Covid-19

Stres Akibat Pandemi Bisa Picu Herpes Zoster, Benarkah Demikian?

April 10, 2021 | Fitri Chaeroni | dr. Pitoyo Marbun
feature image

Meskipun sudah sembuh dari cacar air, tahukah kamu bahwa virus pemicunya akan tetap berada di tubuh kamu dan dapat muncul kembali sebagai penyakit herpes zoster?

Ya, bahkan belakangan terdapat temuan bahwa stres saat pandemi dapat membuat herpes zoster ini rentan muncul.

Apa itu herpes zoster?

Herpes zoster adalah infeksi virus yang menyebabkan ruam dan terasa nyeri. Meskipun herpes zoster dapat terjadi di bagian tubuh mana saja, gejalanya paling sering muncul sebagai lepuh garis tunggal yang ‘membungkus’ sisi kiri atau kanan badan kamu.

Penyakit ini disebabkan oleh virus varicella-zoster (VZV), yakni virus yang sama yang menyebabkan cacar air. Setelah kamu sembuh dari cacar air, virus tidak aktif di jaringan saraf di dekat sumsum tulang belakang dan otak.

Bertahun-tahun kemudian, virus dapat aktif kembali sebagai herpes zoster. Herpes zoster bukanlah kondisi yang mengancam jiwa, tetapi bisa sangat mengganggu. Bahkan setelah ruamnya hilang, rasa sakitnya bisa berlanjut selama berbulan-bulan.

Kasus herpes zoster di tengah pandemi COVID-19

Tak bisa dipungkiri kondisi pandemi dapat menyebabkan stres dan menjadi masa sulit bagi banyak orang. Penelitian dalam jurnal Innovations in Clinical Neuroscience menemukan bahwa stres, peristiwa kehidupan yang penuh tekanan, dan depresi mungkin berkontribusi pada wabah herpes zoster.

Meskipun koinfeksi COVID-19 dan herpes zoster jarang dilaporkan, sebuah studi kasus baru menunjukkan bahwa munculnya virus varicella-zoster laten mungkin disebabkan oleh respons inflamasi terhadap COVID-19.

Dalam studi kasus yang diterbitkan dalam European Journal of Neurology, seorang pria imunokompeten berusia 39 tahun dengan COVID-19 ringan, mengalami infeksi herpes zoster di sisi kiri wajahnya.

Dia melaporkan menderita cacar air saat kecil tetapi tidak memiliki riwayat infeksi berulang atau oportunistik atau penggunaan obat-obatan penekan kekebalan.

Hubungan COVID-19 dan herpes zoster

Dalam kasus ini, para dokter membuat hipotesis bahwa infeksi COVID-19 mungkin merupakan faktor pemicu stres. Reaktivasi herpes zoster memengaruhi ganglion sensorik dan saraf kutaneus.

Peneliti lain juga mencatat bukti badai sitokin yang dihasilkan dari COVID-19 yang parah, dan bahkan dalam kasus yang relatif tanpa gejala, ada kemungkinan bahwa virus tersebut dapat mendorong aktivasi kembali VZV.

Melansir Medicine Net, stres juga bisa melemahkan sistem kekebalan tubuh. Penelitian telah menunjukkan bahwa orang yang mengalami stres psikologis yang signifikan lebih rentan terhadap infeksi, daripada mereka yang tidak sedang stres.

Untuk alasan ini, stres juga dapat memicu terjangkitnya herpes zoster pada beberapa orang.

Baca Juga : Kenali Ciri-ciri Herpes Zoster Mulai Sembuh agar Bisa Memutus Rantai Penularan

Gejala herpes zoster

Gejala herpes zoster biasanya hanya muncul pada sebagian kecil area pada bagian tubuh. Nyeri biasanya merupakan gejala pertama herpes zoster. Bagi beberapa orang, ini bisa menjadi intens.

Tanda dan gejala herpes zoster di antaranya:

  • Nyeri, terbakar, mati rasa atau kesemutan
  • Kulit terasa lebih sensitif untuk disentuh
  • Ruam merah yang dimulai beberapa hari setelah nyeri
  • Lepuh berisi cairan yang pecah dan mengeras
  • Gatal

Bahkan beberapa orang juga dapat mengalami gejala tambahan lain seperti demam, sakit kepala, sensitif terhadap cahaya, hingga kelelahan.

Paling umum, ruam herpes zoster terlihat seperti garis lecet pada sisi kiri atau kanan badan. Terkadang ruam herpes zoster terjadi di sekitar satu mata atau di satu sisi leher atau wajah.

Apakah herpes zoster menular?

Seseorang dengan herpes zoster dapat menularkan virus varicella-zoster kepada siapa saja yang tidak kebal terhadap cacar air.

Ini biasanya terjadi melalui kontak langsung dengan luka terbuka ruam herpes zoster. Setelah terinfeksi, orang tersebut akan terkena cacar air, bukan herpes zoster.

Baca Juga : 5 Jenis Obat Herpes Zoster untuk Cacar Ular, Berikut Daftarnya!

Cara mengatasi herpes zoster

Jika kamu mengalami gejala munculnya herpes zoster, segera hubungi dokter atau penyedia layanan kesehatan terdekat untuk penanganan yang tepat.

Saat ini belum ada obat untuk herpes zoster, tetapi pengobatan yang tepat dengan obat antivirus resep dapat mempercepat penyembuhan dan mengurangi risiko komplikasi.

Obat-obatan yang biasanya digunakan untuk mengatasi herpes zoster di antaranya:

  • Asiklovir (Zovirax)
  • Famciclovir
  • Valacyclovir (Valtrex)

Dokter juga mungkin akan meresepkan obat lain apabila kamu merasakan gejala tambahan seperti rasa sakit yang parah. Obat yang digunakan biasanya:

  • Patch topikal capsaicin (Qutenza)
  • Antikonvulsan, seperti gabapentin (Neurontin)
  • Antidepresan trisiklik, seperti amitriptyline
  • Agen pengurang rasa, seperti lidokain, diberikan melalui krim, gel, semprotan, atau penutup kulit
  • Suntikan termasuk kortikosteroid dan anestesi lokal

Herpes zoster umumnya berlangsung antara dua dan enam pekan. Kebanyakan orang terkena herpes zoster hanya sekali, tetapi mungkin saja mendapatkannya dua kali atau lebih. Jangan tunda cek ke dokter, ya!

Konsultasi lengkap seputar COVID-19 di Klinik Lawan COVID-19 dengan mitra dokter kami. Yuk, klik link ini untuk download aplikasi Good Doctor!

Reference

Drug Topics. Diakses pada 9 April 2021. COVID-19 and Herpes Zoster

Pharmacy Times. Diakses pada 9 April 2021. Researchers Investigate Coinfection of COVID-19, Herpes Zoster

Medicine Net. Diakses pada 9 April 2021. Can Stress Cause Shingles?

Mayo Clinic. Diakses pada 9 April 2021. Shingles

Boston Children’s Hospotal. Diakses pada 9 April 2021. Herpes Zoster (Shingles) Symptoms & Causes

    register-docotr