Covid-19

Mendapat Dua Suntikan dari 2 Vaksin COVID-19 yang Berbeda, Apakah Aman?

June 15, 2021 | Nanda Hadiyanti | dr. Pitoyo Marbun
feature image

Saat ini ada beberapa jenis vaksin COVID-19 yang digunakan. Di Indonesia sendiri menggunakan tiga, di antaranya yaitu Sinovac, Sinopharm dan Astrazeneca. Setiap orang umumnya akan mendapatkan jenis yang sama divaksinasi pertama dan kedua.

Namun, apakah mungkin mendapatkan vaksin yang berbeda jenis untuk dosis kedua? Meski di Indonesia belum ada pemberian vaksin campur, tapi sebuah studi di Spanyol telah melakukannya. 

Baca Juga: Vaksin Novavax Efektif Lawan Varian COVID-19 Beta, Apakah Benar?

Pencampuran vaksin COVID-19

Pencampuran di sini maksudnya adalah jenis vaksin yang diberikan pada penyuntikan pertama berbeda dengan yang diberikan pada penyuntikan kedua. Seperti yang dilakukan pada sebuah uji coba di Spanyol. 

Uji coba tersebut melibatkan lebih dari 600 peserta. Mereka diberi vaksin AstraZeneca dan Pfizer-BioNTech. Detailnya, para peserta menerima vaksin dosis pertama dari AstraZeneca dan dosis kedua dari Pfizer-BioTech. 

Dari uji coba tersebut, didapatkan hasil yang baik. Setelah dua kali pemberian vaksin, terbentuk respons kekebalan tubuh yang kuat terhadap virus SARS-CoV-2 penyebab COVID-19. 

Karena hasil keamanan yang baik, membuat beberapa negara Eropa merekomendasikan mereka yang sudah mendapat dosis pertama vaksin AstraZeneca, bisa mendapatkan vaksin lain di dosis kedua.

“Tampaknya menggunakan vaksin Pfizer meningkatkan respons antibodi secara luar biasa, jika sebelumnya orang tersebut telah menerima vaksin AstraZeneca,” kata Zhou Xing, ahli imunologi di McMaster University di Hamilton, Kanada, dikutip dari Nature

Antibodi yang menguat setelah pencampuran vaksin

Pemberian booster atau suntikan dosis kedua dari Pfizer-BioNTech, nampaknya memicu dan menyentak sistem kekebalan peserta yang sebelumnya mendapatkan vaksin dosis pertama dari AstraZeneca. 

Setelah pemberian vaksin campuran ini, peserta terlihat menghasilkan tingkat antibodi yang jauh lebih tinggi daripada sebelumnya. 

Kabar baiknya lagi, dalam tes laboratorium antibodi yang terbentuk ini mampu mengenali dan menonaktifkan SARS-CoV-2. Kabar baik ini didapati dari Magdalena Campins, seorang peneliti CombivacS di Rumah Sakit Universitas Vall d’Hebron di Barcelona, ​​Spanyol. 

Bahkan menurut Zhou Xing, antibodi orang yang mendapat dosis kedua dari Pfizer, setelah dosis pertamanya dari AstraZeneca, memiliki antibodi yang lebih kuat daripada yang dihasilkan kebanyakan orang yang mendapatkan dua dosis AstraZeneca.

Tapi, sebagai catatan, hasil tersebut hanya dari jenis-jenis yang disebutkan. Karena hasil pencampuran dari jenis lain belum diketahui dan tidak bisa juga dibandingkan dengan hasil antibodi yang terbentuk dari pemberian vaksin lengkap lainnya.

Strategi mencampur vaksin

Hasil baik berupa penguatan antibodi itulah yang diharapkan oleh para peneliti. Karena hasil yang baik, teknik pencampuran ini dikenal sebagai heterologous prime dan booster, ini mulai diujicobakan di beberapa tempat lainnya, seperti Inggris.

Uji coba tersebut melibatkan lebih dari 800 peserta. Hingga kini, data yang tersedia belum berupa hasil keamanan lengkap. Namun dapat dikatakan bahwa dari pencampuran vaksin itu, didapatkan hasil reaksi sistemik yang meningkat. 

Reaksi sistemik adalah salah satu reaksi yang mungkin muncul setelah vaksinasi. Biasanya berupa demam, nyeri otot seluruh tubuh (myalgia), nyeri sendi (arthralgia), merasa lemas dan sakit kepala.

Kembali ke ujicoba, catatan hasil reaksi sistemik yang meningkat ini diperoleh dari data peserta yang berusia 50 tahun ke atas. Reaksi sistemik mungkin lebih tinggi pada kelompok usia yang lebih muda. 

Ini dapat dijadikan catatan, walau sebelum diketahui pemberian vaksin campur dapat menguatkan antibodi, tapi di sisi lain, juga bisa memiliki kelemahan jangka pendek, seperti reaksi sistemik yang lebih tinggi. 

Baca Juga: Waspada! Gangguan Pendengaran Jadi Salah Satu Gejala COVID-19 DELTA

Penggunaan vaksin yang dicampur di masa depan

Meski begitu, penggunaan vaksin campur ini masih mungkin digunakan di masa mendatang. Menurut Daniel Altmann, seorang ahli imunologi di Imperial College London, dilansir dari Natura, pencampuran vaksin itu adalah hal yang mungkin dan masuk akal.

Tetapi, yang muncul kemudian adalah pertanyaan tentang apakah diperlukan dosis ketiga untuk memperpanjang kekebalan atau untuk melindungi dari varian baru?

Selain itu dibutuhkan juga data dan penelitian lanjutan untuk mengetahui efek vaksin lain yang digunakan secara bersama. Misalnya penggunaan Moderna yang dicampur dengan Novavax.

Menurut The Lancet, saat ini sedang berlangsung ujicobanya, namun masih harus menunggu hasil dari pencampuran vaksin tersebut.

Jika ditanya, apakah boleh mendapat vaksin yang dicampur? Sementara ini jawabannya adalah beberapa jenis vaksin terbukti bisa dicampur dan dapat menghasilkan antibodi yang lebih kuat.

Konsultasi lengkap seputar COVID-19 di Klinik Lawan COVID-19 dengan mitra dokter kami. Yuk, klik link ini untuk download aplikasi Good Doctor!

register-docotr