Covid-19

WHO Sarankan Penderita Gangguan Sistem Kekebalan Mendapat Booster Vaksin COVID-19

October 13, 2021 | Dewi Nurfitriyana | dr. Ario W. Pamungkas
feature image

Orang dengan sistem kekebalan yang lebih lemah harus menerima suntikan tambahan vaksin COVID-19. Hal ini disampaikan oleh kelompok penasihat Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), pada Senin (11/10).

Rekomendasi tersebut muncul setelah the Strategic Advisory Group of Experts (SAGE), mengadakan pertemuan selama 4 hari untuk membahas imunisasi.

Laporan akhir terkait hal ini akan dikeluarkan pada Desember mendatang. Berikut adalah penjelasan lebih lengkap mengenai rekomendasi pemberian booster tersebut.

Baca juga: Apakah Memakai Masker di Dalam Rumah Efektif Cegah COVID-19?

Apa itu vaksin booster?

Dilansir dari Hopkins Medicine, secara sederhana vaksin booster dapat diartikan sebagai dosis tambahan vaksin. Umumnya seseorang akan menerimanya setelah kekebalan dari dosis vaksin awal secara alami mengalami penurunan.

Pada dasarnya vaksin booster juga dirancang untuk membantu membuat tingkat kekebalan yang sudah terbangun menjadi bertahan lebih lama.

Dalam hal pemberian vaksin COVID-19, secara khusus tubuh penderita gangguan kekebalan diketahui sering gagal memicu respons imun pada pemberian vaksin wajib yang standar. Hal serupa juga sering terjadi pada orang dewasa yang lebih tua.

Inilah yang mendorong para ahli untuk kemudian merekomendasikan pemberian vaksin booster kepada kedua kelompok tersebut.

Tujuan pemberian vaksin booster pada penderita autoimun

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, seiring dengan berjalannya waktu efek perlindungan yang dihasilkan tubuh setelah menerima vaksin COVID-19 dapat mengalami penurunan.

Fakta tersebut merupakan salah satu alasan yang mendorong SAGE, untuk meninjau semua data global tentang pentingnya pemberian vaksin COVID-19 tambahan pada kelompok-kelompok tertentu.

Hasilnya SAGE merekomendasikan agar orang dengan gangguan kekebalan sedang dan berat harus dianjurkan untuk menerima dosis tambahan dari semua vaksin COVID-19 yang telah disetujui WHO.

Alasannya karena kondisi tubuh mereka cenderung tidak merespons vaksinasi wajib yang standar secara memadai. Hal ini sangat rentan membuat mereka terkena penyakit COVID-19 yang parah jika tidak diberikan vaksin booster.

Orang berusia 60 tahun ke atas juga disarankan hal yang sama

Anjuran pemberian vaksin COVID-19 tambahan juga diberikan kepada orang berusia 60 tahun ke atas yang menerima vaksin Sinovac maupun Sinopharm.

Alasannya karena meski vaksin Sinopharm dan Sinovac telah diberikan sebanyak dua kali, keduanya terbukti bekerja kurang baik pada kelompok usia yang lebih tua. Ini disampaikan oleh Joachim Hombach, sekretaris panel ahli independen WHO.

Untuk jenis vaksinnya, booster yang dianjurkan adalah jenis vaksin yang sama dengan yang telah diberikan sebelumnya. Kendati begitu, para ahli menambahkan bahwa penggunaan vaksin lain juga dapat dipertimbangkan tergantung pada pasokan dan akses yang tersedia.

Terkait untuk waktu pemberian, para ahli menganjurkan sekitar 3 bulan setelah orang lanjut usia tersebut melengkapi jadwal pemberian vaksinnya.

Pemberian booster diharapkan mampu memberikan perlindungan optimal

Hombach mengatakan bahwa penambahan dosis ketiga dapat memberikan respons kekebalan yang kuat. Dengan begitu, diharapkan efek perlindungan yang tercipta juga akan semakin baik.

Hal yang sama juga disampaikan oleh Direktur Vaksin WHO, Kate O’Brien. Ia mengatakan bahwa memberikan dosis booster kepada orang yang telah mendapat manfaat dari respons primer diibaratkan seperti mengenakan dua jaket pelampung pada individu tersebut.

Dalam hal ini, yang dimaksud tentu adalah orang yang mengalami gangguan kekebalan.

Booster menjadi salah satu strategi untuk mencapai herd immunity

Indonesia telah melaksanakan program vaksinasi nasional sejak Januari 2021. Tujuan program vaksinasi COVID-19 yakni memvaksin setidaknya 70 persen populasi penduduk di Indonesia untuk mewujudkan kekebalan komunitas atau lebih dikenal dengan herd immunity.

Adapun pemberian vaksin booster termasuk ke dalam salah satu upaya untuk mencapai tujuan tersebut. Hal ini disampaikan oleh Wakil Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI), Slamet Budiarto, dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi IX, Rabu (25/8).

Meski begitu, pemberian booster bukan satu-satunya cara untuk mencapai kekebalan komunitas. Satu hal yang tetap perlu dilakukan adalah masyarakat harus tetap patuh protokol kesehatan agar terhindar dari penyebaran mutasi virus SARS-CoV-2 yang mungkin saja terjadi.

Baca juga: COVID-19 Munculkan Varian Baru, Efektifkah Vaksin saat Ini?

Konsultasi lengkap seputar COVID-19 di Klinik Lawan COVID-19 dengan mitra dokter kami. Yuk, klik link ini untuk download aplikasi Good Doctor!

Reference

News.UN.org diakses pada 13 Oktober 2021

WHO.int diakses pada 13 Oktober 2021

Hopkins Medicine diakses pada 13 Oktober 2021

University of Michigan diakses pada 13 Oktober 2021

CDC diakses pada 13 Oktober 2021

COVID19.go.id diakses pada 13 Oktober 2021

Detik Health diakses pada 13 Oktober 2021

Asia One diakses pada 13 Oktober 2021

    register-docotr