Covid-19

Studi Terbaru: Vaksin AstraZeneca Tidak Menyebabkan Penggumpalan Darah

June 13, 2021 | Nik Nik Fadlah | dr. Debby Deriyanthi
feature image

Penggumpalan darah adalah salah satu efek samping yang dilaporkan terkait dengan penggunaan vaksin AstraZeneca. Akan tetapi, studi terbaru dari Skotlandia menunjukkan bahwa vaksin ini tidak menyebabkan penggumpalan darah.

Untuk mengetahui fakta selengkapnya simak ulasannya di bawah ini, yuk!

Baca juga: Viral! 18 Hand Sanitizer di Singapura Ditarik karena Diduga Berbahan Kimia Tinggi

Sekilas mengenai vaksin AstraZeneca

Vaksin AstraZeneca merupakan salah satu vaksin yang digunakan untuk mencegah COVID-19. Vaksin yang berasal dari Inggris ini bekerja dengan cara mempersiapkan tubuh untuk mempertahankan diri dalam melawan COVID-19.

Vaksin AstraZeneca terdiri dari virus lain, yakni adenovirus yang telah dimodifikasi untuk mengandung gen yang digunakan untuk membuat spike protein dari virus penyebab COVID-19, yakni SARS-CoV-2.

Ini adalah protein pada permukaan virus yang dibutuhkan oleh virus untuk masuk ke dalam sel tubuh.

Setelah vaksin diberikan, vaksin akan mengirimkan gen SARS-CoV-2 ke dalam sel-sel dalam tubuh. Sel kemudian akan menggunakan gen untuk menghasilkan spike protein. Sistem kekebalan tubuh kemudian akan mengenali protein ini sebagai benda asing.

Kemudian, sistem kekebalan akan menghasilkan antibodi dan mengaktifkan sel T atau sel darah putih untuk menyerangnya. Jika dikemudian hari, seseorang terinfeksi virus SARS-CoV-2, sistem kekebalan akan mengenalinya dan siap mempertahankan tubuh untuk melawannya.

Penting untuk diketahui bahwa adenovirus dalam vaksin tidak dapat bereproduksi, sehingga tidak akan menyebabkan penyakit.

Vaksin AstraZeneca dan penggumpalan darah

Sebuah penelitian mengenai efek samping setelah vaksinasi dengan vaksin AstraZeneca di Skotlandia hanya menemukan hubungan dengan kondisi perdarahan yang sebagian besar tidak berbahaya. Ini tidak ada kaitannya dengan penggumpalan darah pada otak.

Dikutip dari laman New Scientist, analisis terhadap orang yang menerima dosis pertama vaksin Oxford/AstraZeneca atau Pfizer/BioNTech mengungkapkan peningkatan sedikit risiko dari kondisi perdarahan autoimun yang dikenal sebagai immune thrombocytopenic purpura (ITP).

Pada ITP, sistem kekebalan dapat menghancurkan trombosit. Kondisi ini dapat menyebabkan memar ringan atau perdarahan secara berlebihan. Sebab, jumlah keping darah atau trombosit yang rendah.

Diperkirakan ini hanya terjadi pada 11 orang untuk setiap 1 juta orang yang menerima dosis pertama vaksin. Menurut peneliti, yakni Aziz Sheikh dari University of Edinburgh dan rekannya mengatakan bahwa risiko tersebut penting untuk diperhatikan, namun jarang terjadi.

Baca juga: Benarkah Orang yang Terinfeksi COVID-19 Setelah Vaksinasi, Alami Gejala Lebih Ringan?

Manfaat vaksin lebih besar dibandingkan risikonya

Tak hanya itu, para peneliti juga menekankan bahwa temuan tersebut perlu dipahami dalam konteks manfaat yang jelas dari vaksin AstraZeneca.

Risiko terjadinya efek samping serius terkait dengan vaksin jauh lebih rendah jika dibandingkan dengan penyakit serius yang disebabkan oleh COVID-19, utamanya bagi orang lanjut usia (lansia) atau populasi rentan lainnya.

Meskipun demikian, penelitian lebih lanjut yang melibatkan orang yang berusia muda untuk memberikan tanggapan terhadap dosis kedua vaksin tetap diperlukan.  

European Medicines Agency (EMA) sendiri juga menyatakan bahwa kejadian gabungan antara penggumpalan atau pembekuan darah dan trombosit darah yang rendah dilaporkan jarang terjadi.

Di samping itu, EMA juga mengatakan bahwa manfaat keseluruhan vaksin dalam mencegah COVID-19 lebih besar jika dibandingkan dengan risiko efek sampingnya.

Studi mengenai vaksin AstraZeneca dan penggumpalan darah

Sebagai informasi, studi tersebut meneliti kasus perdarahan terkait vaksin dan kondisi peredaran darah di antara 2,53 juta orang dewasa di Skotlandia yang menerima dosis pertama vaksin antara Desember 2020 dan April 2021.

Para peneliti menemukan bahwa pada partisipan, vaksin AstraZeneca dikaitkan dengan sedikit peningkatan risiko ITP hingga 27 hari pascavaksinasi.

Di sisi lain, tidak ada data yang cukup untuk menentukan apakah terdapat hubungan antara vaksin AstraZeneca dan cerebral venous sinus thrombosis (CVST), yakni suatu kondisi langka di mana gumpalan darah terbentuk di otak.

Sementara itu, tidak ada bukti peningkatan risiko efek samping terkait dengan vaksin Pfizer. Uji klinis menunjukkan bahwa baik vaksin Pfizer maupun AstraZeneca dapat ditoleransi dengan baik, meskipun terdapat beberapa laporan mengenai efek samping.

Itulah beberapa informasi mengenai vaksin AstraZeneca dan kaitannya dengan penggumpalan darah. Untuk memutus mata rantai penyebaran COVID-19, jangan lupa selalu terapkan protokol kesehatan, ya.

Konsultasi lengkap seputar COVID-19 di Klinik Lawan COVID-19 dengan mitra dokter kami. Yuk, klik link ini untuk download aplikasi Good Doctor!

register-docotr