Covid-19

Mengenal Anosmia: Salah Satu Gejala COVID-19 yang Patut Diwaspadai

July 16, 2020 | Nanda Hadiyanti | dr. Ario W. Pamungkas
no-image

World Health Organization (WHO) dan Centers for Disease Control and Prevention (CDC) telah mencantumkan gejala anosmia atau kehilangan kemampuan penciuman sebagai salah satu gejala COVID-19 yang patut diwaspadai.

Hal ini ditambahkan dengan gejala paling umum COVID-19 yang lain, yaitu demam tinggi lebih dari 38 derajat celcius, batuk kering dan juga sesak napas. Selain itu, gejala lain juga bisa dialami, misalnya seperti sakit badan, kelelahan, sakit kepala, diare dan juga perubahan warna jari tangan atau kaki.

Seberapa bahayakah gejala anosmia pada tubuh? Bagaimana anosmia menjadi salah satu gejala COVID-19? Yuk, simak ulasan di bawah ini!

Anosmia dan gejala COVID-19

Kedua kondisi ini disebut-sebut saling berkaitan karena pemberitaan bahwa adanya sejumlah pasien positif COVID-19 yang mengalami anosmia sebagai gejalanya.

Seperti dikutip dari situs Covid19.go.id, sekitar 30 persen pasien positif COVID-19 di Korea Selatan mengalami anosmia, terutama yang mengalami gejala ringan.

Selain itu anosmia juga disinggung menjadi salah satu gejala COVID-19 pada sebuah penelitian yang dipublikasikan oleh jurnal Nature Medicine pada 11 Mei 2020.

Namun, tak berarti semua yang mengalami anosmia pasti terkait dengan COVID-19. Faktanya, gejala ini terjadi karena disebabkan gangguan kesehatan lainnya. Simak lebih lanjut informasinya di bawah!

Apa itu anosmia?

Kehilangan kemampuan indra penciuman. Sumber foto: https://www.hms.harvard.edu

Anosmia adalah kehilangan kemampuan indra penciuman yang umumnya terjadi saat lapisan hidung mengalami iritasi. Anosmia bisa berlangsung sementara, namun dapat juga terjadi secara permanen pada seseorang.

Penyebab anosmia

Seperti yang sudah disebutkan bahwa kondisi ini biasanya terjadi saat lapisan hidung mengalami iritasi. Ada banyak hal yang bisa menyebabkan iritasi tersebut. Salah satunya yakni penyumbatan pada hidung.

Selain itu, anosmia juga bisa terjadi karena adanya masalah sistem yang mengirimkan sinyal dari hidung ke otak. Beberapa kondisi lain yang menyebabkan munculnya gejala ini adalah:

  • Infeksi sinus
  • Merokok
  • Influenza
  • Alergi hidung yang menyebabkan peradangan
  • Penyumbatan kronis yang tidak berhubungan dengan alergi

Dalam banyak kasus, anosmia akan hilang dengan sendirinya dan hanya bersifat sementara.

Penyebab lainnya

Di luar penyebab yang sudah disebutkan di atas, anosmia juga bisa terjadi karena kasus tertentu, seperti adanya polip hidung, tumor dan juga kelainan tulang di dalam hidung atau yang disebut septum hidung.

Bisa juga disebabkan oleh terjadinya kerusakan otak atau saraf yang berpengaruh pada indra penciuman. Ada banyak kondisi yang dapat menyebabkan kerusakan ini, seperti:

Ada juga yang mengalami anosmia sejak lahir karena masalah genetika, yang umumnya disebut sebagai anosmia bawaan. Namun kasus ini jarang sekali terjadi.

Pemeriksaan dan diagnosis

Dokter akan melakukan pemeriksaan awal untuk memastikan apakah kasus yang dialami pasien merupakan anosmia murni atau terkait penyakit lain.

Jika pasien juga mengalami gejala umum COVID-19 lainnya seperti demam, batuk, nyeri tenggorokan dan sesak, maka mungkin saja pasien terpapar COVID-19.

Namun jika tidak ada kecurigaan COVID-19, dokter akan mencari tahu penyebab terjadinya anosmia. Dokter akan menanyakan riwayat kesehatan pasien dan menanyakan apakah kemampuan penciuman hilang menyeluruh atau hanya pada beberapa bau saja.

Setelahnya, dokter akan meminta pasien melakukan pemeriksaan fisik, bisa berupa CT Scan atau MRI atau juga melakukan rontgen. Jika diperlukan, mungkin juga akan dilakukan rinoskopi.

Pengobatan dan perawatan

Pengobatan anosmia tergantung dari penyebabnya. Dokter akan melakukan sejumlah pemeriksaan sebelum memberikan rekomendasi pengobatan anosmia.

Jika ternyata anosmia disebabkan oleh iritasi pada lapisan hidung, dokter mungkin akan memberikan beberapa pilihan pengobatan seperti:

  • Memberikan resep dekongestan atau antihistamin
  • Menyarankan melakukan semprotan steroid pada hidung
  • Mengonsumsi antibiotik jika disebabkan infeksi bakteri
  • Mengurangi paparan iritasi jika disebabkan oleh alergi
  • Anjuran berhenti merokok

Demikian penjelasan anosmia yang merupakan salah satu gejala dari penyakit COVID-19. Jangan panik jika mengalaminya, mungkin kamu hanya mengalami anosmia biasa yang tidak termasuk dalam kategori penyakit berbahaya.

Namun jika kamu mengalami anosmia disertai gejala umum COVID-19 lainnya seperti demam atau sesak napas, ada baiknya kamu segera memeriksakan diri ke dokter dan melakukan skrining awal.

Pantau perkembangan situasi pandemi di Indonesia melalui situs resmi Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

Konsultasikan masalah kesehatan Anda dan keluarga melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Mitra dokter kami siap memberi solusi. Yuk, download aplikasi Good Doctor di sini!

Reference
  1. WHO diakses 9 Juli 2020 Pertanyaan dan jawaban terkait Coronavirus
  2. CDC diakses 9 Juli 2020 Symptoms of Coronavirus
  3. Mayoclinic.org diakses 9 Juli 2020 Loss of Smell
  4. Healthline diakses 9 Juli 2020 What Is Anosmia?
    Berita Terkait
    register-docotr