, Waspadai Penularan Penyakit Leptospirosis!

Infeksi giardia

Penyakit ini adalah infeksi Giardia, parasit yang biasanya hidup di air, makanan, atau tanah yang telah terkontaminasi oleh kotoran manusia atau hewan lain. Giardia sendiri menyebar melalui medium yang telah disebutkan, bisa dialami oleh anjing.

Anjing yang mengalami infeksi Giardia biasanya menunjukkan gejala diare, dehidrasi, hingga feses yang bercampur dengan minyak. Dikutip dari VCA Haospital, obat yang biasa digunakan untuk mengatasi penyakit ini adalah fenbendazole dan metronidazole.

Dua obat tersebut umumnya diberikan selama tiga hingga 10 hari. Jika perlu, kedua obat itu bisa diberikan secara bersamaan atau kombinasi.

Infeksi parasit cacing

Infeksi cacing bisa menjangkiti anjing melalui kontak dengan tanah atau pasir yang terkontaminasi. Anjing yang biasa bermain di tempat berpasir sangat rentan terserang penyakit ini.

Cacing tambang bisa menembus kulit atau lewat mulut, biasanya mudah ditemukan di daerah tropis. Perlu diketahui, anak anjing juga dapat terinfeksi sebelum lahir lewat susu induknya (kolostrum).

Pada anjing, gejalanya bisa berupa tinja berwarna gelap dan disertai darah, anemia, serta penurunan berat badan. Infeksi parasit cacing yang parah bisa menyebabkan kematian.

Infeksi cacing tambang pada anjing membutuhkan intervensi dokter hewan. Obat cacing diberikan biasanya lewat oral dengan sedikit efek samping. Sayangnya, obat-obatan umumnya hanya bisa membasmi cacing dewasa.

Baca juga: Penyakit Zoonosis di Indonesia: Ketahui Cara Penularan dan Hewan Perantaranya

Infeksi jamur

Ada sejumlah infeksi jamur yang bisa menyebabkan penyakit pada anjing, di antaranya Blastomycosis, Histoplasmosis, dan Criptococcosis. Jamur bisa menginfeksi ketika anjing makan atau mengendus tanah yang terkontaminasi atau melalui kontak kulit yang ada luka.

Gejalanya berupa demam, batuk, lesu, hingga seperti flu. Gangguan pencernaan juga bisa terjadi. Anjing dengan sistem kekebalan rendah sangat rentan terinfeksi.

Penanganannya bisa dengan obat antijamur, baik berupa salep, pembersih telinga, atau obat oral (flukonazol, terbinafine, ketonazol, dan itrakonazol).

Nah, itulah lima penyakit yang bisa menyerang anjing beserta tanda-tandanya. Jika sudah menunjukkan gejala, segera datangi klinik atau dokter hewan, ya!

Konsultasi lengkap seputar COVID-19 di Klinik Lawan COVID-19 dengan mitra dokter kami. Yuk, klik link ini untuk download aplikasi Good Doctor!

Sudah punya asuransi kesehatan dari perusahaan tempatmu bekerja? Ayo, manfaatkan layanannya dengan menghubungkan benefit asuransi milikmu ke aplikasi Good Doctor! Klik link ini, ya.

Reference

  1. Centers for Disease Control and Prevention (CDC), diakses 12 Januari 2022, Dogs.
  2. Centers for Disease Control and Prevention (CDC), diakses 12 Januari 2022, Treatment in Pets.
  3. American Society for the Prevention of Cruelty to Animals (ASPCA), diakses 12 Januari 2022, Common Dog Diseases.
  4. American Veterinary Medical Association (AVMA), diakses 12 Januari 2022, Disease risks for dogs in social settings.
  5. American Kennel Club, diakses 12 Januari 2022, Understanding Hookworms in Dogs.
  6. PetMD, diakses 12 Januari 2022, How to Treat Yeast Infections in Dogs.
  7. VCA Hospital, diakses 12 Januari 2022, Rabies in Dogs.
  8. VCA Hospital, diakses 12 Januari 2022, Giardia in Dogs.

    register-docotr