Covid-19

Hati-hati, Konsumsi Obat Sembarangan Tingkatkan Risiko Infeksi ‘Jamur Hitam’

June 6, 2021 | Nik Nik Fadlah | dr. Pitoyo Marbun
feature image

Infeksi jamur hitam atau mukormikosis di India belakangan ini tengah menjadi perhatian. Pasalnya, infeksi jamur ini dikabarkan menyerang pasien maupun penyintas COVID-19.

Namun, infeksi jamur tersebut juga dikatakan dapat memengaruhi seseorang yang mengonsumsi obat secara sembarangan. Bagaimana fakta selengkapnya? Simak di sini.   

Baca juga: Gunakan Kotoran Sapi untuk Cegah COVID-19 Warga India Terpapar Infeksi Jamur Hitam

Mengenal mukomikosis

Mukomikosis (black fungus) adalah jenis infeksi jamur. Pada dasarnya, ini jarang terjadi namun dapat berlangsung serius.

Dikutip dari laman Healthline, infeksi ini cenderung paling sering terjadi jika seseorang memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah akibat suatu penyakit atau kondisi medis tertentu.

Perlu diketahui bahwa mukormikosis dapat muncul memengaruhi sistem pernapasan atau memengaruhi kulit. Adapun gejala terkait sistem pernapasan dapat termasuk:

  • Batuk
  • Demam
  • Sakit kepala
  • Hidung tersumbat

Sementara itu pada infeksi kulit, mukormikosis dapat mememgaruhi bagian tubuh manapun. Pada awalnya mungkin terjadi di satu lokasi yang terpengaruh, namun dapat dengan cepat menyebar ke area lain. Berikut ini beberapa gejala lain dari mukormikosis yang memengaruhi kulit:

  • Jaringan kulit menghitam
  • Lepuh
  • Kemerahan pada kulit
  • Pembengkakan
  • Timbulnya luka

Penyebab mukormikosis

Mukormikosis disebabkan oleh sekelompok jamur yang dikenal sebagai mucormycetes dan sering kali memengaruhi sinus, paru-paru, kulit, atau bahkan otak. Jamur tersebut biasanya ditemukan di tanah, tanaman, serta pupuk kandang.

Seseorang dapat terinfeksi mukormikosis dengan menghirup spora jamur di udara. Ketika ini terjadi, ini dikenal sebagai paparan sinus atau paru, yang mana dapat menyebabkan infeksi di sistem saraf pusat, mata, wajah, paru-paru, dan sinus.

Jamur juga dapat menginfeksi kulit melalui luka. Dalam kasus ini, luka di kulit menjadi area yang terinfeksi.

Infeksi jamur hitam dan COVID-19

Perlu diketahui bahwa infeksi jamur ini bukan hanya menginfeksi pasien COVID-19 saja, melainkan juga seseorang yang pernah terpapar COVID-19 dan mereka yang kerap mengonsumsi sembarang obat.

Pada pasien COVID-19 dengan kategori berat terjadi gangguan sistem kekebalan tubuh yang berlangsung serius dan berisiko mengalami infeksi jamur sistemik atau di seluruh tubuh.

Kewaspadaan terkait dengan hal tersebut harus terus ada, bahkan sekalipun jika pasien telah dinyatakan sembuh atau pasca COVID-19.

Infeksi jamur mukormikosis pada pasien COVID-19 dikatakan terjadi akibat gangguan atau menurunnya sistem imun. Tak hanya itu, diabetes mellitus dan gula darah tidak terkontrol juga menjadi faktor risiko.

Centers for Disease Control and Prevention (CDC) sendiri juga mencatat bahwa mukormikosis sering kali memengaruhi seseorang dengan kondisi medis tertentu.

Baca juga: Titer Antibodi COVID-19, Perlukah Diukur?

Keterkaitan antara kortikosteroid dan infeksi jamur

Penting untuk diketahui bahwa pemakaian obat kortikosteroid serta antiinflamasi dalam jangka waktu yang lama juga dapat menjadi pemicu infeksi jamur.

Perlu juga diketahui bahwa jamur akan mudah melawan sistem kekebalan tubuh akibat pemakaian obat-obatan tersebut tanpa pengawasan dari dokter. Kortikosteroid atau yang sering disingkat sebagai steroid adalah jenis obat antiinflamasi.

“Teman-teman mungkin pernah ketemu orang beli deksametason sendiri sementara menjadi pasien isolasi mandiri. Ini tidak boleh dikerjakan,” jelas Ahli penyakit infeksi dari Departemen Parasitologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), dr Anna Rozaliyani, MBiomed, SpP(K) seperti dikutip dari Viva.

Obat-obatan kortikosteroid umumnya dikonsumsi oleh pasien yang menjalani isolasi mandiri, sebab obat tersebut dianggap dapat meredakan gejala yang terjadi. Meskipun demikian, penggunaannya juga dianggap menjadi pemicu infeksi jamur yang terjadi di India.

Adakah keterkaitan lainnya?

Sebelumnya memang disebutkan bahwa infeksi jamur hitam berkaitan dengan penggunaan steroid untuk mengobati COVID-19.

Dikutip dari laman BBC, steroid dapat mengurangi peradangan di paru-paru dan dapat membantu mencegah kerusakan organ yang terjadi akibat sistem kekebalan tubuh bekerja secara berlebihan untuk melawan virus corona.

Namun, steroid juga dapat menurunkan kekebalan dan meningkatkan kadar gula darah baik pada penderita diabetes maupun bukan penderita diabetes yang mengalami COVID-19. Diperkirakan penurunan kekebalan tesebut memicu mukormikosis.

Jikapun memang terpaksa untuk menggunakan kortikosteroid, ini tidak boleh digunakan secara sembarangan. Sebaiknya, berkonsultasilah terlebih dahulu pada dokter. Hal ini dilakukan untuk menghindari efek samping yang mungkin saja dapat terjadi.

Itulah beberapa informasi mengenai keterkaitan antara penggunaan obat dan infeksi jamur hitam. Untuk memutus mata rantai penyebaran COVID-19, jangan lupa selalu terapkanlah protokol kesehatan, ya.  

Konsultasi lengkap seputar COVID-19 di Klinik Lawan COVID-19 dengan mitra dokter kami. Yuk, klik link ini untuk download aplikasi Good Doctor!

Reference

Aljazeera (20201). Diakses pada 04 Juni 2021. India: Dirty oxygen cylinders, ventilators behind ‘black fungus’? 

BBC (2021). Diakses pada 04 Juni 2021. Mucormycosis: The ‘black fungus’ maiming Covid patients in India 

Centers for Disease Control and Prevention (2021). Diakses pada 04 Juni 2021. Mucormycosis 

Cleveland Clinic (2020). Diakses pada 04 Juni 2021. Corticosteroids 

Healthline (2017). Diakses pada 04 Juni 2021. Mucormycosis

Viva (2021). Diakses pada 04 Juni 2021. Asal Minum Obat Warung, Infeksi ‘Jamur Hitam’ Mengintai

Webmd (2021). Diakses pada 04 Juni 2021. Mucormycosis: What to Know

    register-docotr