Covid-19

Berapa Lama Antibodi Pasien Sembuh dari COVID-19 Bisa Bertahan?

December 21, 2020 | Fitri Chaeroni | dr. Debby Deriyanthi
feature image

Berapa lama antibodi covid bertahan masih menjadi pertanyaan umum. Hingga 6 Desember lalu, setidaknya lebih dari 500 ribu orang Indonesia tercatat positif COVID-19. Sekitar 474 ribu di antaranya dinyatakan sembuh.

Lalu, apakah orang yang sudah sembuh ini tidak akan bisa terpapar virus corona lagi? Selain itu, berapa lama antibodi covid bertahan pada pasien yang sudah sembuh?

Apa kata penelitian?

Ada penelitian yang sudah mencoba mengulik jawaban dari pertanyaan mengenai berapa lama antibodi covid bertahan. Berikut ulasan mengenai seberapa lama antibodi pasien sembuh COVID-19 bisa bertahan!

Sejauh ini ada beberapa penelitian yang sudah mencoba mencari tahu berapa lama pasien sembuh COVID-19 akan kebal terhadap paparan virus corona.

Namun, beberapa penelitian ini menunjukkan hasil berbeda, mulai dari 1 hingga 6 bulan. Setiap penelitian juga dilakukan dengan skala berbeda untuk mengetahui tes antibodi dan imun pada covid.

1. Penelitian dari Journal Immunity 

Penelitian pertama yang dipublikasikan melalui jurnal Journal Immunity menyebut bahwa orang yang pulih dari kasus COVID-19 yang ringan sekalipun menghasilkan antibodi yang diyakini dapat melindungi tubuh.

Antibodi tersebut diketahui mampu melindungi penderita COVID yang pernah sembuh setidaknya selama 5 hingga 7 bulan, dan dapat bertahan lebih lama.

Tim tersebut telah menguji hampir 30.000 orang di Arizona sejak mereka mulai pada 30 April, tak lama setelah mereka mengembangkan tes darah untuk virus corona.

Meskipun temuan penelitian menjanjikan, para peneliti belum memeriksa untuk melihat apakah ada orang yang mereka uji terpapar virus lagi dan apakah antibodi yang mereka hasilkan cukup untuk melindungi mereka dari infeksi ulang.

Sebelum tes terbaru ini, tim peneliti lain juga pernah melakukan studi serupa yang menunjukkan bahwa antibodi terhadap virus dapat bertahan setidaknya selama 3 bulan.

2. Penelitian National Institutes of Health

Dr. Francis Collins pada NIH Director’s Blog memaparkan 2 penelitian terkait yang salah satunya didanai oleh National Institutes of Health.

Penelitian yang didanai NIH pimpinan Richelle Charles, di Rumah Sakit Umum Massachusetts, Boston, mencari pemahaman yang lebih rinci tentang tanggapan antibodi setelah infeksi SARS-CoV-2.

Setidaknya 343 pasien, yang sebagian mengalami COVID-19 parah yang dan membutuhkan rawat inap menjadi bagian penelitian ini. Dari semua pasien, ditemukan bahwa setiap pasien akan mengembangkan 3 jenis antibodi setelah terserang virus corona.

Mereka menemukan bahwa ketiga jenis muncul sekitar 12 hari setelah infeksi. Ada antibodi bernama IgA dan IgM yang berumur pendek dan menghilang dalam waktu sekitar dua bulan. Dan ada antibodi lain bernama IgG yang tahan lebih lama bahkan hingga empat bulan.

3. Penelitian lain

Selain 2 penelitian di atas, berbagai negara juga mencoba mendalami topik yang serupa. Melansir Reuters, sebuah penelitian yang dilakukan di Irlandia menyebut bahwa tingkat antibodi pasien yang sembuh dari COVID-19 bertahan hingga empat bulan di lebih dari 90 persen pasien.

Studi lain sampai pada kesimpulan yang mirip. Tim yang dipimpin oleh Jennifer Gommerman dan Anne-Claude Gingras dari Universitas Toronto, Kanada, membuat profil tentang tiga jenis respons antibodi yang sama terhadap SARS-CoV-2. 

Mereka membuat profil menggunakan darah dan air liur yang diambil dari 439 orang pasien yang tidak semuanya membutuhkan rawat inap, dan yang telah mengembangkan gejala COVID-19 dari 3 hingga 115 hari sebelumnya.

Tim kemudian membandingkan profil antibodi pasien COVID-19 dengan orang-orang yang negatif COVID-19.

Para peneliti menemukan bahwa antibodi melawan SARS-CoV-2 sudah terdeteksi dalam darah dan air liur. Tingkat IgG memuncak sekitar dua minggu hingga satu bulan setelah infeksi, dan kemudian tetap stabil selama lebih dari tiga bulan.

Kesimpulannya

Dari berbagai penelitian tersebut, pertanyaan tentang berapa lama antibodi covid bertahan akhirnya terjawab.

Beberapa penelitian memang menghasilkan data positif bahwa antibodi pasien bertahan hingga beberapa bulan pasca infeksi. Namun ini belum cukup untuk menghentikan penularan virus corona.

Para ahli mengatakan cara terbaik untuk bertahan dari COVID-19 adalah mengembangkan vaksin yang efektif melawan virus SARS-CoV-2. Vaksin akan membantu kita mengendalikan virus dengan menciptakan kekebalan kawanan (herd immunity).

Kapan antibodi covid terbentuk?

Dilansir dari Medical News Today, antibodi merupakan protein khusus berbentuk Y. Peran dari antibodi sendiri adalah untuk mengenali antigen atau partikel asing yang ada di mikroba, seperti virus.

Setiap antibodi secara khusus mengenali antigen tertentu yang terkait dengan mikroba, mirip mekanisme kunci. Sel kekebalan yang disebut limfosit bertanggung jawab untuk mengenali dan merespons antigen.

Limfosi B menghasilkan antibodi yang kemudian mengikat antigen. Namun, antibodi tidak dapat menembus sel target sehingga limfosit jenis lain yang disebut dengan limfosit T harus menghancurkan mikroba.

Setelah infeksi awal, limfosit B akan mengenali antigen. Jika tubuh bertemu dengan antigen yang sama, maka limfosit B siap untuk membuat antibodi lebih cepat sehingga dapat mencegah infeksi ulang.

Lalu, kapan antibodi covid terbentuk dan apa bisa melindungi infeksi ulang? Untuk mengetahui keberadaan antibodi dan imun pada covid, maka tes antibodi covid perlu dilakukan. Tes antibodi covid positif menunjukkan bahwa orang tersebut pernah menderita COVID-19 di masa lalu.

Dalam kasus COVID-19, dibutuhkan sekitar 1 hingga 2 minggu setelah timbulnya gejala bagi orang untuk mengembangkan antibodi yang dapat dideteksi dalam darah.

Sebuah studi tahun 2020 di Nature Medicine melaporkan bahwa dari 285 peserta mengembangkan antibodi spesifik SARS-CoV-2 dalam 19 hari setelah timbul gejala.

Bisakah antibodi COVID-19 melindungi dari infeksi ulang?

Setelah tes antibodi covid diketahui, penderita yang sudah sembuh juga perlu mengetahui apa antibodi dapat melindungi diri dari infeksi ulang.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit atau CDC menyarankan bahwa belum cukup bukti untuk mengatakan apa antibodi memberikan kekebalan dan melindungi dari infeksi ulang.

Satu penelitian awal pada monyet melaporkan tidak ada infeksi ulang di antara hewan yang terpapar kembali virus corona baru hampir sebulan setelah infeksi pertama.

Meski temuan ini menjanjikan, datanya masih terbatas dan para ilmuwan tidak tahu berapa lama kekebalan akan bertahan.

Dalam kasus korona lain, seperti MERS-CoV dan SARS-CoV, antibodi dapat tetap terdeteksi hingga 3 tahun pasca infeksi. Karena itu, masih diperlukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui imun pada covid.

Bagaimana jika hasil tes antibodi positif palsu?

Dalam beberapa kasus, hasil dari tes antibodi mungkin menghasilkan positif yang palsu. Positif palsu berarti orang tersebut tidak memiliki antibodi meskipun mendapatkan hasil positif.

CDC menyebutkan beberapa orang mungkin menerima positif palsu karena tes antibodi untuk SARS-CoV-2 tidak 100 persen akurat. FDA menyarankan bahwa terkadang tes antibodi kedua mungkin diperlukan untuk mendapatkan hasil yang akurat.

Konsultasi lengkap seputar COVID-19 di Klinik Lawan COVID-19 dengan mitra dokter kami. Yuk, download aplikasi Good Doctor di sini!

register-docotr