Covid-19

Cenderung Tak Menimbulkan Keluhan, Apa Saja Gejala COVID-19 Varian Delta Plus AY.4.2?

November 23, 2021 | Dewi Nurfitriyana | dr. Ario W. Pamungkas
feature image

Tak bisa dipungkiri penurunan jumlah kasus COVID-19 di Tanah Air akhir-akhir ini membuat sebagian orang mulai mengendurkan protokol kesehatannya.

Padahal ancaman pandemi masih terus berlangsung dan entah kapan akan berakhir. Apalagi kemunculan sub varian Delta Plus atau AY.4.2 masih terdeteksi dan bisa menyebar dengan begitu cepat.

Ya, meski gejala yang ditimbulkan varian ini terbilang lebih ringan, tapi itu bukan berarti kamu boleh lengah dalam menghadapinya. Ayo kenali apa saja gejala COVID-19 varian Delta Plus AY.4.2 lewat ulasan di bawah ini.

Baca juga: Waspada Mutasi COVID-19 Delta Plus yang Menyerang Inggris, Apakah Lebih Berbahaya?

Apa itu virus COVID-19 AY.4.2?

Sejak muncul di akhir 2019, virus COVID-19 telah mengalami beberapa kali mutasi. Berdasarkan jurnal yang diterbitkan NCBI, setidaknya telah ada 11 varian dari virus tersebut yang terdeteksi sampai dengan saat ini.

Salah satunya adalah varian Delta Plus yang sempat menyebar dengan cepat di Inggris dan di India. Varian ini terdeteksi dalam dua versi yakni Delta AY.1 dan AY.2, dan keduanya sama-sama dinamakan Delta Plus.

Meski berisiko lebih minim menyebabkan kasus COVID-19 bergejala, namun varian ini tetap harus diwaspadai. Ini karena infeksi Delta Plus terus tumbuh sebesar 2,8 persen per hari, dan bisa menyebar hingga 10 sampai 15 persen lebih cepat dibandingkan varian Delta lainnya.

Gejala varian Delta Plus

Dilansir dari Mirror.co,uk, sebuah studi yang diterbitkan di Imperial College London, menyatakan bahwa 66,7 persen kasus infeksi varian AY.4.2 menimbulkan gejala. Ini lebih rendah dibandingkan jumlah kasus varian Delta sebelumnya, yang berkisar pada angka 76,4 persen.

Penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa sepertiga dari kasus COVID-19 akibat sub varian ini menunjukkan gangguan indra penciuman, perasa, demam, serta batuk yang terus menerus. Jumlahnya mencapai 46,3 persen dari total kasus infeksi COVID-19 akibat varian Delta sebelumnya.

Gejala varian Delta Plus memang memiliki kemiripan dengan COVID-19 versi asli. Dilansir dari Yale Medicine, umumnya orang yang divaksinasi tidak menunjukkan gejala atau menunjukkan gejala yang sangat ringan jika mereka tertular varian Delta.

Christl Donelly, pengajar di Imperial College London mengatakan bahwa ini adalah kasus di mana orang harus benar-benar bergejala, baru melakukan tes untuk memastikan mereka telah terinfeksi. Oleh karena itu, penting mengurangi kontak penderita yang tidak bergejala dan (bisa) memfasilitasi penularan.

Bagaimana cara mengenali gejala varian Delta Plus?

Pertama-tama kamu perlu memiliki informasi lengkap tentang apa saja gejala sub varian ini untuk bisa mengenalinya. Ini akan dengan mudah membantu kamu mengetahui apakah kamu terinfeksi virus Delta Plus atau tidak.

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, beberapa gejala varian Delta Plus adalah batuk kering, kelelahan, atau demam. Adapun gejala parah dari varian ini mungkin termasuk sesak napas, atau sakit perut.

Untuk lebih memastikan lagi, kamu perlu melakukan tes dan berkonsultasi kepada tenaga kesehatan profesional.

Apakah vaksin bekerja efektif pada sub varian ini?

Dengan sangat sedikit kasus yang terdeteksi sejauh ini, masih terlalu dini untuk menentukan apakah vaksin yang saat ini diberikan efektif melawan mutasi ini.

Namun, sangat disarankan untuk mendapatkan vaksinasi sedini mungkin untuk mengurangi risiko terkena gejala berat saat ternfeksi varian Delta Plus.

Jangan lupa untuk mengikuti protokol kesehatan dengan ketat, termasuk menjaga jarak sosial, mencuci tangan dengan pembersih tangan, memakai masker, dan keluar rumah hanya jika diperlukan.

Belum bisa dipastikan Delta Plus AY.4.2 minim gejala

Masih terlalu dini untuk menyimpulkan bahwa sub-varian ini berisiko minim dalam menyebabkan infeksi COVID-19 bergejala. Mengingat ada banyak faktor yang berperan dalam menyebabkan situasi tersebut.

Misalnya usia pasien yang masih muda bisa saja membuat ia cenderung tidak mudah jatuh sakit saat terinfeksi varian Delta Plus. Atau kondisi penderita yang telah divaksinasi lengkap, membuat mereka tidak menunjukkan gejala yang signifikan meski telah terinfeksi virus tersebut.

Oleh karena itu, Profesor Paul Elliott, profesor epidemiologi dan kedokteran kesehatan masyarakat di Imperial College London mengatakan, bahwa ia dan rekan-rekannya tidak yakin mengapa varian AY.4.2 memiliki kemungkinan menyebabkan infeksi yang kurang bergejala.

Kendati demikian, fakta ini tetap menunjukkan bahwa sub varian Delta Plus berisiko lebih menular karena penderitanya cenderung tidak bergejala.

Baca juga: Mengenali Beda Ruam Kulit Biasa dengan Gejala COVID-19

Konsultasi lengkap seputar COVID-19 di Klinik Lawan COVID-19 dengan mitra dokter kami. Yuk, klik link ini untuk download aplikasi Good Doctor!

Reference

NCBI diakses pada 23 November 2021

Yale Medicine diakses pada 23 November 2021

UC Davis diakses pada 23 November 2021

Imperial College London diakses pada 23 November 2021

MNPNRC.org diakses pada 23 November 2021

Fortisbangalor diakses pada 23 November 2021

Mirror.co.uk diakses pada 23 November 2021

I News diakses pada 23 November 2021

    register-docotr