Covid-19

Riset Terbaru: Virus COVID-19 Bisa Bertahan Hingga 72 Jam di Pakaian, Ini Fakta-faktanya!

February 26, 2021 | Ajeng Dwiri Banyu | dr. Debby Deriyanthi
feature image

Penularan virus COVID-19 umumnya cepat terjadi, terutama jika berada di dalam ruangan tertutup dengan sirkulasi yang buruk. Salah satu faktor penyebab lainnya adalah karena virus dapat berdiam di media tertentu, seperti pakaian untuk waktu lama.

Virus dapat berpindah dari media satu ke media lain tanpa disadari sehingga kewaspadaan perlu ditingkatkan. Nah, untuk mengetahui benarkah virus COVID-19 dapat bertahan di pakaian, yuk, simak penjelasan berikut.

Baca juga: Tips Aman Gunakan Toilet Umum selama Pandemi COVID-19

Apakah benar virus COVID-19 bisa bertahan di pakaian?

Sebuah penelitian menemukan, COVID-19 dan jenis virus serupa lainnya dapat bertahan hidup di pakaian dan menyebar hingga 72 jam.

Riset di De Montfort University (DMU) di Leicester mengamati bagaimana virus corona meninggalkan jejak pada tekstil dalam industri perawatan kesehatan. Para peneliti menemukan bahwa jejak itu dapat tetap menular hingga tiga hari.

Dipimpin oleh ahli mikrobiologi Dr. Katie Laird, ahli virologi Dr. Maitreyi Shivkumar dan peneliti postdoctoral Dr. Lucy Owen, penelitian ini melibatkan penambahan tetesan model virus corona yang disebut HCoV-OC43.

Virus ini memiliki struktur dan pola kelangsungan hidup yang sangat mirip dengan SARS-CoV-2. Para ilmuwan kemudian memantau kestabilan virus pada setiap materi selama 72 jam. 

Hasil penelitian menunjukkan bahwa poliester memiliki risiko tertinggi untuk penularan virus. Setelah tiga hari dapat berpindah ke permukaan lain.

Sementara itu, pada 100 persen kapas, virus dapat bertahan selama 24 jam dan polycotton hanya bertahan selama 6 jam.

Bagaimana kata peneliti mengenai penemuan tersebut?

Kepala Kelompok Penelitian Penyakit Menular di DMU, Dr. Katie Laird mengatakan ketika pandemi pertama kali dimulai masih sangat sedikit pemahaman tentang berapa lama virus corona dapat bertahan hidup pada tekstil.

Menurut Katie, tiga tekstil yang paling umum digunakan dalam perawatan kesehatan bisa menimbulkan risiko penularan virus.

Apabila perawat atau petugas kesehatan membawa pulang seragam maka bisa meninggalkan jejak virus di permukaan lain.

Menanggapi masalah ini, Public Health England atau PHE menerbitkan panduan yang menyatakan bahwa pencucian seragam petugas kesehatan harus ketat. Namun, jika tidak memungkinkan maka petugas kesehatan harus membawa pulang seragam untuk dicuci.

Sebagai tanggapan, Dr. Katie menyarankan pemerintah bahwa semua seragam perawatan kesehatan harus dicuci di rumah sakit dengan standar komersial atau oleh binatu industri.

Sejak masalah tersebut, kemudian mulai terbit tinjauan pustaka yang diperbarui untuk mengevaluasi risiko tekstil dalam penularan penyakit.

Cara pencucian pakaian yang terkontaminasi virus

Setelah mengetahui COVID-19 bisa bertahan 72 jam pada tekstil, riset beralih ke metode pencucian yang andal untuk menghilangkan virus.

Untuk itu, sejumlah tes mulai dilakukan pada seragam perawatan kesehatan yang menggunakan 100 persen kapas.

Para ilmuwan melakukan tes dengan menggunakan suhu air dan metode pencucian berbeda. Termasuk mesin cuci rumah tangga, mesin cuci industri, mesin cuci rumah sakit, dan ozon atau bahan yang sangat reaktif gas.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa efek agitasi dan pengenceran air di semua mesin cuci yang diuji cukup untuk menghilangkan virus.

Namun, ketika tim peneliti mengotori tekstil dengan air liur buatan yang mengandung virus ditemukan bahwa mesin cuci rumah tangga tidak sepenuhnya menghilangkan virus. 

Ketika menambahkan deterjen dan meningkatkan suhu air, virus baru benar-benar lenyap. Sedangkan terkait toleransi virus terhadap panas, COVID-19 tetap stabil di air hingga 60 derajat Celcius tetapi dinonaktifkan pada 67 derajat Celcius.

Selanjutnya, tim peneliti juga melihat risiko kontaminasi silang yakni dengan menempatkan pakaian bersih di tempat pencucian yang sama dengan pakaian dengan jejak virus.

Peneliti menemukan jika semua sistem pencucian dapat menghilangkan virus dan tidak ada risiko barang-barang lainnya terkontaminasi.

Baca juga: Penelitian Terbaru: Obat Inhaler Budesonide Dapat Kurangi Keparahan COVID-19 Hingga 90 Persen!

Konsultasi lengkap seputar COVID-19 di Klinik Lawan COVID-19 dengan mitra dokter kami. Yuk, klik link ini untuk download aplikasi Good Doctor!

Reference
  1. Thejournal.ie (2021), diakses 25 Februari 2021. Covid-19 can survive on clothing for up to 72 hours, study shows
  2. De Montfort University Leicester (2021), diakses 25 Februari 2021. Research shows coronavirus can survive on healthcare uniforms for three days
    register-docotr