Covid-19

Benarkah Penyintas COVID-19 Lebih Kebal Terhadap Mutasi Virus Baru?

January 22, 2021 | Nik Nik Fadlah | dr. Pitoyo Marbun
no-image

Virus corona terus bermutasi dan membuat masyarakat khawatir. Bahkan disebutkan juga bahwa mutasi virus corona Afrika Selatan dinilai lebih menular.

Akan tetapi, seseorang yang pernah terinfeksi alias survivor COVID-19 dikatakan lebih kebal pada mutasi virus ini. Lantas, benarkah demikian?

Untuk mengetahui informasi lebih lanjut mengenai mutasi virus COVID-19 dan kekebalan tubuh, simak ulasan lengkapnya di bawah ini!

Baca juga: Hindari Infeksi COVID-19, Begini Tips Aman Ketika Menggunakan Fasilitas Umum!

Sekilas mengenai mutasi virus corona Afrika Selatan

Semua virus, termasuk virus penyebab COVID-19 dapat bermutasi. Perubahan genetik ini terjadi ketika virus membuat salinan baru untuk berkembang.

Varian baru virus corona di Afrika Selatan muncul di sekitar waktu yang sama dengan varian virus corona di Inggris, dan sejak itu telah terdeteksi di 20 negara. Varian baru virus corona yang ditemukan di Afrika Selatan ini disebut dengan 501Y.V2.

Mengutip BMJ, varian ini memiliki kesamaan dengan varian virus corona di Inggris dan Brazil karena mengandung mutasi spike protein N501Y dan E484K, serta dianggap lebih menular.

Meksipun demikian, hingga saat ini masih belum ada bukti yang menunjukkan bahwa virus yang bermutasi dapat menyebabkan gejala yang lebih serius.

Benarkah penyintas COVID-19 dapat lebih kebal pada mutasi virus corona?

Melansir Reuters, menurut para ilmuwan, infeksi sebelumnya virus corona mungkin saja menawarkan sedikit perlindungan terhadap varian baru yang diidentifikasi pertama kali di Afrika Selatan.

Varian 501Y.V2 telah diidentifikasi oleh ahli genomik Afrika Selatan pada akhir tahun lalu. Ini memicu gelombang kedua infeksi COVID-19 di Afrika Selatan, yang mana mencapai puncak harian baru pada angka di atas 21 ribu kasus awal bulan ini.

Di sisi lain, mutasi virus di Afrika juga dianggap 50 persen lebih menular dibandingkan dengan varian sebelumnya.

Salim Abdool Karim, seorang ahli epidemiologi di Afrika Selatan mengatakan bahwa studi serum penyembuhan menunjukkan antibodi alami kurang efektif, namun data yang diterima saat ini menunjukkan varian baru tidak lebih parah.

Apakah mutasi virus memengaruhi cara kerja vaksin?

Para ahli mencatat salah satu konsekuensi dari varian baru yang muncul adalah kemampuan untuk menghindari kekebalan alami atau kekebalan yang dibuat oleh vaksin.

Dr. Simon Clarke, seorang ahli mikrobiologi sel di University of Reading mengatakan bahwa varian virus Afrika Selatan memiliki sejumlah mutasi tambahan, termasuk perubahan pada beberapa spike protein virus yang mengkhawatirkan. Demikian seperti dikutip BBC.

Spike protein ini digunakan oleh virus corona untuk masuk ke dalam sel manusia.

Lebih lanjut, Dr. Clarke juga mengatakan bahwa varian baru tersebut menyebabkan perubahan yang lebih luas pada spike protein dibandingkan dengan varian yang ditemukan di Inggris, dan mungkin membuat virus kurang rentan terhadap respons kekebalan yang dipicu oleh vaksin.

Meskipun demikian, penelitian masih dilakukan untuk memastikan efetivitas vaksin terhadap varian baru virus corona ini.

Baca juga: Meski Sudah Vaksin COVID-19, Masih Harus Pakai Masker Sampai 4 Tahun Lagi?

Infeksi ulang virus COVID-19

SARS-CoV-2 adalah jenis virus corona baru dan pertanyaan mengenai kekebalan tubuh pun menjadi hal yang penting. Meskipun demikian, masih belum dapat dipastikan apakah infeksi sebelumnya dapat memberikan kekebalan terhadap infeksi ulang.

Dikutip dari laman BMJ, sebuah studi yang dilakukan oleh Public Health England menunjukkan bahwa antibodi memberikan perlindungan sebesar 83 persen terhadap infeksi ulang COVID-19 dalam periode 5 bulan.

Di seluruh dunia, tercatat sebanyak 31 kasus yang telah dikonfirmasi dan dicatat sebagai infeksi ulang. Namun, angka tersebut belum dapat dijadikan sebagai acuan. Sebab, mungkin saja terdapat kasus infeksi ulang yang belum dilaporkan.

Apakah infeksi ulang varian baru virus corona dapat terjadi?

Pada kasus SARS-CoV-2 varian B.117 yang pertama kali ditemukan di Inggris, virus ini telah terbukti lebih mudah ditularkan dibandingkan dengan varian sebelumnya, yang mana memicu gelombang baru pembatasan di Inggris.

Meskipun demikian, Paul Hunter seorang profesor kedokteran di University of East Anglia mengatakan bahwa seberapa besar kemungkinan hal tersebut meningkatkan infeksi ulang masih belum diketahui.

Akan tetapi, ia berasumsi bahwa infeksi ulang akan lebih mudah terjadi dengan strain baru karena peningkatan dalam jumlah infeksi.

Kemunculan varian virus corona baru Brazil, yakni P1, dilaporkan dapat menghindari respons kekebalan manusia yang dipicu oleh varian sebelumnya. Hal ini menunjukkan bahwa infeksi ulang mungkin saja dapat terjadi.

Mutasi virus yang berasal dari Brazil tersebut dapat melakukan sebanyak 17 kali mutasi yang juga dapat mengubah spike protein, yang bertugas menempel ke sel manusia.

Itulah beberapa informasi mengenai mutasi baru virus corona. Sebagai langkah memutus mata rantai penyebaran COVID-19, jangan lupa untuk selalu menerapkan protokol kesehatan, ya.

Punya pertanyaan lebih lanjut seputar COVID-19? Silakan chat kami melalui Aplikasi Good Doctor. Mitra dokter kami siap membantumu dengan akses layanan 24/7. Jangan ragu untuk berkonsultasi, ya!

Reference

BMJ (2021). Diakses pada 21 Desember 2021. What we know about covid-19 reinfection so far 

BMJ (2021). Diakses pada 21 Desember 2021. Covid-19: What new variants are emerging and how are they being investigated? 

BBC (2021). Diakses pada 21 Desember 2021. South Africa coronavirus variant: What is the risk? 

Reuters (2021). Diakses pada 21 Desember 2021. Previous coronavirus infection may offer less protection from new variant 

 

    Berita Terkait
    register-docotr