Covid-19

Bagaimana Kaitan antara COVID-19 dengan Penyakit Parkinson?

April 28, 2021 | Nik Nik Fadlah | dr. Pitoyo Marbun
feature image

Pada awal kemunculannya COVID-19 dilaporkan menyerang sistem pernapasan. Namun saat ini, COVID-19 juga diketahui dapat memengaruhi organ lain, seperti jantung, ginjal, kulit, atau bahkan otak.

Bahkan, pada laporan yang diterbitkan di The Lancet Neurology pada 27 November 2020 melaporkan bahwa hingga 65 persen pasien COVID-19, mengalami gejala yang mirip dengan kondisi lain, yakni penyakit Parkinson.

Penyakit Parkinson sendiri adalah kelainan sistem saraf progresif yang memengaruhi gerakan. Untuk mengetahui fakta selengkapnya mengenai kaitan antara COVID-19 dan penyakit Parkinson, simak ulasannya di bawah ini.

Baca juga: Mengenal Alat Tes COVID-19 Buatan Indonesia, Bagaimana Tingkat Keakuratannya?

Mengenal penyakit Parkinson

Penyakit Parkinson merupakan kondisi neurologis. Gejala yang ditimbulkan bisa muncul secara perlahan, dan berkembang seiring dengan waktu. Gemetar atau tremor, kekakuan, masalah dengan keseimbangan, berjalan, atau koordinasi adalah beberapa gejala yang dapat ditimbulkan.

Perlu kamu ketahui bahwa kondisi ini memengaruhi otak. Hal ini menyebabkan penderita Parkinson mengalami masalah pada memori, gangguan tidur, hingga kelelahan. Kondisi ini disebabkan oleh kerusakan pada sel saraf yang bertanggung jawab untuk mengontrol gerakan.

Namun, terdapat faktor lain yang dikatakan juga bisa menyebabkan kondisi ini, termasuk tingkat dopamin atau norepinefrin rendah.

Kondisi lain yang hampir mirip, dikenal sebagai parkinsonisme. Pada kasus parkinsonisme, gejalanya mirip dengan penyakit Parkinson, namun gejala yang ditimbulkan lebih atipikal.

Faktor risiko dari penyakit Parkinson

Pada kasus penyakit Parkinson terdapat beberapa faktor risiko, di antaranya adalah:

  • Usia: Penyakit Parkinson jarang memengaruhi orang dewasa yang lebih muda. Biasanya, kondisi ini menyerang usia paruh bayah hingga lanjut usia, risikonya dapat meningkat seiring dengan pertambahan usia.
  • Keturunan: Risiko penyakit Parkinson juga dapat meningkat jika kerabat dekat memiliki kondisi ini.
  • Jenis kelamin: Kondisi ini lebih memengaruhi pria dibandingkan dengan wanita.
  • Paparan racun: Paparan racun, seperti herbisida dan pestisida yang berlangsung terus menerus juga dapat meningkatkan sedikit risiko penyakit parkinson.

Baca juga: Penyakit Parkinson: Ketahui Berbagai Gejala hingga Pencegahannya

Gejala seperti penyakit Parkinson pada kasus COVID-19

Berdasarkan riset yang diterbitkan dalam jurnal The Lancet tersebut, sebanyak tiga orang pasien COVID-19 juga mengalami gejala seperti penyakit Parkinson. Dua orang di antaranya adalah pria yang berusia 45 dan 58 tahun, dan satu wanita berusia 35 tahun.

Mereka melaporkan gerakan tubuh yang melambat disertai dengan kekakuan otot, kejang otot, gerakan mata yang tidak stabil, serta tremor. Di sisi lain, penurunan fungsi sistem jalur dopamin di otak juga ditunjukkan melalui tes pencitraan.

Ketiganya tidak memiliki riwayat keluarga atau tanda-tanda klinis penyakit Parkinson sebelumnya.

Keterkaitan antara COVID-19 dan penyakit Parkinson

Mengenai hal tersebut, peneliti pun mengembangkan beberapa teori terkait mekanisme yang dapat terlibat atas kemunculan gejala mirip penyakit Parkinson pada kasus COVID-19. Peneliti membeberkan hipotesis tersebut dalam jurnal Trends in Neurosciences.

Untuk teori pertama, peneliti menjelaskan bahwa virus penyebab COVID-19, yakni SARS-CoV-2 diketahui dapat menyebabkan komplikasi vaskular di otak ataupun organ lain, dan ini diduga dapat membahayakan atau merusak jalur otak.

Kerusakan tersebut mirip dengan apa yang terjadi selama perkembangan parkinsonisme vaskular.

Berdasarkan laman Parkinson’s Foundation, Parkinson vaskular seringkali disebabkan oleh masalah pembuluh darah di daerah otak yang mengontrol gerakan dan stroke kecil adalah penyebab utamanya.

Kedua, diketahui bahwa terdapat hubungan antara peradangan dengan peningkatan risiko penyakit Parkinson. Peradangan yang disebabkan oleh respons kekebalan terhadap infeksi SARS-CoV-2 berpotensi memicu parkinsonisme.

Kemungkinan lain yang dapat ditimbulkan

Selain dugaan yang sudah disebutkan di atas, penelitian lain juga menunjukkan bahwa beberapa pasien COVID-19 mengalami peningkatan kadar interleukin-6, yakni protein sistem kekebalan serta gangguan pada jalur kynurenine.

Penting untuk diketahui bahwa keduanya merupakan mekanisme yang terkait dengan penyakit Parkinson. Tak hanya itu, sifat neuroinvasif dari virus penyebab COVID-19 juga berkaitan pada hubungan antara COVID-19 dan parkinsonisme.

Peneliti menemukan bahwa ribonucleic acid (RNA) virus di jaringan otak pada pasien COVID-19, menunjukkan bahwa virus tersebut dapat menyerang sel dan jalur otak.

Sementara itu, dari Medical News Today, beberapa penelitian menunjukkan bahwa perkembangan penyakit Parkinson dimulai dari sistem olfaktori, yakni sistem sensori yang berfungsi untuk mencium bau.

Parkinsonisme pada kasus infeksi COVID-19 dapat dikatakan jarang terjadi. Meskipun demikian, para ilmuwan mengatakan bahwa munculnya gejala tersebut dalam kaitannya pada COVID-19 membutuhkan pemahaman lebih lanjut.

Konsultasi lengkap seputar COVID-19 di Klinik Lawan COVID-19 dengan mitra dokter kami. Yuk, klik link ini untuk download aplikasi Good Doctor!

Reference

Kompas.com (2021). Diakses pada 27 April 2021. Memahami Kaitan Covid-19 dengan Penyakit Parkinson 

Mayo Clinic (2020). Diakses pada 27 April 2021. Parkinson’s disease 

Medical News Today (2021). Diakses pada 27 April 2021. Is there a link between COVID-19 and Parkinson’s disease? 

The Lancet Neurology (2020). Diakses pada 27 April 2021. SARS-CoV-2 and the risk of Parkinson’s disease: facts and fantasy 

Parkinson’s Foundation (2012). Diakses pada 27 April 2021. Vascular Parkinsonism 

Trends in Neurosciences (2020). Diakses pada 27 April 2021. Is COVID-19 a Perfect Storm for Parkinson’s Disease? 

NCBI (2019). Diakses pada 27 April 2021. Infectious Etiologies of Parkinsonism: Pathomechanisms and Clinical Implications 

 

    register-docotr